FeaturedKABUPATEN SUKABUMI

Melihat Perjuangan Pemuda Pengidap Tumor Ganas Asal Kecamatan Warungkiara (2)

Gara-gara Tumor, Cita-cita Jadi Ustadz Sirna

Penyakit tumor ganas sampai saat ini masih terus menggerogoti Sayuti Karim (22). Remaja asal Kampung Babakanjengkol, RT 03/04, Desa Hegarmanah, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi masih terus berjuang melawan sakitnya supaya segera sembuh. Hal itu karena, dibalik sakit yang dideritanya, karim ini memiliki cita-cita mulia. Ya, ia ingin menjadi guru ngaji atau ustadz di kampung halamannya.

PERLI RIJAL, WARUNGKIARA

Syayuti Karim merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaurada. Setelah lulus sekolah di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Kedung, Kecamatan Warungkiara, putera pasangan almarhum Aan (70) dan Kursiah (65) ini memlihi untuk tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SMP atau MTs. Ia lebih memilih mengaji di Pondok Pesantren (Ponpes) At-Taqwa yang berlamat di Kampung Nyomplong, RT 01/03, Desa Hegarmanah, Kecamatan Warungkiara.

Saat wartawan radarsukabumi ini menyambangi kediamannya, remaja berbadan tinggi itu mengutarakan cita-citanya sejak kecil. Ya, fighter tumor itu memiliki cita-cita kuat menjadi seorang ustadz. Cita-cita itu muncul setelah ia memperhatikan bahwa di kampung halamannya tak ada kiyai atau ustadz yang bisa membina warga. Jika pun ada, harus didatangkan dari kampung lain yang jaraknya sangat jauh.

Demi mencapai keinginannya itu, Karim rela melakukan puasa mutih selama 41 hari. Dengan penuh harap, kecerdasannya bisa meningkat hingga bisa menyerap ilmu-ilmu yang ia pelajari dari guru-gurunya. Alih-alih demikian, Karim malah terserang penyakit maag, karena sebelum puasa pun kondisi gizi dalam tubuhnya kurang baik. “Sebetulnya bukan karena puasa, tetapi memang kondisi gizinya kurang. Ditambah puasanya harus mutih lagi,” kata kakak kandung Karim, Titi Lwstari (35) saat dilongok Radar Sukabumi, belum lama ini.

Sebenarnya, guru ngaji dan keluarganya sudah mengingatkan Karim agar tak melanjutkan puasa mutihnya itu. Namun ia tetap memaksa karena keinginan menjadi ustadz di kampung halamannya itu begitu kuat. “Teman-temannya gak ada yang lulus. Hanya Karim yang bisa menyelesaikan puasa mutih. Tapi kondisi maagnya semakin parah. Setiap kali memasukan makanan, pasti selalu keluar,” bebernya.

Selama 2 tahun ia menderita maag, bahkan enam bulan terakhir, penyakitnya menjalar hingga muncul tumor dan cairan hydrocepalus di kepalanya. “Pertama saya bawa adik saya ini ke Puskesmas dan rumah sakit. Di RSUD R Syamsudin, adik saya dioperasi. Cairan hydrocepalusnya dikeluarkan dan lehernya dipasang selang. Karena Karim sudah tak bisa masuk makanan dan tak bisa meludah,” paparnya.

Sepuluh kali dalam sehari, Titi harus menyedot leher Karim melalui selang yang dipasang untuk membuang air liur dan kotoran. Sedangkan untuk buang air besar (BAB) Karim mengandalkan popok atau tilam karpet di tempat tidurnya.

“Kami ingin sekali Karim segera dioperasi, meskipun dijamin oleh BPJS, tapi untuk biaya transport dan hidup selama di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) kita tak punya,” keluhnya. (*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close