EKONOMI

Bisnis Bridal Makin Menggiurkan, Paket Lengkap Dewiku Salon Sesuai Budget Konsumen

SUKABUMI – Memasuki bulan-bulan baik seperti Safar, Rajab, Syawal dan bulan haji, banyak pasangan di Sukabumi yang hendak melangsungkan pernikahan.

Banyaknya pesta pernikahan di bulan tersebut, berdampak positif bagi pelaku bisnis bridal.

Salah satu tempat yang menyediakan jasa rias dan sewa baju pengantin adalah Dewiku. Salon yang berlokasi di Jalan Aster Blok B2, Perum Tanjung Sari, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi ini selalu kebajiran order di musim nikah.

Saking penuhnya orderan, Dewi selaku pemilik salon membuka cabang keduanya Selabitung Ciracap, Surade, Kabupaten Sukabumi.

“Awalnya buka di rumah di Gunungpuyuh, ternyata dari daerah Surade juga banyak tertarik untuk menyewa jasa saya dan akhirnya dibuka cabang kedua di sana,” terang wanita bernama lengkap Dewi Herlina kepada Radar Sukabumi, kemarin (5/11).

Awalnya ia hanya membuka jasa rias pengantin dan sewa baju saja. Namun, seiring berjalannya waktu, usahanya itu kemudian mulai merambah menjadi wedding organizer (WO).

Selain menyewakan baju dan rias pengantin, pihaknya juga menyediakan sewa jasa fotografer hingga mobil pengantin. Harga ditawarkan mulai Rp15 juta hingga Rp 35 juta.

“Kebanyakan orang enggak mau ribet, pengennya yang lengkap. Makanya kita tawarkan paket itu lengkap dengan fotografer, panggung hiburan, upacara adat sama MC,”jelasnya.

Meski begitu, dirinya tetap menyesuaikan dengan budget konsumen. “Jadi kita sesuaikan juga harganya,”paparnya.

Dewi mengklaim, jika bisnisnya tersebut selalu mengalami perkembangan dari tahun ke tahun seiring perkembangan zaman. Termasuk konsep foto dan pakaian yang diinginkan para pengantin.

Ditanya soal model yang paling diburu para calon pengantin, dia menyebut gaun pengantin panjanglah yang banyak peminatnya. Tetapi bahan dan modelnya saja semakin berinovasi.

“Kalau dulu model khas Sunda, kalau sekarang sedang tren baju pengantin adalah model Barbie, sedangkan pengantin lelakinya model jas,” paparnya.

Meski begitu, soal ukuran baju calon pengantin kerap menjadi kendalanya di lapangan.

“Terkadang terlalu kecil ataupun terlalu besar, biasanya kalau seperti itu bajunya dirimbak lagi jika kebesaran. Nah kalau misalnya sempit, disarankan nyari model lain atau saya biasa beli lagi sesuai ukuran yang dinginkan konsumen,” imbuhnya.

Menyikapi persaingan bisnis bridal, Dewi menilai yang namanya jasa harus bisa menjaga mutu dan hubungan baik dengan konsumen.

“Biasanya kalau bisnis kaya gini, mereka yang ngomong dari mulut ke mulut. Gaun-gaun juga harus diganti, setidaknya satu tahun ada yang dibeli menyesuaikan tren yang berkembang,” pungkasnya. (wdy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close