Mimbar Jumat

KHOLIFAH DAN SYAHWAT KEKUASAAN

Penggalan pragmentasi dialog antara Alla Swt dengan Malaikat,Iblis dan Adam terekam dalam Surat Al Baqoroh yang diawali dengan Warning peringatan untuk tidak lupa manakala Allah Swt ekseskusi Adam a.s yang notabene mahluq lemah manusia didaulat sebagai KHOLIFAH FIL ARDI (Mandataris) dari sebagian kekuasaan Allah Swt untuk mengelola alam fana ini.sontak kebijakan itu menyulut polemik tajam di antara mahluq lain seperti Malaikat dan Iblis.

Bahkan Justru Malaikat yang sejatinya tidak dibekali syahwat duniawi, namun saat dihadapkan dengan kapling kekuasaan.malah yang paling awal interupsi kepada Allah Swt adalah para malaikat dengan mengatakan :

Apakah tidak keliru Gusti mendaulat Manusia Adam As yang gemar melakukan kegaduhan bahkan tawuran sampai menumpahkan darah? Padahal kami ini malaikat sepanjang kala bertasbih dan beribadah tanpahenti kepada Allah Swt. Dan Allah Tegas dengan menghardik mereka dengan firmannya: Inni a.lamu maa la.ta.lamuun (Kami lebih faham daripada kalian semua).

Syah dan bahwa barometer kepemimpinan publik tidak terletak pada volume serta kualitas ibadah.terlebih merasa jumawa paling bersih dan paling getol beribadah sebagaimana sikap yang dipertontonkan malaikat,dan makna penting lain juga.ternyata syahwat kekuasaan begitu kuat memikat mahluq sesuci malaikat sekalipun,bahkan iblis sekalipun kalah agresif oleh malaikat dalam hal syahwat kekuasaan sebagai kholifah di jagat fana ini.

Tak ayal pelajaran amat dalam buat kita adalah patut maklum adanya jika manusia menjelmakan jatidirinya sebagai kholifah bumi begitu rakus merengkuh kekuasaan menurut hawa nafsunya yang mereka bungkus dengan penampakan kesalehan formalistik dan cenderung mengklaim paling berhak memimpin.

Belakangan kita dihadapkan pada potret pergumulan nyaris perebutan hak kholifah antara kelompok manusia yang merasa paling kholifah sehingga sistem yang wajib diusung pung wajib khilafah.

Tiada opsi dan kompromi lain di satu pihak dengan kelompok manusia yang hanya memaknai kholifah sebagai mandataris ilahiyyah untuk diejawantahkan sebagai instrument fundamental dalam mewujudkan masyarakat yang adil makmur dengan nilai-nilai etik universal tanpa mendikte dan terpasung pada arogansi subjektivitas model kekuasaan tertentu semacam kholifah.

Karena sejatinya Allah Swt sekalipun tidak menyandra manusia pada konsep kepemimpinan baku. Namun hanya bertumpu pada aspek keadilan dan kemakmuran hakiki yang islami secara substanstif bukan atas dasar simbolik formalistik.

Paradigma itu dikuatkan oleh dawuh Rasulullah saw yang menggariskan pakem kepemimpinan dengan sabdanya :Idzaa wussidal amru ilaa ghoiri ahlihi fantadziris saah (Bilamana suatu urusan dilimpahkan kepada pihak yang tidak kompeten, pastilah cheos). Betapa Rosulullah menandaskan urusan kepemimpinan pada basis kompetensi.tidak pada ideologi dan kesalehan sosial.

Terlebih pada jargon-jargon agitatif yang merendahkan kelompok manusia lain.Disadari atau tidak. Mereka yang klaim paling pantas berkuasa.

Hanya mempertebal kesan bahwa justru merekalah yang harus dihentikan prilaku busuknya dengan sikap tegas pemerintah menerbitkan Perpu Ormas yang alhamdulillah dikabulkan secara konstitusional oleh wakil rakyat melalui rapat paripurna yang begitu melegakan.

Dan untuk itu pula kita mesti konsisten dengan qoidah : Hukmul Hakim Ilzaam Yarfa Il Khilaf (Keputusan Hakim (perpu) itu inkrah dan menghilangkan polemik).Wallahu a.lam bisshowab.(*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close