KESEHATAN

Fenomena Banjir dan Ancaman Wabah Penyakit

Dinas Kesehatan Kab Sukabumi

HUJAN yang terus mengguyur dengan frekuensi hujan yang cukup tinggi bisa mengakibatkan bencana banjir dimana-mana.

Bencana banjir akan mengakibatkan jalur transportasi darat lumpuh.

Dalam konteks ini, banjir memang merupakan permasalahan yang cukup kompleks yang harus segera ditanggulangi agar dampak yang ditimbulkannya tidak banyak merusak dan merugikan masyarakat sekitarnya.

Banjir hakikatnya merupakan fenomena alam yang biasa terjadi disuatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai.

Secara luas, jika kita lihat banjir merupakan suatu bagian dari siklus hidrologi, yaitu pada bagian air dipermukaan bumi yang bergerak ke laut.

Dijelaskan pula dalam siklus hidrologi bahwa kita dapat melihat volume air yang mengalir dipermukaan bumi cukup dominan oleh tingkat curah hujan dan tingkat peresapan air kedalam tanah.

Jika kita lihat bencana banjir sangat sering terjadi dalam suatu kawasan (daerah) yang memang daya serap tanahnya terhadap air cukup kecil, termasuk dangkalnya sungai atau aliran air.

Selain itu, banjir pun sering pula terjadi sebagai akibat banyaknya lahan yang gundul atau tak bervegetasi.

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa faktor penyebab terjadinya banjir, diantaranya; (1) Sungai. Endapan dari hujan atau pencairan salju cepat melebihi kapasitas saluran sungai yang dakibatkan oleh hujan deras monsoon, dan depresi tropis, angin luar dan hujan panas yang mempengaruhi salju.

Rintangan drainase tak terduga, seperti; tanah longsor, es, atau puing-puing dapat mengakibatkan banjir perlahan disebelah hulu rintangan.

Banjir bandang merupakan salah satu fenomena banjir yang berlangsung cepat yang diakibatkan curah hujan konvektif (badai petir besar) atau pelepasan mendadak endapan hulu yang terbentuk dibelakang bendungan,gletser, dan tanah longsor; (2) Peristiwa alam.

Banjir ini biasanya terjadi mendadak seperti jebolnya bendungan atau bencana lain, seperti; gempa bumi atau letusan gunung merapi; (3) Muara.

Biasanya diakibatkan oleh penggabungan pasang laut yang diakibatkan angin badai; (4) Pantai, bencana ini diakibatkan oleh badai laut atau pun bencana lainnya, seperti tsunami atau hurikan; (5) Faktor manusia.

Banjir ini terjadi akibat aktivitas manusia, baik sengaja maupun tidak sengaja yang bisa merusak tatanan lingkungan hidup dan keseimbangan alam.

Seperti halnya banjir yang terjadi, terutama diwilayah perkotaan yaitu disebabkan oleh masalah sampah, dangkalnya aliran sungai akibat kurangnya kepedulian masyarakat, dan terlalu padatnya bangunan atau perumahan hingga banyak permukaan tanah keras yang menyebabkan tanah tersebut tidak mampu lagi menyerap air.

(6) Lumpur. Banjir lumpur terjadi melalui penumpukan endapan tanah pertanian. Sedimen kemudian terpisah dari endapan dan terangkut sebagai materi tetap atau penumpukan dasar sungai. Endapan lumpur mudah diketahui ketika mulai mencapai kawasan pertanian. Dan banjir lumpur merupakan proses lembah bukit, dan tidak sama dengan aliran lumpur yang diakibatkan oleh pergerakan masal.

Musim hujan dan banjir memang hal yang cukup berkaitan erat. Saat hujan cukup deras banjir selalu saja terjadi, maka tak heran jika banjir ini merupakan musibah karena dampak yang ditimbulkannya cukup luas. Dengan musibah banjir, maka tatanan lingkungan hidup berubah, terutama dengan timbulnya beragam penyakit yang cukup membahayakan kesehatan.

Hal yang perlu diwaspadai saat musim hujan tiba, selain banjir, maka timbulnya beragam penyakit pun juga perlu untuk diantisipasi keberadaannya. Saat musim hujan, penyakit yang muncul biasanya disebabkan oleh bakteri dan parasit, diantaranya;

Pertama, leptopirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira sp yang ditularkan oleh hewan ke manusia, atau pun sebaliknya. Leptopirosis dikenal pula dengan sebutan penyakit kencing tikus.

Bakteri sangat menyenangi pada lingkungan yang becek, kotor, dan berlumpur. Urine atau air kencing dari individu yang terkena penyakit ini merupakan sumber utama penularan. Dan saat banjir, maka air kencing tikus akan terbawa banjir dan dapat masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata, dan hidung.

Kedua, demam berdarah (DBD). Saat musim hujan seperti sekarang ini, biasanya akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor pembawa penyakit demam berdarah. Ini disebabkan pada saat musim hujan, maka akan banyak sampah, seperti kaleng-kaleng bekas, ban bekas, dan tempat-tempat tertentu terisi air dan terjadi genangan air selama beberapa waktu.

Genangan air inilah yang pada akhirnya menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai vektor penyakit, resiko terjadinya penularan pun juga ikut meningkat.

Ketiga, diare. Diare cukup erat kaitannya dengan personal hygiene (kebersihan perorangan). Pada musim hujan dengan frekuensi hujan yang tinggi, potensi banjir pun ikut meningkat. Saat banjir datang, sumber-sumber air minum dilingkungan masyarakat, terutama sumber air minum dari sumur dangkal, akan ikut tercemari.

Dan hal ini cukup potensial terjadinya penyakit diare. Menurut penelitian, pada musim hujan peningkatan kasus diare bisa mencapai 34%.

Keempat, ISPA. Penyakit ini merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan beragam mikroba lainnya. Gejala penyakit ini dapat berupa batuk dan demam. Bahkan jika kondisi berat, ISPA bisa menimbulkan sesak napas, nyeri dada dan lain sebagainya, Kelima, penyakit kulit.

Kutu air adalah penyakit yang kelihatannya sepele tapi sangat mengganggu. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur Trycophyton yang banyak ditemukan di lingkungan yang lembab dan basah. Infeksi jamur dapat terjadi disemua bagian tubuh, termasuk lengan, kaki, tangan, area lipatan payudara, selangkangan, dan area tertutup lainnya.

Dengan demikian, mari kita jaga dan pelihara lingkungan dan kebersihan diri agar pada saat musim hujan ini kita bisa menjaga stamina dan kesehatan agar bisa terhindar dari beragam penyakit, khususnya leptopirosis yang bisa menyerang pada saat banjir dan pascabanjir. (*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close