EKONOMIFeaturedKABUPATEN SUKABUMI

Melihat Pengrajin Tanduk Asal Kampung Inggris, Sukabumi

Belajar Otodidak, Kerajinan Kasim Dipesan Konsumen Jepang

Tanduk Kerbau yang sepintas terkesan hitam seperti tidak bermanfaat, namun dengan tangan sentuhan tangan terampil dan kreatifitas bisa menghasilkan produk seni bernilai tinggi. Seperti yang dilakukan seorang bapak paruh baya asal Kabupaten Sukabumi, Maman Kasim. Berikut liputannya.

BAMBANG SURYANA, Sukabumi

Di tangan Maman, tanduk-tanduk tersebut disulap menjadi karya seni yang indah berupa hiasan rumah, sisir, gelang, penggaruk badan juga cincin.

Di Kampung Inggris RT 3/17, Desa/Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, pria kelahiran 1957 ini akrab disapa Pak Kasim. Sudah puluhan tahun menggeluti usaha kerajinan tanduk sapi dan kerbau.
Ratusan hingga ribuan hasil kerajinan tanduk tersebut sudah berhasil dijual ke berbagai daerah. Misalnya saja, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Batam dan ke luar negeri seperti Singapura.

Ketika disambangi Radar Sukabumi selasa (19/9/2017). Pak Kasim terlihat tengah berbaring. Lantaran kondisi fisiknya kurang sehat.

“Dari mana pak, ada yang bisa saya bantu?,” tanya Pak Kasim.

Setelah berkenalan, Pak Kasim pun langsung mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya serta memperlihatkan hasil karya seninya yang dipajang di tengah rumah.

“Ini halsil karya saya, semuanya terbuat dari tanduk kerbau,” tutur kasim sembari manggil istrinya untuk membawa hasil karya yang lainnya.

Kerajinan tanduk ternyata sudah digeluti sejak 1970 silam. Pak Kasim menerangkan, kerajinan ini merupakan warisan dari nenek moyang.

“Ya, kerajinan ini salah satu turunan dari orang tua saya dulu. Dan sudah lama saya kembangkan hingga saat ini,” paparnya.

Ia tidak pernah belajar secara formal untuk bisa menjadi pengrajin tanduk. Keahliannya itu diperoleh langsung dari orang tuanya.

“Dari kecil saya sudah terbiasa melihat bapak saya mengolah tanduk, dari situ saya belajar sampai sekarang,” imbuhnya.

Kasim menjelaskan, tanduk yang diolah menjadi kerajinan adalah tanduk sapi dan kerbau. Biasanya ia ambil dari daerah Jawa. Keduanya memiliki keunikan sendiri, dari segi motif, warna dan kekuatannya. Menurutnya, tanduk-tanduk itu bisa menjadi beragam jenis kerajinan dan hiasan antara lain sisir, gantungan kunci, mangkok, asbak, sendok, gelang, cincin dan masih banyak lagi.

“Alhamdulillah berkat kegigihan dan ketekunan selama mengeluti usaha kerajinan tangan ini, sekarang sudah banyak yang memesan dari luar negeri seperti Jepang dan daerah lainnya,”terangnya.

Pengolahan tanduk menjadi kerajinan tidak hanya butuh keahlian dan sentuhan seni, akan tetapi juga ketekunan karena proses pengolahan tidak sebentar.

Pengolahan diawali dengan pembakaran tanduk di atas bara api, agar lebih lentur. Sehingga mudah dibentuk. Setelah dipres dan menjadi berbentuk lembaran, tanduk dicetak dan dipotong sesuai keinginan. Proses selanjutnya adalah penghalusan dan finishing, kemudian dipasarkan.

“Dalam satu bulan saya bisa menghasilkan puluhan hiasan tanduk dengan dibantu para pekerja beberapa orang,” ulasnya.

Hasil kerajinan itu, kemudian dijual sesuai pemesanan dan diikutsertaan dalam berbagai pameran.

Sementara, harga kerajinan tanduk bervariasi, mulai Rp 5 ribu hingga Rp 1 juta tergantung kerumitan produk. Meskipun telah berkembang, namun belakangan ini Kasim mulai kesulitan dalam pemasaran. Karena saat ini pemasaran hasil kerajinan mengalami penurunan.

“Penjualan saat ini sedang loyo, bisanya dalam satu bulan saya bisa mendapatkan Rp 40 juta, tapi saat ini mencapai sekitar Rp 10 juta,” akunya.

Ditanya kenapa begitu tertarik menggeluti kerajinan tanduk? Kasim menjawab, generasi pengrajin kini semakin berkurang. Tidak banyak warga, khususnya generasi muda yang tertarik menggeluti usaha kerajinan tanduk. Kebanyakan mereka lebih memilih menjadi karyawan atau usaha di bidang lain.

“Ini salah satu upaya untuk melestarikan pengrajin tanduk di Sukabumi. Karena Sukabumi satu-satunya di Jawa Barat (Jabar) yang menggeluti kerajinan ini,” paparnya.

Kasim menambahkan, guna meningkatkan penghasilan dirinya terus melakukan berbagai upaya. Salah satunya, dengan terus mengikuti lomba pameran dan memasarkannya melalui online. “Mudah-mudahan dengan upaya yang dilakukan, bisa kembali meningkatkan penjualan,” harapnya.

 

(Cr16/t)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close