Home / INTERNASIONAL / Rakyat Prancis Memilih Presiden Baru Putaran Kedua
DUKUNG: Brigitte Trogneux, istri Emmanuel Macron (kiri) memasukkan kertas suara pemilihan presiden hari ini. (Reuters)

Rakyat Prancis Memilih Presiden Baru Putaran Kedua

Pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua Prancis berlangsung hari ini (7/5). Siapa pun pemenangnya, Emmanuel Macron atau Marine Le Pen bakal mencatatkan sejarah baru di negara republik berpenduduk lebih dari 67 juta jiwa tersebut. Macron akan menjadi presiden termuda. Sementara itu, Le Pen bakal menjadi presiden perempuan pertama.

Kampanye pilpres putaran kedua berakhir pada Jumat (5/5). Prancis menjalani hari tenang kemarin (6/5). Macron dan Le Pen berhenti melakukan safari politik. Namun, media tidak berhenti memberitakan persaingan dua kandidat tersebut. Apalagi, akhir pekan ini, terungkap bahwa data kampanye Macron dibobol hacker. Data dalam bentuk e-mail, dokumen digital, dan catatan finansial kampanye itu lantas bocor ke publik.

”Menjelang pemilihan terpenting di negara ini, komisi pemilihan umum mengimbau semua orang yang mempunyai akun di media sosial dan internet, terutama media, tidak menyebarluaskan data yang bocor. Itu demi kelancaran pemungutan suara,” kata jubir komisi pemilihan umum. Dia juga menyatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan polisi untuk menyelidiki peretasan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, komisi pemilihan umum memperingatkan bahwa penyebarluasan data yang bocor itu setara dengan aksi kriminal. Karena itu, para pengguna internet yang nekat menyebarluaskan data tersebut ke publik akan berurusan dengan polisi. Sejauh ini, hampir semua stasiun televisi Prancis kompak untuk tidak menayangkan data yang bocor itu.

Data rahasia sebesar 9 gigabyte (GB) tersebut kali pertama disebarluaskan ke ranah publik pada Jumat malam atau menjelang berakhirnya masa kampanye pilpres putaran kedua. Lewat Pastebin, situs internet yang mengizinkan netizen mengunggah data apa pun tanpa melampirkan identitas resmi, pengguna internet dengan nama profil EMLEAKS mengunggah data milik Macron itu.

Hingga kini, polisi masih berusaha mengungkap identitas individu atau kelompok di balik EMLEAKS. En Marche!, partai politik yang dibentuk Macron pada 2016, mengecam peretasan tersebut. Mereka menyebut aksi penjahat cyber itu sebagai upaya untuk menggoyang demokrasi Prancis sekaligus menghancurkan reputasi partai yang diketuai pesaing Le Pen tersebut.

”En Marche! telah menjadi korban peretasan yang masif dan rapi.” Demikian keterangan resmi partai yang sengaja diciptakan sebagai kendaraan politik Macron dalam pilpres itu. En Marche! menyatakan bahwa data yang disebarluaskan ke publik tersebut tidak murni milik partai. Sebab, sebelum mengunggahnya ke ranah publik, si peretas merekayasanya. Yakni, dengan menyelipkan sejumlah data dan laporan palsu.

En Marche! menyebutkan, peretas yang masih diburu polisi itu sengaja menciptakan keresahan dalam masyarakat. ”Mereka ingin membuat masyarakat ragu terhadap kami dan kandidat kami,” kata salah seorang politikus En Marche! kemarin.

Beberapa waktu lalu, Macron sempat mengeluh tentang peretasan. Dia curiga, ada kaki tangan Kremlin yang berusaha menyebarluaskan data pilpres. Namun, rasan-rasan tokoh 39 tahun tersebut tidak ditanggapi serius. Kini, setelah peretasan itu benar-benar terjadi, banyak pihak yang mengaitkannya dengan Rusia. Salah satunya adalah Vitali Kremez, direktur riset pada perusahaan cyber intelligence Flashpoint.

Kepada Reuters, Kremez menuturkan bahwa APT 28, organisasi yang bekerja sama dengan Direktorat Intelijen Militer Rusia GRU, mendaftarkan alamat internet dengan nama yang mirip En Marche! bulan lalu. Di antaranya, onedrive-en-marche.fr dan mail-en-marche.fr. ”Sepertinya, mereka menggunakan alamat itu untuk meretas data kampanye partai tersebut,” katanya.

Jika benar Rusia ada di balik peretasan itu, drama politik yang mewarnai pilpres Amerika Serikat (AS) tahun lalu akan terulang di Prancis. ”Bisa jadi itu adalah upaya spionase biasa. Tapi, bisa juga tujuannya adalah mendistorsi pilihan masyarakat,” ujarnya.

Bersamaan dengan itu, Trend Micro melaporkan bahwa En Marche! dan Macron menjadi target sejumlah hacker asal Rusia. ”Kelompok Pawn Storm berusaha mencuri data kampanye Macron lewat teknik phishing,” terang perusahaan riset cybersecurity tersebut bulan lalu.

Kubu Macron menyatakan, peretasan data pilpres secara masif seperti itu tak pernah terjadi sebelumnya. ”Semua berawal dari peretasan e-mail para petinggi partai beberapa pekan lalu. Setelah itu, banyak data yang hilang atau diduplikasi,” jelas seorang petinggi En Marche! yang merahasiakan namanya. Menurut dia, e-mail para petinggi partai, termasuk milik Macron, menjadi target hacker sejak awal kampanye.

Kemarin WikiLeaks menyatakan tak bertanggung jawab atas peretasan data Macron. Namun, mereka siap bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melacak pelaku. Menurut Florian Philippot, orang kepercayaan Le Pen, yang disebarluaskan ke publik adalah data-data tentang Macron yang selama ini sengaja disembunyikan media. Dia menduga data-data tersebut asli dan bukan rekayasa seperti klaim Macron.

Sejauh ini, Macron unggul dalam jajak pendapat. Dukungan untuk mantan bankir yang menikahi guru SMA-nya itu jauh lebih tinggi daripada Le Pen. Survei teranyar menunjukkan bahwa 62 persen responden mendukung Macron. Sebanyak 38 sisanya berpihak kepada Le Pen yang dikenal sebagai kandidat ultranasionalis. Para pengamat politik meyakini bahwa Macron akan menang dengan gemilang. (AFP/Reuters/BBC/CNN/hep/c18/any)

loading...

About admin

x

Check Also

Indonesia Mengecam Israel, Minta PBB Tindak Tegas

Situasi di Kompleks Masjidilaqsa yang terus memburuk, termasuk penembakan terhadap Sheikh Ikrima ...