Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / MENCARI PEMBENARAN DAN KEBENARAN
Kang Warsa Guru MTs Riyadlul Jannah- Anggota PGRI Kota Sukabumi

MENCARI PEMBENARAN DAN KEBENARAN

Hampir mayoritas manusia  termasuk di dalamnya penulis-cenderung masih belum bisa memilah dan memilih antara kebutuhan, keinginan, bahkan hasrat. Ujung-ujungnya berakhir pada satu pemikiran yang tidak ajeg, konstruktif, apalagi holistik.

Pola pikir cenderung linear, lurus, sering memandang hidup dan kehidupannya dengan kacamata kaum puritan. Sebuah keyakinan eksklusif di mana dunia seolah terbagi menjadi dua kutub saja, hitam dan putih. Baiklah, sikap seperti itu dalam kacamata keyakinan, apalagi bagi penulis sebagai seorang muslim, merupakan sebuah pandangan bagus, idealisme murni, di mana antara benar dan salah, hak dan bathil merupakan dua kutub berseberangan dan sampai kapanpun sama sekali tidak akan pernah bersatu.

Hanya saja, keyakinan dan ajaran agama kita pun tidak serigid dan sekaku seperti yang selama ini masih digaungkan oleh beberapa kelompok. Lagi pula, apa sich sebenarnya kebenaran hakiki  Baik, seorang teman dengan keyakinan agamanya dan jujur dia merupakan panutan dalam bersikap bisa menginterpretasikan tentang kebenaran sejati yang ada di kolong langit ini hanya agama yang dianut oleh orang itu, lantas akan muncul juga pertanyaan susulan, agama yang pernah diturunkan oleh Allah SWT kepada para Rasul untuk membimbing manusia ini, apakah pernah mengajarkan sikap eksklusifitas  Pembenaran terhadap keyakinan yang dianut lalu menjadi bumerang efek bagi orang yang meyakininya  Saya pikir, agama Islam yang saya anut pun sama sekali tidak mengajarkan hal demikian.

Kerigidan dalam memandang dan memajukan kayakinan dan kebenaran sejati di dalam kompleksitas hidup di dunia, bukan malah menjadi sebuah solusi. Hidup tidak melulu dipandang dengan dua warna hitam dan putih. Pencarian kebenaran bukan dogma, melainkan harus berkumpulnya antara dogma dan akal sehat. Jangan memandang, jika pernyataan seperti ini dijadikan dalil jika saya memiliki faham permisif mengenai keyakinan, bukan itu, kecuali… kebenaran sejati akan tercapai ketika manusia sendirilah yang dapat menemukannya.

Kita harus terus  berusaha menjadi semakin menyadari, jika hidup di dunia ini, selain kita yang menganut keyakinan Islam, di dunia ini juga, kita bersanding dengan mereka yang menganut keyakinan-keyakinan lain. Tentu saja, agama terlalu sakral dan suci untuk diperdebatkan. Agama mengatur hidup manusia agar perdebatan di dunia ini sama sekali tidak terjadi. Kebenaran sejati, muncul dari pernyataan nurani diri kita masing-masing.

Saya sering berpikir demikian, apakah seorang yang disebut kafir oleh kita sementara hidupnya dipenuhi oleh kebaikan dan segala potensi kebaikan, bahkan seorang komunispun akan diperlakukan secara tidak adil di pengadilan Allah kelak  Ya, pertanyaan semacam ini sudah tentu terlalu melangit karena keterbatasan akal kita belum bisa menjamah hal itu.

Lalu, apakah kita yang merasa telah menganut keyakian paling benar namun hidup kita tidak lebih baik dari orang-orang yang kita sangkakan jauh dari petunjuk Tuhan akan tetap dianak-emaskan oleh Tuhan  Jika pun hal demikian merupakan prerogatif Tuhan, maka keadilan Tuhan terhadap manusia pun masih pantas dipertanyakan  Tuhan maha pengadil, hakim dari hakim, maka keputusannya pun akan menjadi hal terbaik bagi kita.

Pemikiran rigid terhadap keyakian , merupakan akar dari permasalahan kemanusiaan. Perang antar agama, ras, suku, golongan, bahkan sampai saat ini dan masih dibahasakan oleh kita terhadap anak cucu kita mengenai perang salib merupakan dampak dari pemikiran pembenaran dogmatis. Selalu, kita memandang perang dan penjajahan dilatarbelakangi oleh sebuah perbedaaan keyakinan.

Padahal, keserakahanlah yang menjadi pemicu latar belakang imperialisme di muka bumi ini. Jika, kita menjadikan alasan perbedaaan keyakian keagamaan sebagai pemicu perang dan penjajahan, lantas kenapa di antara sesame penganut agama pun ada yang saling membunuh, ada yang saling hasud, fitnah. Jauh sebelum ummat manusia mengenal peradaban dan alat-alat perang pun Kabil telah membunuh Habil. Mereka sama-sama satu orangtua. Keyakinan apa yang mereka anut

Kemudian bagaimana dengan atheisme  Pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan. Secara kasat mata kita akan mengecam para penganut atheisme, Tuhan telah dimarjinalkan bahkan dibunuh. Ini pun penting dicermati, ketika Nietsczhe menyebut Tuhan telah mati, maka dia telah meyakini ada nya Tuhan sebelum mati.

Yang perlu dipertanyakan adalah, dengan cara bagaimana Tuhan mati, dibunuhkah  Mati secara wajarkah  Atau memang bunuh diri  Sebagai seorang muslim saya memiliki pandangan Tuhan maha kekal, Tuhan akan tetap hidup, namun saya tidak akan memaksa jika ada orang yang berpendapat saat ini Tuhan telah mati karena dibunuh oleh sikap kita, dikerangkeng dan dipenjarakan oleh kemunafikan kita, bahkan dikambinghitamkan oleh kebejatan kita.

Sorban, Peci haji, Penutup kepala pastur, tasbih biksu, lambang salib, sering dijadikan persembunyian hitam dan pekatnya hidup ini. Seorang pencuri ayampun bisa mengucap Bismillah atau membuat lambang salib ditubuhnya ketika akan mengambil ayam tetangganya. Siapa yang membunuh Tuhan  Kitalah pembunuh-Nya.

Kita tidak memiliki hak memandang manusia lain sebagai pelengkap kehidupan dan tidak lebih mulia dari lap kotor di dapur kita. Kita juga tidak memiliki hal memaksa orang lain harus alim, santun, bahkan memaksa seorang anak kecilp harus dianggap dan dijadikan seperti orang dewasa, tua, kakek-nenek tidak diperkenankan.

Karena hidup ini serba komplek, kebenaran sejati bukan sesuatu yang harus kita paksakan kepada siapa pun. Ajakan dan dakwah tidak selalu harus dengan cara membeberkan keyakinan saya lah yang paling benar. Biarkan…saya, kita, kamu, dan mereka menemukan kebenaran sejati. (*)

loading...

About admin

x

Check Also

Jadilah ‘Tim Sukses’ Pilwalkot 2018

Tidak hanya di media cetak dan maya, sudut warung kopi, tempat parkir, ...