Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / Benur Antara Hukum dan Kebutuhan, 12 Jam Raup Keuntungan Rp15 Juta

Benur Antara Hukum dan Kebutuhan, 12 Jam Raup Keuntungan Rp15 Juta

AKTIVITAS menangkap Benur (benih) Lobster dilarang keras oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 56/Permen-KP/2016, tentang larangan penangkapan dan/atau pengeluaran lobster, kepiting dan ranjungan dari wilayah Negara Republik Indonesia. Namun, di lapangan masih banyak nelayan yang nekat memburu benur.

Padahal, ancaman hukumannya tidak sedikit, enam tahun penjara dan denda sebesar Rp1,5 miliar. Tapi kenapa para nelayan masih banyak yang mencari benur ya?

SUASANA pesisir Pantai Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Sukabumi Sabtu (22/4) sore itu cukup ramai dengan aktivitas pedagang ikan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB. Cuaca pun cukup cerah, tampak dari gelombang arus pantai yang tidak begitu besar seperti dua hari sebelumnya. Beberapa perahu nelayan berlabuh di sekitar garis pantai, namun ada juga nelayan pemancing yang terlihat beraktivitas dengan perahunya tak jauh dari garis pantai.

Begitulah suasana sehari-harinya aktivitas nelayan di Pantai Ciwaru. Informasi yang diperoleh, selain menangkap ikan, tidak sedikit juga nelayan yang memburu benur di sana. Tapi karena dilarang oleh pemerintah, aktivitas menangkap benur kini dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Larang Tangkap Benur Jaga Ketersediaan Populasi Sanksi Tegas Bagi Nelayan ‘Ngeyel’

Ketika Radar Sukabumi mencoba menelurusi di lapangan dengan ikut terlibat langsung menangkap benur, para nelayan enggan buka-bukaan, hal ini diakui mereka untuk meminimalisir pantauan petugas. Terlebih, sejak empat rekan mereka diciduk kepolisian saat bertransaksi benur hasil tangkapan beberapa waktu sebelumnya.

Mereka tidak mau terlalu banyak menggambarkan aktivitas perburuan benur karena dinilai sensitif di lingkungan nelayan saat ini. “Kita sekarang mah sudah hati-hati pas nangkap dan jual benur,” kata salah satu nelayan berinisial U (65) kepada Radar Sukabumi.

Meski enggan buka-bukaan, U bersedia membawa serta Radar Sukabumi ikut beraktivitas menangkap benur. Peralatan dan perahu yang digunakan tergolong sederhana dan tidak memerlukan banyak tenaga, cukup dua orang sudah bisa memburu benur.  Peralatan yang dibawa yakni mesin deasel untuk penerangan dan empat ember berukuran sedang.

Waktu saat itu menunjukkan pukul 16:25 WIB, setelah persiapan cukup, tim pun berangkat menuju lokasi perburuan benur menggunakan sebuah perahu. Lokasinya ternyata tidak jauh, sampai ke tempat yang dituju sekitar pukul 16:44 WIB, atau kurang lebih 19 menit perjalanan. “Cukup dekat paling satu kilo atau dua kiloan kita ke lokasinya,” kata U.

Perjalanan ke lokasi berjalan lancar, cuaca saat itu cukup cerah sehingga ombak tidak terlalu besar. Sesampainya di lokasi perburuan, tim menemukan sebuah perahu Pagang yang terapung di atas air. Perahu itu terbuat dari bambu yang dibentuk menyerupai rumah bambu dengan luas kurang lebih 7,2 meter. Biasanya Pagang itu terikat ke sebuah jangkar sehingga tidak hanyut terbawa arus.

Tim pun menaiki Pagang yang ternyata menjadi tempat perburuan benur itu. Di Pagang tersebut sudah ada beberapa peralatan lainnya, seperti penerangan sebagai salah satu alat penting untuk mengundang ikan maupun benur di tengah lautan, dan jaring khusus sebagai media tangkap. Jaring tersebut terpasang di bawah Pagang.

Nelayan tinggal menurunkan jaring itu ke dalam air dan menunggu untuk kembali mengangkat jaring tersebut.  “Setelah nanti ikan banyak muncul di jaring yang kita siapkan, baru kita angkat jaringnya,” terang U.

Setelah mempersiapkan peralatan yang diperlukan, U pun mulai menurunkan jaring yang disinari dari lampu penerangan. Sinar lampu itulah yang mengundang ikan-ikan kecil dan benur hingga terperangkap ke dalam jaring.

Tidak perlu repot seperti menangkap ikan yang menguras tenaga dan biaya, nelayan tinggal menunggu waktu pengangkatan jaring esok harinya atau kurang lebih 12 jam dari pukul 16:00 WIB hingga pukul 04:00 WIB dini hari. Sembari menunggu datangnya subuh, mereka bisa bersantai di atas Pagang.

Sambil menikmati senja di atas Pagang, U pun berbincang-bincang dengan Radar Sukabumi. Menurut dia, jaring yang digunakan untuk menangkap benur secara khusus beda dengan jaring yang digunakan untuk menangkap ikan.

Jika, menangkap ikan dan benur dirinya menggunakan media Pagang. Beda jika khusus untuk menangkap benur, nelayan harus menggunakan perahu dan jaring kecil. “Jaring kecil atau kita menyebutkannya jodang yang di pasang secara beruntun, kemudian diturunkan sampai ke dasar laut. Pola ini merupakan khusus bagi nelayan yang menangkap benur terutama di dekat karang-karang,” katanya.

Setelah pemerintah menerapkan aturan pelarangan penangkapan benur, tidak sedikit dari para nelayan menangkap benur secara khusus dengan menggunakan perahu di dekat karang. Karena untuk menangkap benur ada titik titik khusus dan paling banyak penangkapan dekat karang. Dengan tingkat kedalaman laut tidak begitu dalam sekitar 5 sampai 10 meter.  Hasil penangkapan benur dengan cara khusus cukup banyak. Bisa mencapai 500 sampai 700 ekor benur. Berbeda dengan penangkapan menggunakan media Pagang.

Jenis benur yang seringkali jadi buruan nelayan yaitu benur jenis mutiara. Ukurannya 1 sampai 2 centimeter. Jenis ini, merupakan katagori paling bagus dengan memiliki ciri di kumis beneur terdapat bintik-bintik warna biru mengkilat. Di pasaran, harga benur mutiara berada dikisaran Rp30 ribu sampai Rp35 ribu per ekor. Sementara, jenis lainnya yaitu benur putih dan merah hanya dihargai Rp2.000 sampai Rp5.000 per ekor.”Jadi kalau dapat jenis mutiara, nelayan tidak rugi, bisa membawa uang lumayan. Tapi untuk sekarang, penjualan sulit karena tanpa digelar di publik atau tertutup,” kata U.

Dengan tangkapan 500 ekor benur lobster jenis mutiara, nelayan bisa memperoleh pendapatan fantastis. Jika per ekor dijual Rp30 ribu, total yang didapat nelayan dengan bekerja di laut selama sekitar 12 jam bisa mencapai Rp15 juta. Wow…!!

Setelah asyik berbincang-bincang, tim pun istirakat sejenak. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 04:00 WIB dini hari dan saatnya mengangkat jaring. Sayangnya, setelah jaring diangkat hanya ada sekitar 15 ekor benur yang terjaring beserta beberapa ikan-ikan kecil lainnya. Ke 15 ekor benur itu kemudian dipisahkan dari ikan lainnya dan disimpan ditempat aman.

Untuk menghindari dan menjaga keamanan hasil tangkapan, U menyimpan benur di tempat berbeda dari jenis ikan lainnya. Untuk sementara benur disimpan di dalam kaleng bekas cat yang diisi air laut. Setelah proses perburuan selesai, benur dialihkan dari kaleng bekas cat ke dalam botol air mineral bekas.
Waktu saat itu menunjukkan pukul 05:05 WIB, tim pun berkemas untuk kembali ke darat. Tim tiba di darat sekitar pukul 06:00 WIB.  Ketika Radar Sukabumi mencoba untuk menelusuri penjualan benur hasil tangkapan, U terkesan tertutup dan langsung membawa perahu dan benur hasil tangkapan ke lokasi lain setelah mengantarkan tim ke darat.

Radar Sukabumi pun mencoba mencari informasi keberadaan para pengepul benur tersebut.  Namun hasilnya nihil, diduga para pengepul tengah bersembunyi setelah banyak penangkapan kasus penyelundupan benur lobster dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, salah seoarang penjual ikan di TPI Palangpang Iwan Sofyan (37) mengatakan, penegakan hukum soal ilegal fishing dinilai tembang pilih. Karena penegak hukum hanya memantau nelayan kecil dibandingkan dengan pengepul besar yang masih berkeliaran. “Seharusnya bukan nelayan yang ditakut-takuti, tapi pengepul besar.

Logikanya, jika benur murah dan tidak ada yang menerima, mana mungkin nelayan mengambil benur,” terangnya.
Terlebih, kata Iwan, penangkapan benur jadi alternatif nelayan untuk menjawab kebutuhan sehari hari di tengah hasil tangkapan ikan yang tergolong minim. “Ikan sulit didapat, belum lagi harganya. Adanya peluang pasar benur jadi alternatif untuk dapat duit,” tukasnya. (cr10/e)

 

 

loading...

About admin

x

Check Also

Mohon Maaf Kepada Umat Islam, Terkait ilustrasi

SUKABUMI – Ilustrasi yang dimuat di Harian Pagi Radar Sukabumi edisi Selasa, ...