Home / RUBRIK / NGOBROL SANTAI KEPARIWISATAAN / Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Geologi Lewat Konservasi, Edukasi dan Pariwisata (2-habis)

Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Geologi Lewat Konservasi, Edukasi dan Pariwisata (2-habis)

Maksimalkan Wisata Hijau dan Wisata Ramah Lingkungan

SATU hal yang pastinya kita suka adalah jalan-jalan, tapi apakah pernah terpikir kalau jalan-jalan yang penuh sukaria itu sebenarnya berkonsep ramah lingkungan atau tidak? Melongok air terjun, berendam di sumber air panas pegunungan, piknik di kebun teh, wisata petualangan (outbond), atau apapun bentuk kegiatan berlibur outdoor sepertinya sama saja, tetapi apakah ini yang dimanakan Green Tourism (Wisata Hijau atau Wisata Ramah Lingkungan)?

GREEN Tourism sebagai salah satu bentuk ekoturisme atau wisata berbasis ekosistem masih terdengar tidak lazim di Indonesia, namun sebenarnya apa sih yang disebut dengan Green Tourism? Green Tourism dapat berarti, wisata yang menitikberatkan pada kunjungan ke lokasi satwa liar berada (misal taman nasional dan cagar alam). Jadi Green Tourism ini bisa jadi di antaranya adalah kegiatan hikking (gerak jalan dan mendaki), trekking, birding atau bird watching (pengamatan burung), snorkeling, diving serta caving (Penelusuran Goa).

Wisata yang berkelanjutan atau artinya tidak mengakibatkan kerusakan di lokasi wisata dan cagar budaya yang sedang dikunjungi (ramah lingkungan). Green Tourism yang mengusung idealisme ekoturisme berbasis konservasi sebenarnya bukan merupakan barang baru di dunia serta telah diimplementasikan di Indonesia.

Walaupun demikian, mungkin masih jarang terdengar rimbanya dan hanya orang – orang tertentu sajalah yang tahu dan bergelut dengan dunia pariwisata, untuk itu kehadiran ‘Green Camp Karangbolong’ sebagai wujud apresiasi terhadap alam dalam bentuk produk pariwisata, dapat dijadikan contoh kegiatan Green Tourism sebagai bagian dari ’Green life style’ yang memang seyogyanya perlu dipupuk sedari dini sebagai ‘Green mind’.

Lingkungan praktek Green Tourism dapat dimulai dengan cara menghormati alam lingkungan termasuk di antaranya menjaga jarak, tidak menyentuh apalagi menganiaya satwa liar,  juga selalu mengikuti jalur trek yang telah disediakan serta ikut berpartisipasi dalam  suatu kegiatan konservasi yang akan berdampak positif pada kehidupan masyarakat lokal.

“Jadilah turis sekaligus volunteer dari suatu kegiatan pariwisata berbasis konservasi atau perlindungan alam, selain kita dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman hidup juga dapat meningkatkan taraf hidup komunitas lokal,” tutur Ketua TIC Kabupaten Sukabumi Dadang Hendar dalam rilis Green Camp 2017. (*)

Green Camp Karangbolong 2017

KEGIATAN ini merupakan salah satu upaya kepedulian terhadap peningkatan Sumber Daya Alam dan Hayati (SDAH), sehingga dengan proses alam sendiri mampu memperdayakan masyarakat lokal dalam pemanfaatan jasa lingkungan termasuk sebagai sarana pendidikan dan Eko wisata.

Kegiatannya berupa :
1.Adopsi pohon (Save Our Green Belt)
2.Discovering Cibitung (explore ; Darat, Laut, Udara serta Perut bumi/Goa)

Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir pantai kawasan Cibitung, dalam Konservasi Sumber Daya Alam (SDA), untuk menciptakan tumbuhnya kesadaran dan peran aktif masyarakat akan pentingnya keberadaan green belt, hingga kehadiran green belt dapat dipandang tidak saja dari fungsi fisik sebagai barier pemisah pantai semata, tetapi juga mengakomodir sarana rekreasi alam, produksi pertanian, fungsi lindung dan fungsi ekosistem, untuk kehidupan yang lebih baik bagi kawasan pesisir pantai karangbolong dan sekitarnya.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mewujudkan konsep dasar pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan (Ecologycally Sound Suistanable Development), terutama generasi muda agar dapat menjadi generasi penerus yang peduli terhadap lingkungan dan ekosistem sekitarnya.

Untuk mendidik dan melatih generasi muda agar mempunyai kepedulian dan cepat tanggap terhadap pentingnya kelestarian lingkungan beserta ekosistemnya. Recover Agro-Ekosistem Pantai, Lahan dan Hutan pantai secara bertahap untuk kesejahteraan masyarakat.

Tujuan dari kegiatan ini di harapkan mampu mengevaluasi Hutan Pantai sehingga pemanfaatan diantara lain, memulihkan kondisi hutan pantai dan lahan, memperbesar kapasitas ekonomi masyarakat dalam memanfaaatkan sumber   daya dari hutan pantai, mewujudkan kelestarian keanekaragaman hayati dan mengembangkan sumber daya manusia di kawasan pesisir pantai. (*)

Geo 4×4 Green Adventure Offroad

MENJELAJAHI ragam bumi (Geo diversity) kawasan Cibitung  dengan menggunakan kendaraan Jeep 4×4 bersama komunitas Off-pak (Offroad Pakidulan), merupakan kegiatan yang sangat mengasikan dimana kita dapat mengeksplore objek-objek wisata alam yang terdapat di wilayah Cibitung sambil menikmati sensasi adrenaline di atas kendaraan jeep 4×4.

Kegiatan ini sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata dan moda transportasi yang sangat menarik, dengan tema ‘ Geo 4×4 Green Adventure Offroad’, dengan mengusung tema itu, kerusakan lingkungan yang sering terjadi akibat aktivitas pembukaan jalur/route atau trek baru dapat dihindari, karena zonasi dan treknya sudah ditentukan sesuai dengan tema jalur Geo wisata. (*)

Jampang Cave On The Move

JAMPANG Cave on The Move, (Bergerak di dalam perut bumi Jampang) merupakan tema eksplore goa-goa yang berada di wilayah Kecamatan Cibitung khususnya dua desa (Cibitung dan Cidahu), yang merupakan kawasan bentang alam Karst Pajampangan.

Sedikitnya ada 40 titik goa Karst yang sudah teridentifikasi di dua desa tersebut. Keberadaan goa-goa tersebut tersebar di antara tanah-tanah milik masyarakat dan kawasan hutan produksi milik Perhutani KRPH Karangbolong.

Menurut para penggiat wisata goa (Caving) dari Kompepar Buni ayu menyebutkan, bahwa keberadaan goa di kawasan Cibitung (Pasir Jampang) sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata minat khusus dan umum, karena tingkat kesulitan goa-goa tersebut sangat bervariasi dan akses ke lokasinya yang sangat mudah dijangkau. (*)

 

Dune The Karangbolong

 

DUNE adalah sebuah istilah atau julukan yang diberikan oleh para penggiat olahraga wisata dirgantara (Paragliding dan Gantole) untuk menyebutkan kawasan bentang alam pantai yang memiliki gundukan dan bukit-bukit pasir dengan ketinggian yang bervariasi, sehingga dengan keberadaan bukit-bukit tersebut ditambah dengan potensi tiupan angin yang cenderung konstan di kawasan pesisir pantai, menjadikan kawasan itu sangat cocok untuk berkegiatan olahraga wisata dirgantara (Gantole dan Paragliding).

Menurut testimoni beberapa penggiat/atlit gantole dan paragliding yang pernah melakukan terbang di sana mengatakan, bahwa kawasan itu bisa dikembangkan untuk wisata dirgantara Paragliding ‘Fun Flight’.

Bahkan menurut seorang penerbang Gantole senior Dadang Hasanudin yang kini menjadi pelatih nasional Gantole dan rutin datang membawa siswa-siwa Gantolenya ke Karangbolong, menyebutkan kalau daerah ini sangat ideal untuk menjadi kawsan Diklat Nasional Gantole selain pantai Parangtritis di Jogja, bahkan menurutnya lagi kawasan pantai Karangbolong merupakan tempat terbaik untuk kegiatan pendidikan dan latihan dasar Gantole di Indonesia. (*)

loading...

About admin

x

Check Also

Mengupas Sejarah Sukabumi (1)

Daerah Priangan Nan Subur, Kaya Potensi Wisata Ngobrol Santai (Ngobras) edisi ke-16 ...