Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Mengenang Pejuang Emansipasi Wanita

Mengenang Pejuang Emansipasi Wanita

MELAHIRKAN KARTINI-KARTINI MASA KINI MELALUI PEMBELAJARAN HOTS

Dialah Raden Ajeng Kartini (R.A Kartini), seorang pahlawan nasional karena kegigihannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi (emansipasi wanita) dalam berbagai aspek kehidupan. Upaya beliau telah mendapat apresiasi dari Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia N0. 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 sebagai pahlawan kemerdekaan nasional dan dinyatakan hari kelahiran beliau (21 April) sebagai ‘Hari Kartini’.

Perjuangan Kartini dalam ketetanegaraan RI sekarang ini telah diakui, secara tegas tersurat pada pasal 27 dan 28 UUD NRI Tahun 1945 dimana antara pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama. Begitu juga dalam Sistem Pendidikan Nasional (UU N0. 20/2003) ditegaskan bahwa ‘pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjujung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa’.

Kaitannya dengan semangat R.A. Kartini yang ingin menjadikan wanita lebih kreatif, terdidik, memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagaimana kaum pria, maka peran pendidikan sangat dominan.

Pemikiran ini senada dengan Dyer, J.H. et al (2011) yang mengemukakan ‘bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik’.

Pembelajaran sebagai ruh/jantungnya pendidikan memiliki peran yang besar dalam mengembangkan semangat R.A. Kartini. Sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang harus berpusat pada peserta didik, maka aktivitas peserta didik difokuskan pada keterampilan berpikir kritis dan sejumlah keterampilan (life skill) yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan kehidupan yang sebenarnya di masyarakat. Sehubungan hal tersebut, maka perubahan pada pembelajaran menjadi sebuah keharusan

Dalam Kurikulum 2013, semangat dan perjuangan R.A. Kartini telah masuk dengan adanya keharusan pembelajaran (termasuk penilaian) Higher Order Thinking skill’s (HOTS). Suatu tuntutan agar peserta didik mengikuti proses belajar dengan keterampilan berpikir tinggi seperti keterampilan menganalisis, keterampilan mengkreasi dan keterampilan mencipta.

Kemampuan R.A. Kartini yang telah berhasil memperjuangkan hak-hak wanita merupakan contoh nyata berpikir tingkat tinggi. Pandangan atau gagasan R.A. Kartini tersebut merupakan buah pikiran hasil analisis terhadap kenyataan pada waktu itu dimana kaum wanita dihadapkan dengan sejumlah keterbatasan, seperti kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.

Pemikiran R.A. Kartini sekarang ini semakin dibutuhkan mengingat jaman yang berkembang semakin cepat, semakin kompleks dan semakin mendunia. Sehubungan hal tersebut maka upaya melahirkan Kartini-Kartini masa kini merupakan suatu kebutuhan. Tuntutan seperti ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan.

Pembelajaran yang mengarah kepada berpikir tingkat tinggi (HOTS) seperti ditegaskan pada Kurikulum 2013 merupakan keputusan yang tepat dan relevan.

Namun permasalahannya adalah apakah pembelajaran (Penilaian) kita secara umum sudah mengarah seperti itu ? Inilah yang yang harus menjadi bahan pemikiran guru, menjadi bahan inovasi guru, dan pada akhirnya menjadi salah satu kontribusi guru bagi kemajuan bangsa Indonesia seperti diperjuangkan R.A. Kartini.

Perubahan pada pendekatan, strategi atau metode pembelajaran yang mengarah pada HOTS harus menjadi prioritas guru dalam pelaksanaan tugas kesehariannya.

Implementasi HOTS dalam penilaian adalah bukan hanya mengurangi kemampuan mengingat (recall), tetapi lebih sering pada mengukur kemampuan transfer satu konsep ke konsep lainnya, memproses dan menerapkan informasi, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menggunakan berbagai informasi untuk menyelesaikan masalah serta menelaah ide dan informasi secara kritis.

Adanya keajegan antara proses pembelajaran dan penilaian yang mengarah pada HOTS memberikan peluang yang lebih besar terhadap keberhasilan pembelajaran HOTS seperti yang diharapkan.

Upaya ini harus menjadi pembiasaan dalam pembelajaran sehingga para peserta didik terlatih berpikir tinggi sebagaimana dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat di era global sekarang ini.

Pembelajaran HOTS sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik dalam menghadapi persaingan global sekarang ini. Guru diharapkan mampu membekali peserta didik dengan sejumlah keterampilan yang dibutuhkan bagi kehidupannya, sebagaimana telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia.

loading...

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Melangkah Dengan Pasti Di 103 Tahun Kota Sukabumi

Bagi manusia, usia satu abad bisa disebut telah memasuki masa udzur. Namun ...