Home / INTERNASIONAL / Perang Syria : AS Ambisi Gulingkan Assad, Rusia dan Iran Dukung Damaskus
MENENTANG: Warga di Tunisia kemarin WIB membawa bendera Syria dan poster Presiden Bashar Al Assad dalam protes atas serangan AS. (Zoubeir Souissi/REUTERS)

Perang Syria : AS Ambisi Gulingkan Assad, Rusia dan Iran Dukung Damaskus

Rezim Syria harus segera berganti. Pesan itu disampaikan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley dalam wawancara eksklusif dengan CNN yang tayang kemarin (9/4). Sikap yang benderang tersebut menegaskan posisi Washington atas konflik terbesar abad ke-21 yang terjadi di tempat yang dalam sejarah Islam kerap disebut sebagai Tanah Syam itu.

”Saat ini, melengserkan Assad adalah satu-satunya prioritas kami,” kata Haley. Pernyataan perempuan 45 tahun tersebut itu sekaligus menegaskan perubahan sikap Presiden AS Donald Trump terhadap Damaskus yang semula abu-abu.

Senjata kimia yang merenggut sedikitnya 86 nyawa di Kota Khan Sheikhun, Distrik Maarrat al-Numan, Provinsi Idlib, Syria, membuat Trump berubah pikiran. Sebelumnya dia telah mengirimkan 58 Tomahawk ke Pangkalan Udara Shayrat pada Kamis (6/4) malam waktu Amerika Serikat atau Jumat (7/4) dini hari waktu Syria.

Sejak menjabat presiden, Trump terkesan menghindari isu tentang Syria. Taipan 70 tahun itu memang menjanjikan kebijakan yang berbeda dengan Barack Obama. Dia mengaku tidak akan memaksa Assad lengser karena rakyat Syria masih mengakui legitimasinya. Dia tidak mau seperti Obama yang berang ketika Damaskus melanggar red lines yang AS ciptakan sebagai batas toleransi.

Trump memang tidak mengekor Obama. Dia jarang berkomentar tentang Syria. Tapi, Kamis lalu, dia berubah haluan saat rezim Assad terkonfirmasi menggunakan senjata kimia di Khan Sheikhun. Kali ini, tanpa peringatan, presiden ke-45 AS itu langsung memerintah dua kapal perang yang berada di kawasan Timur Tengah menghujani Syria dengan Tomahawk.

Washington menyebut pangkalan udara yang hancur lebur akibat Tomahawk itu sebagai lokasi lepas landasnya jet-jet tempur yang mengangkut bom berisi gas pelemah saraf Selasa (4/4). Tapi, selain menghancurkan gudang senjata dan sejumlah jet tempur, serangan ASmengakibatkan beberapa nyawa melayang.

Yang jelas, serangan ke Pangkalan Udara Shayrat itu membuat Damaskus berang. Juga, Moskow dan Teheran. Kemarin, dalam percakapan jarak jauh via telepon, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani sepakat menyebut tembakan 58 Tomahawk AS itu sebagai salah satu bentuk pelanggaran hukum internasional. ”Agresi AS di Syria itu tidak bisa dibenarkan,” sebut Kremlin dalam pernyataan resminya.

Putin dan Rouhani juga sama-sama menolak investigasi di Khan Sheikhun terkait serangan gas beracun yang diduga sarin. Meski AS dan negara-negara Barat yakin bahwa pasukan Assad-lah yang melancarkan serangan tersebut, dua sekutu Damaskus itu tetap yakin rezim Assad tidak bersalah. Sebagai bentuk penolakan investigasi, Rusia dan Iran justru menegaskan kembali dukungan mereka terhadap Assad.

”Kami siap meningkatkan kerja sama di bidang keamanan untuk memerangi terorisme di Syria.” Bunyi keterangan Kremlin dalam situs resminya. Mereka tetap berpegang pada klaim awal Rusia yang menyebut gas kebiruan dan kekuningan itu milik oposisi. Moskow menegaskan bahwa gas beracun itu muncul dari gudang senjata oposisi yang jadi target serangan. Padahal, gudang Khan Sheikhun sudah enam bulan kosong.

Dalam pernyataan sikapnya pasca serangan gas beracun yang menuai kutuk Dewan Keamanan (DK) PBB Selasa lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson menyatakan, Assad tak layak lagi menjadi presiden. Sebab, pemimpin 51 tahun itu tega menghabisi rakyatnya sendiri dengan senjata kimia. PBB juga menjajaki kemungkinan untuk menyeret Assad ke meja hijau sebagai penjahat perang.

Hingga kemarin, sikap London belum berubah. Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Theresa May itu tetap menyebut Assad bertanggung jawab atas serangan gas di Khan Sheikhun. Inggris mendesak Assad lengser. Desakan yang sama disampaikan Muqtada al-Sadr. Ulama radikal itu menjadi tokoh Iraq pertama yang menyerukan agar Assad meletakkan jabatan.

Lengsernya Assad atau bergantinya rezim Syria diyakini AS sebagai solusi krisis. ”Syria tidak akan pernah menjadi negara yang damai jika Assad masih berkuasa,” tambah Haley. Setelah rezim berganti, agenda AS selanjutnya adalah memerangi ISIS dan membersihkan Syria dari pengaruh Iran. (AFP/Reuters/CNN/BBC/hep/c17/sof)

loading...

About admin

x

Check Also

Obama Senang Lihat Sawah dan Trabas Arus Sungai Ayung

Tak henti-hentinya, Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama masih menikmati suasana ...