Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Melangkah Dengan Pasti Di 103 Tahun Kota Sukabumi
Kang Warsa Guru MTs Riyadlul Jannah- Anggota PGRI Kota Sukabumi

Melangkah Dengan Pasti Di 103 Tahun Kota Sukabumi

Bagi manusia, usia satu abad bisa disebut telah memasuki masa udzur. Namun untuk sebuah kota, usia satu abad lebih baru memasuki fase golden age atau masa emas. Seperti halnya manusia, di masa golden age ini merupakan fase terpenting dalam kehidupan, akan menjadi apa dan akan bagaimana ke depannya kehidupan ditentukan pada fase ini.

Kata kota menurut definisi secara terminologi merupakan pertemuan dan tempat pemukiman kaum urban. Kota tentu saja berbeda dengan perkampungan, hal ini ditentukan oleh cara hidup warganya. Sebuah kota bisa dikatakan lebih maju dan modern jika dibandingkan dengan perkampungan. Karena kota diisi oleh mereka – para kaum urban – tentu memiliki sikap dan tabiat bagaimana kaum urban menghadapi kehidupan.

Kota Sukabumi memang masih jauh dikatakan sebagai pusat kaum urban karena selama satu abad lebih ini hanya merupakan sebuah kota kecil, bahkan diawal terbentuknya menjadi sebuah kota praja, Sukabumi masih merupakan tempat tujuan warga Belanda. Di bagian utara Kota Sukabumi terdapat beberapa sisa pemukiman orang-orang Belanda. Salah satu komunitas di Sukabumi, misalnya Sukabumi Heritages memokuskan perhatian dan penelitian Sukabumi terhadap hal ini.

Dengan kata lain, Kota Sukabumi baru bisa disebut sebagai kota yang diisi oleh para neo-urban. Warga neo-urban memiliki sifat yang canggung atau pertengahan antara sifat yang dimiliki oleh kaum urban dan rural. Lahirnya watak-watak neo urban ini bisa terlihat melalui tindakan-tindakan warga kota sendiri. Sejak era reformasi, di beberapa sudut perkotaan mulai muncul situs-situs kuliner yang memiliki cita rasa urban, harga satu cangkir kopi saja bisa dihargai Rp. 17.000,-. Ini merupakan salah satu contoh fenomena masyarakat neo-urban.

Pusat-pusat perbelanjaan semacam warung makan, café, dan tempat hiburan mewarnai fase sebuah kota memasuki era neo urban. Komunitas-komunitas lahir sebagai dampak sebuah kota telah siap memasuki era neo urban. Setiap Sabtu malam, komunitas-komunitas tersebut memadati pinggir-pinggir jalan sekadar untuk kongkow atau nongkrong semata.

Pemerintahan sendiri telah bermetamorfosis dari Pemerintah Kota Madya menjadi Pemerintah Kota. Seperti halnya kota-kota bercirikan neo urban, Pemerintah Kota Sukabumi pun telah melakukan restrukturisasi di berbagai bidang. Rehabilitasi ruang publik hingga ruang privasi. Di era kepemimpinan Muhammad Muraz ini, Lapang Merdeka Kota Sukabumi telah dikembalikan kembali kepada fungsi semula sebagai sebuah lapang. Dinas-dinas dan SKPD yang membidangi pengelolaan Tata Ruang dan Lingkungan telah membangun taman-taman perkotaan. Alun-alun pun telah disesuaikan dengan kemajuan zaman, dilengkapi oleh fasilitas internet, adanya wifi corner, dan tempat-tempat duduk yang ditata sedemikian rupa.

Hal yang perlu dibenahi oleh Pemerintah Kota Sukabumi di masa golden age ini adalah belum maksimalnya penataan jalan, ketersediaan pasar yang nyaman, dan bioskop. Sudah hampir satu tahun, sejak eksekusi pembangunan Pasar Pelita digagas oleh Pemerintah Kota Sukabumi melalui pihak pengembang, sampai saat ini, pasar tersebut masih menyisakan kenangan yang benar-benar membekas bagi pedagang dan masyarakat Kota Sukabumi. Pasar tradisional memang tetap berjalan namun dari sisi apapun, sebuah kota tetap membutuhkan adanya pasar modern yang nyaman dan memberikan ciri sebagai sebuah wilayah neo urban.

Hal tersebut, secara politis merupakan satu kekurangan bagi kepemimpinan Muhammad Muraz dalam pencalonan kembali sebagai Calon Walikota pada Pilkada 2018 mendatang yang harus terus dibenahi. Bagi Pemerintah Kota sendiri, lamanya proses pembangunan Pasar Pelita bisa saja dielak bukan kesalahan siapa pun, karena secara prosedural langkah-langkah pembangunan pasar tersebut telah dilalui sesuai peraturan yang ada. Namun, secara politis, partai-partai oposan yang memiliki kepentingan lain akan menjadikan hal ini sebagai senjata untuk menyerang bukan hanya pemerintah juga individunya sendiri.

Hampir semua Kota di negara ini memiliki jargon yang tertuang dalam visi dan misinya. Saat Kota Sukabumi mulai memasuki era goden age, di masa kepemimpinan Muslikh Abdusysukur (alm) masih melekat semangat: Sukabumi Melangkah dengan Pasti. Slogan itu tercantum pada spanduk, baligho, banner, dan billboard-billboard, kemudian disempurnakan dengan slogan tambahan – saat Muslikh Abdusysukur (alm) terpilih kembali menjadi Walikota di tahun 2008- Sukabumi sebagai Kota Berparadigma Surgawi.

Slogan “Paradigma Surgawi” dari sisi bahasa tampak menunjukkan visi cukup tinggi – dengan kata lain – terlalu melangit. Pemerintah baru di bawah kepeminpinan Muhammad Muraz, sesuai dengan visi dan misi yang disampaikan oleh pasangan Muraz-Fahmi pada penyampaian visi misi calon Walikota dan Wakil Walikota di Gedung DPRD Kota Sukabumi, empat tahun lalu, pasangan ini menyodorkan visi: Dengan Iman dan Taqwa Mewujudkan Pemeritahan yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Sudah tentu, visi ini harus diwujudkan oleh pasangan Muraz-Fahmi ketika terpilih sebagai walikota dan wakil walikota.

Secara bahasa, visi ini lebih membumi jika dibandingkan dengan visi pemerintah sebelumnya. Dari dunia surgawi melangit ke alam yang lebih membumi.

Prinsip yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat Sukabumi di usia golden age ini adalah sesuai dengan apa yang tertera pada logo kota: Reugreug Pageuh, Répéh Rapih. Bukan sebaliknya, menjadi Rugrug Pareum, Répéh Ripuh. Ajaran ini telah diwasiatkan oleh orangtua kita dalam satu peribahasa: Nété Tarajé, Nincak Hambalan, artinya untuk mencapai tujuan dan visi harus melalui proses tahapan, tidak gerarak-gerusuk. Sama halnya dengan Kota Sukabumi, untuk mewujud dari daerah rural, rural-urban, menjadi urban memerlukan kesiapan seluruh lapisan warga agar tidak melahirkan gegap budaya atau cultural shocks dalam kehidupan. (*)

loading...

About admin

x

Check Also

MENCARI PEMBENARAN DAN KEBENARAN

Hampir mayoritas manusia  termasuk di dalamnya penulis-cenderung masih belum bisa memilah dan ...