Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Apakah Anda Guru Malin Kundang?
Oleh : Dudung Koswara, M.Pd (Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Apakah Anda Guru Malin Kundang?

Beberapa tahun yang lalu penulis membuat opini  di sebuah koran grup Jawa Pos  dengan judul “Guru Sangkuriang.”  Tulisan ini sempat membuat pro kontra dikalangan para guru. Mengapa mendatangkan pro kontra? Diantaranya karena mengurai tentang dinamika profesi guru sebagai teladan ternyata realitasnya tidak sedikit  atau mayoritas guru bermental telatan (ngaret).

Guru telatan inilah yang penulis sebut Guru Sangkuriang. Guru Sangkuriang adalah guru yang suka “kabeurangan” atau terlambat masuk sekolah, namun pulang lebih cepat. Penulis menyentil tentang begitu “sulitnya” menjadi guru yang paling siang datang kesekolah karena selalu akan ada guru yang lebih siang lagi. Namun, bila ingin menjadi guru yang paling pagi datang ke sekolah akan mudah karena hanya sedikit guru yang suka datang lebih awal di sekolah sebelum siswanya hadir.

Berbeda dengan tulisan Guru Sangkuriang  penulis ingin menyentil sosok guru Malin Kundang. Guru Malin Kundang adalah guru yang lupa “Ibu Kandung” saat sudah sejahtera, sukses dan mendapatkan karir dan jabatan. Tidak sedikit guru yang apatis dan tak ingat “Ibu Kandungnya.”  Ibu Kandung para guru adalah PGRI. PGRI sudah hadir sebelum negeri  yang bernama NKRI ada.

Ibu kandung para guru berawal dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932 dan sekarang PGRI yang lahir 100 hari pasca kemerdekaan untuk “melindungi” eksistensi para guru sebagai anak kandungnya. Tidak sedikit para guru masa kini yang lupa masa lalu, lupa masa derita periode Oemar Bakri.

Kini para guru tidak sedikit yang sejahtera, mandiri dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Kesejahteraan para guru itu identik dengan perjuangan Sang Ibu Kandung (PGRI) yang  selalu berdarah-darah membela para guru. Dari sejumlah perjuangan yang dihasilkan Ibu Kandung adalah adanya Tunjangan Profesi Guru (TPG) dengan nominal satu kali gaji pokok.  Tidak ada organisasi manapun yang berjasa dengan lahirnya TPG selain PGRI.

Ada rahasi yang tak  dapat dibantah bahwa pemerintah sebenarnya tidak berniat memberi TPG. Bahkan bukankah sampai detik ini TPG selalu tersendat dan administrasinya ribet bahkan pernah ada gosip kebijakan TPG akan dihapuskan? Bukankah fenomena UKG yang mau dikaitkan dengan hak TPG pernah menjadi wacana? Bukankah guru sakit, umroh dan menjalankan ibadah haji yang merupakan perintah agama TPG-nya hilang? Bukankah tidak sedikit guru yang sakit harus mengembalikan TPG-nya?

Sekali lagi TPG bukan pemberian pemerintah karena sayang guru melainkan hasil “pemberontakan” Ibu Kandung (PGRI) dalam mensejahterakan para guru sebagai anak-anaknya. Sayang sekali dalam analisa penulis dan refleksi cukup lama sekaitan etika dan sikap para guru anggota PGRI masih terdapat guru-guru yang bermental Malin Kundang. Lupa Ibu Kandung yang telah berdarah-darah melahirkan TPG.

Bahkan ada cerita yang lebih “unik” di suatu daerah ada oknum  yang mengumpulkan atau mengutip sejumlah uang dari para guru dengan alasan untuk administrasi pencairan TPG. Uang hasil pengutipan itu bila dihitung sejak adanya TPG bisa mencapai jumlah yang pantastis. Mengalirnya entah kemana? Sejak era saber pungli dari Presiden Jokowi yang akan memberi sanksi pada siapapun pelaku pungli bahkan Rp 10.000 maka pengutipan liar itu mulai menahan diri.

Sangat aneh bila para guru harus menyetor  anggaran yang dikolektif oleh petugas tertentu kemudian menyetor pada birokrasi di atasnya. Ini sangat keterlaluan. Inilah yang disebut Guru Malin Kundang. Memberi pada “orang lain” dan kikir pada Ibu Kandung (PGRI) padahal Sang Ibulah yang membidani lahirnya TPG. Sedikitpun Ibu Kandung (PGRI) tidak pernah mendapatkan sumbangan langsung dari dana TPG yang diperoleh para guru.

Selain anomali di atas mari kita lihat perilaku Guru Malin Kundang yang dapat kita temukan dalam keseharian kita. Bukankah para guru, kepala sekolah, pengawas sekolah mayoritas mendapatkan TPG? Mengapa mereka sebagian tak peduli dengan Ibu Kandung (PGRI)? Minimal tanggal 25 atau seminggu sekali menggunakan batik PGRI (batik Ibu Kandung). Minimal saat kegitan-kegiatan PGRI proaktif dan antusias karena PGRI telah memberi satu kali gaji pokok setiap bulan yang didapatkan per triwulan.

Sangat menyedihkan bila ada guru yang lebih bangga menggunakan seragam organisasi, komunitas, ormas apapun namanya selain seragam PGRI. Apalagi bila dikaitkan dengan  kepentingan politik daerah. Ini sebuah mental “menyemir” yang cantik tapi kurang bijak bila lupa Ibu Kandung. Mengapa? Karena organisasi lain bukan organisasi yang utama bagi profesi guru dan tidak pernah terkait dengan perjuangan kesejahteraan (TPG).

Mayoritas guru lupa pada  Ibu Kandung yang telah merubah Oemar Bakri menjadi Haji Umar Bakrie.  Para guru, kepala sekolah, pengawas tidak sedikit bahkan banyak sekali yang apatis dan tak peduli pada dinamika Ibu Kandung (PGRI). Iuran  PGRI seharga  setengah porsi mangkuk baso dipermasalahkan, seolah tak percaya. Beda dengan kutipan untuk pencairan TPG yang diduga mengalir ke atas dengan jumlah fantastis begitu rela.  Padahal sekali lagi TPG bukan dari “rahim” birokrasi melainkan dari rahim Ibu Kandung”

Hayo para guru Malin Kundang bangun!!! Jangan sadar hanya ketika ada gerakan saber pungli, kriminalisasi guru, telatnya pencairan TPG, politisasi guru,  kepsek yang diberhentikan (Kasus Bandung dll.).  Sadarlah para guru jangan hanya mencari perlindungan Ibu Kandung saat “sakit”. Guru bukan sosok Al Qomah dalam kisah para nabi. Sadarlah Ibu Kandung adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi dan perjuangan para guru. PGRI Abadi seabadi ibu pertiwi. Abadilah kesetianmu. (*)

loading...

About admin

x

Check Also

Ada yang Berani Mengadili Facebook?

Tepat sepuluh tahun silam pada Sabtu di awal Maret 2017 sekira pukul ...