Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / NGOBROL SANTAI KEPARIWISATAAN / Mengupas Sejarah Sukabumi (1)
Narasumber dan peserta Ngobras edisi ke 16 di Hotel Selabintana, Selasa (1/3), foto bersama usai kegiatan.

Mengupas Sejarah Sukabumi (1)

Daerah Priangan Nan Subur, Kaya Potensi Wisata

Ngobrol Santai (Ngobras) edisi ke-16 kali ini sedikit berbeda. Topik pembahasan lebih kepada mengupas sejarah Sukabumi.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi yang berlangsung di Hotel Selabintana, Selasa (1/3) lalu itu, Ketua TIC H. Dadang Hendar danG. Rangga Pamungkas, Founder Komunitas Soekaboemi History. Berikut ulasannya.
==============

KATA Soekaboemi atau Sukabumi sendiri berasal dari bahasa Sunda ‘soeka-boemen’ yang bermakna betah dan nyaman untuk ditinggali, sehingga mereka yang datang tidak ingin pindah lagi karena suka dengan kondisi alamnya yang sejuk. Rakyatnya yang ramah tamah  dengan alamnya yang sangat indah.

Groote Postweg (Jalan A. Yani)

 

Societeit Soekamanah Groote Postweg (sekarang Kapitol Jalan A. Yani) 1933

Bermula dari komoditas kopi yang banyak dibutuhkan VOC, Van Riebeecks dan Zwadecroon berusaha mengembangkan lebih luas tanaman kopi di sekitar Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.

Pada 1709 Gubernur Abraham Van Riebek mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan (Cisarua), Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi.

Inilah salah satu alasan kemudian hari dibangunnya jalur lintasan kereta api yang menghubungkan Soekaboemi dengan Buitenzorg dan Batavia di bagian barat dan Tjiandjoer (ibukota Priangan) serta Bandoeng di timur dimana tujuannya adalah untuk lebih memudahkan pengangkutan hasil-hasil bumi tersebut ke Batavia untuk “diekspor” lewat pelabuhan Sunda Kalapa (Sunda Kelapa).

Daerah Priangan yang membentang dari perbatasan Bantam (Banten) hingga daerah perbatasan Cirebon dikuasai VOC sejak 1677.

Semula daerah Priangan ini termasuk pengaruh Kerajaan Mataram.

Namun diambil alih oleh pemberontakan Tarunajaya dan Surapati.

Pada 1696 tanaman kopi masuk pulau Jawa.Setelah sekitar Batavia ditanami kopi oleh Gubernur Jenderal van Outhporn, maka beberapa tahun kemudian bibit tanaman kopi diserahkan kepada beberapa bupati di Priangan dan Cirebon.

Pada tahun 1711 Bupati Cianjur Wiratanudatar III (Dalem Condre) mendapat panen yang pertama.

Gubernur Jenderal Van Riebeeck dan Gubernur Jenderal Zwadecroon berusaha mengembangkan lebih luas tanaman kopi di sekitar Bogor, Cianjur dan Sukabumi (yang belum menjadi daerah yang terlepas dari Cianjur).

Semula hasil kopi diperdagangkan secara bebas, kemudian ada penentuan harga secara sepihak oleh VOC, dan akhirnya pada 1740 diadakan peraturan Contingenten (wajib setor sejumlah tertentu).

Para bupati di Cirebon wajib menyerahkan 12 ribu pikul/kuintal setiap tahunnya.

loading...

About admin

x

Check Also

Berdayakan Masyarakat Kelola Pariwisata, Jangan Jadikan Penonton

SUKABUMI -Pariwisata di Sukabumi harus terus dikembangkan oleh segenap komponen masyarakat, karena ...