Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / NGOBROL SANTAI KEPARIWISATAAN / Berdayakan Masyarakat Kelola Pariwisata, Jangan Jadikan Penonton

Berdayakan Masyarakat Kelola Pariwisata, Jangan Jadikan Penonton

SUKABUMI -Pariwisata di Sukabumi harus terus dikembangkan oleh segenap komponen masyarakat, karena pariwisata sering dimarginalkan, sehingga kurang diperhatikan untuk dikembangkan.

Pariwisata sering diasosiasikan dengan kemaksiatan dan hal ini menjadi masalah bagi insan pariwisata di Sukabumi. Sekali pun termarjinalkan, para penggiat pariwisata di Sukabumi terus berjuang untuk membangun dan memperkenalkan pariwisata Sukabumi, sehingga sedikit demi sedikit kesan pariwisata maksiat dapat berkurang.

Permasalahan tersebut menjadi topik diskusi dalam acara Ngobrol Santai (Ngobras) di Brendita Camping Ground, Desa Neglasari Kecamatan Nyalindung, Sabtu (25/2).

Ketua TIC Dadang Hendar mengatakan, potensi pariwisata harus terus dikembangkan karena ini menyangkut hayat hidup orang banyak di Kabupaten Sukabumi. Masyarakat harus dibantu dalam menopang kebutuhan hidupnya dengan potensi daerah yang ada.

“Potensi pariwisata di daerah Sukabumi ada ratusan objek wisata, misalnya ada ratusan air terjun,  puluhan sungai, sumber air panas, pantai, hutan, dan lain-lain.

Jika masyarakat diberdayakan dalam pengelolaan potensi wisata, dapat menopang penghasilan masyarakat, sekaligus mendatangkan PAD untuk Kabupaten Sukabumi yang nanti juga dikelola pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat,” papar Dadang.

Dijelaskannya, Sukabumi sudah diapresiasi oleh pemerintah menjadi daerah destinasi wisata terbanyak  di  Indonesia.

Pengakuan dari dunia Internasional seperti PBB yaitu UNESCO juga didapatkan. Atas peran serta masyarakat penggiat pariwisata dan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, sudah terbentuk Komunitas Penggiat Pariwisata (Kompepar) Sukabumi di 36 titik.

“Perlu diketahui bahwa Kompepar di Kabupaten Sukabumi ini, mendapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia diurutan terbaik kedua di Indonesia setelah Bali diatas Sumatra Barat,” katanya.

Ia berharap, pemerintah memiliki langkah-langkah untuk mengamankan dan memberdayakan masyarakat pariwisata dalam persaingan dengan bangsa lain yang juga berminat terhadapat pariwisata di Indonesia, khususnya di Sukabumi.

Karena tidak mustahil para penggiat pariwisata akan head to head menghadapi persaingan dengan bangsa asing dalam pengelolaan pariwisata.

Misalnya konsep pembangunan homestay untuk pariwisata. Homestay adalah konsep ketahanan negara yang akan menyelamatkan potensi bisnis anak bangsa, maka peran negara diperlukan. Pemberdayaan masyarakat semacam ini adalah untuk menjadi generasi pencari solusi yang dapat mandiri serta memiliki kearifan lokal.

“Perlunya juga memberikan kesempatan bagi para wirausahawan, seperti Brandita Camping Ground dan banyak lagi wirausahawan lainnya, yang sudah memberdayakan atau melibatkan masyarakat setempat sehingga memiliki pendapatan,” jelasnya.

Sementara itu, Owner Brendita Camping Ground, Harumbi mengatakan pengusaha yang bergerak di bidang pariwisata perlu mendapat dukungan banyak pihak dari masyarakat maupun pemerintahan. Tentu saja pengusaha hendaknya tidak hanya mencari keuntungan semata, namun ada juga memiliki rasa kepedulian terhadap warga sekitar dengan mengutamakan mereka untuk menjadi karyawan atau patner kerja.

“Namun memang masih adanya keterbatasan sumberdaya  manusia menjadi masalah dalam pengembangan potensi usaha,” katanya.

Hal senada disampaikan anggota HPI Alex. Menurutnya, pariwisata memang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga lokal sekitar lokasi wisata.

Namun disayangkan, kadang pelaku-pelaku wisata sering membawa operator dari luar daerah yang benar-benar profit oriented, sehingga masyarakat setempat hanya menjadi penonton dan tidak mendapat keuntungan.

Menanggapi hal tersebut perlu diberdayakannya masyarakat setempat dengan dididik untuk memiliki kemampuan mengelola potensi yang ada, misalnya keterampilan fisik dan pengetahuan tentang gua, air terjun, arung jeram, dan lain-lain. Selain itu juga keterampilan manajemen tata kelola pariwisata.

“Pemberdayaan  masyarakat  dikelola  dengan konsisten dan berkesinambungan akan menjadikan masyarakat tangguh dan mandiri hingga  layak memiliki saham pada badan usaha milik desa, seperti terjadi  pada beberapa desa  di Jawa Timur.

Tentunya hal yang sama dapat direalisasikan di desa-desa yang ada di Kabupaten Sukabumi, hingga Pariwisata Sukabumi yang mendatangkan manfaat bagi semua pihak,”pungkasnya. (cr10/e)

loading...

About admin

x

Check Also

Mengupas Sejarah Sukabumi (1)

Daerah Priangan Nan Subur, Kaya Potensi Wisata Ngobrol Santai (Ngobras) edisi ke-16 ...