Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / KISAH PENSIL WARNA DAN NIETSZCHE
Kang Warsa Guru MTs Riyadlul Jannah- Anggota PGRI Kota Sukabumi

KISAH PENSIL WARNA DAN NIETSZCHE

Di Sukabumi, bahkan di daerah-daerah lain pernah ada kalimat – ketika siapa saja memerhatikan sikap manusia lain – karena kompleksitas dan keheterogenannya diucapkanlah: “ Ah, namanya juga hidup, seperti pensil warna!”. Sementara itu, untuk menunjukkan, apapun yang berada di luar diri kita, di luar jangkauan berpikir dan berlogika kita, maka diucapkan lah: “ Ada-ada saja!” Dengan bahasa sederhana bisa disebutkan, kehidupan ini memang begitu majemuk, kompleks, dan heterogen, beraneka warna.

Penganalogian dan perumpamaan pensil warna terhadap kehidupan yang begitu kompleks serta majemuk ini bukan hal aneh. Dalam kehidupan manusia tersaji aneka warna, putih hingga hitam, terang hingga gelap, dan lainnya. Sebenarnya hal ini merupakan bentuk absurditas ketika kita memperbincangkan terang dan gelap saja, yang ada sebenarnya – secara ilmiah – tidak ada itu wujud gelap, gelap ini lahir karena tidak ada cahaya, yang ada adalah ketidakhadiran cahaya. Unsur-unsur di permukaan inilah yang sering menjebak siapapun untuk tetap memperdebatkan bahwa terang dan gelap merupakan dua keadaan yang saling bertolak-belakang. Maka, kompleksitas dalam kehidupan ini mewujud menjadi sebuah gambar atau lukisan. Bukan hanya sekadar sebuah sketsa.

Gambar dan lukisan akan terlihat jelas ketika kita –sebagai pengamat, orang yang mengawasi, orang yang melihat- memosisikan diri berada di luar obyek, jarak diri dengan lukisan begitu tepat, tidak terlalu dekat atau tidak terlalu jauh. Terlalu berada pada salah satu kutub hanya akan menghasilkan sebuah pengamatan yang mendistorsi diri atau sebaliknya  pandangan menjadi sangat kabur, obyek-obyek tidak teramati secara obyektif.

Sikap memosisikan diri sebagai subyek ketika mengamati obyek dengan penuh kehati-hatian akan menghasilan obyektivitas. Hanya saja, karena kita ini sebagai subyek, sudah tentu apa saja hasil dari pengamatan, bahkan pemikiran kita sering tampak tidak lepas dari subyek diri, rasa, perasaan, rasio, dan hati. Kesemuanya berbaur. Sebagai contoh, kita mengamati perkembangan kisruh di dalam negara, hanyut dalam sarkasme, logika kita akan mengatakan: ini murni politis, namun perasaan kita akan mengatakan: kita harus mengambil posisi, bahwa kita sebaiknya berada di pihak yang memiliki hubungan emosional lebih dekat dengan kita.

Dilema dan ambivalensi rasio dengan rasa bukan merupakan hal aneh. Ada ukuran yang lebih tepat terhadap persoalan apapun yaitu hati. Persoalan kisruh antara Budha Radikal yang dipimpin oleh Ashin Wirathu bisa saja dielak dengan logika: murni politis, tetap hati manusia, tanpa melihat agama apapun yang dianut oleh satu kelompok akan mengatakan: pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan oleh siapapun tetap merupakan pekerjaan yang pantas dilakukan oleh iblis. Apalagi ketika pembantaian sesama manusia dibalut oleh selimut agama, sangat berparadoks dengan inti ajaran setiap agama yang mengajarkan kepada pemeluknya agar saling mengasihi.

Sebagai makhluk yang telah diciptakan oleh Alloh, semua manusia pada dasarnya menganut teisme murni, manusia memercayai terhadap kekohohan obyektivitas Kholik. Dalil-dalil di dalam hampir semua kitab suci mepertajam keobyektifitasan Alloh dengan penyebutan: Dia Yang Maha Adil. Maka, karena hanya Tuhan yang maha obyektif inilah, penilaian apapun tentang keyakinan dan tingkah-laku manusia merupakan hak mutlak Alloh, penilaian manusia terhadap keyakinan manusia lain hanya penilaian nisbi.

loading...

About admin

x

Check Also

Jadilah ‘Tim Sukses’ Pilwalkot 2018

Tidak hanya di media cetak dan maya, sudut warung kopi, tempat parkir, ...