Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Memilih Calon Pemimpin yang Bertakwa
Oleh: Eka Budiyanto Staff Pengajar SMA Hayatan Thayyibah Kota Sukabumi

Memilih Calon Pemimpin yang Bertakwa

Februari 2017 bisa dikatakan sebagai bulannya pemilu karena tidak kurang dari 101 daerah akan melaksanakan pemilu kepala daerah secara langsung. 101 daerah tersebut adalah 7 provinsi, 76 kabupaten dan 18 kota. Seperti pemilu-pemilu sebelumnya, setiap partai senantiasa melakukan manuver-manuver politik yang sekiranya dapat memenangkan calon yang diusungnya.

Tawar-menawar, lobi politik atau hanya sekedar berfoto bersama dengan tokoh masyarakat untuk menaikkan popularitasnya adalah menjadi bagian rutinitas setiap sebelum pemilu diselenggarakan, sama saja apakah pemilu legislatif atau pemilu eksekutif. Bahkan tidak sedikit para calon berkampanye sebelum jadwal kampanye direlease oleh KPU walaupun mereka mengatakan hal tersebut bukanlah kampanye.

Apapun nama dan bentuknya, inti dari kampanye ada tiga hal yaitu mengenalkan individu calon kepada konstituen, mengenalkan program dan janji-janji yang hendak dilaksanakan ketika terpilih dan tentunya para calon berharap konstituennya memilih dirinya.

Dari sekian banyak daerah yang akan menyelenggarakan pemilu kepala daerah secara langsung, sekiranya penyelenggaraan pemilu kepala daerah provinsi DKI-lah yang paling banyak menyorot perhatian. Selain karena DKI adalah ibukota negeri ini, DKI juga menjadi pusat pemerintahan, pusat perpolitikan dan juga pusat perekonomian.

Di ibukota ini juga beragam latar belakang manusia tinggal di sini. Suhu perpolitikan di ibukota pun memanas jauh sebelum masuk jadwal kampanye. Kasus-kasus seperti pelecehan terhadap Alquran, dugaan korupsi, dan juga adanya cagub yang bergama nasrani menambah panas situasi perpolitikan di ibukota. Begitupun debat-debat berseri yang diadakan oleh KPU menjadi bagian penting bagi para pasangan calon untuk mempromosikan program-programnya dan meyakinkan kepada konstituennya bahwa merekalah yang layak dipilih dan layak menjadi pemimpin.

Umat Islam yang merupakan pemegang saham terbesar negeri ini sudah barang tentu menjadi bidikan utama bagi para pasangan calon untuk memilih mereka. Para pasangan calon pun tak sungkan untuk datang ke pesantren-pesantren, datang ke tokoh-tokoh untuk minta doa restu bahkan tak sedikit dari para pasangan calon tersebut meminta semacam fatwa agar mereka dipilh oleh jamaahnya.

Sebagai sebuah agama yang paripurna, Islam tidak pernah absen dari setiap permasalahan yang dihadapi manusia. Apalagi dalam masalah kepemimpinan, Islam mengatur dengan sangat detail. Hal yang menarik tentu akan terjadi ketika salahsatu pasangan calon atau lebih adalah orang yang beragama non Muslim di tengah-tengah konstituen yang mayoritas muslim seperti di DKI Jakarta.

Berbagai upaya pun akan dilakukan oleh calon tersebut agar dapat dipilih walau predikat dia sebagai seorang non Muslim. Seorang Muslim tentu harus sangat hati-hati dalam menentukan pilihannya. Salah satu yang menjadi kriteria utama calon pemimpin yang akan dipilih adalah predikat dia apakah sebagi seorang Muslim atau non Muslim. Setelah urusan tersebut selesai, maka yang dilihat adalah apakah dia laki-laki atau perempuan, punya kapabilitas atau tidak. Tak kalah penting dari semua itu adalah apakah dia seorang muslim yang bertakwa atau muslim yang fasik.

Takwa secara bahasa bisa diartikan sebagai takut. Ketika kata tersebut ditambah menjadi takwa kepada Allah swt maka bisa diartikan takut kepada Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur alam semesta ini, dengan kata lain takwa adalah menuruti apa yang Allah SWT telah tetapkan sebagai sebuah aturan yang termaktub dalam Alquran maupun hadits nabi Muhammad saw baik itu perintah ataupun larangan.

Imam ‘Ali bin Abi Tahlib r.a. pernah menuturkan bahwa takwa itu terdiri dari empat hal.

Pertama, al khoufu min al Jalil atau takut terhadap al Jalil (Allah SWT ) yaitu takut akan murka dan azab Allah SWT ketika manusia berani melenceng dari aturan Allah SWT.

Kedua, al ‘amalu bi at tanjil atau beramal dengan apa yang Allah swt turunkan yaitu berupa Alquran dan Sunah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, al qona’atu bi al qolil yaitu merasa cukup dengan yang sedikit maksudnya adalah dia merasa cukup dengan harta yang ada hingga terpenuhi kebutuhan-kebutuhan asasinya. Keempat, al isti’dadu li arrohil atau mempersiapkan keberangkatan maksudnya adalah mempersiapkan amal untuk hari di mana dia akan berangkat menuju alam keabadian yaitu alam akhirat.

Dari empat hal tersebut, setidaknya cukup untuk seorang muslim memilah dan memilih calon pemimpin yang layak dipilih dalam pemilu nanti.

Pertama, bukti dia takut pada Allah SWT adalah dia orang yang sangat wara’ , tidak angkuh, dan istiqomah dalam setiap ibadah baik dalam keadaan ramai apalagi dalam keadaan sepi, dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit .

Kedua, dia senantiasa menjadikan aturan Allah sebagai yang utama dan pertama di atas aturan-aturan lain, yang menjadi landasan dari setiap pemikiran dan perbuatannya. Menjadi orang yang terdepan dalam memperjuangkan dan menegakkan aturan-Nyaserta menjadi pembela ketika aturan-Nya dilecehkan. Dia pun tidak akan kompromi dengan aturan-aturan selain-Nya semata-mata hanya mengharap ridho Allah SWT.

Ketiga, dia tidak mudah tergiur untuk memiliki harta yang dimiliki orang lain apalagi harta rakyat, dia pun senantiasa tidak mengadu tentang kesusahan hidupnya melainkan hanya kepada Allah Yang Mahakaya serta tidak menjadikan kemewahan dunia ada di pelupuk matanya dan tujuan utamanya, justru yang ada adalah dia senantiasa menjadikan hartanya sebagai sarana untuk semakin dekat dengan Allah SWT. Bahkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya mengatakan bahwa orang yang qonaah terhadap apa yang diberikan Allah SWT padanya adalah orang beruntung.

Keempat, dia senantiasa menyibukkan dirinya dengan kebaikan-kebaikan, fastabiqul khoirot, dan menghindari hal-hal yang syubhat apalagi yang dilarang dalm Islam. Pandangannya pun jauh ke depan menatap alam akhirat yang menjadikan dia bersegera menggapai ampunan Allah dan menjalankan seluruh syari’at yang telah dibebankan padanya.

Pertanyaan pun kemudian muncul, apakah ada sosok calon pemimpin dari 101 daerah yang ada di Indonesia yang memiliki ciri-ciri tersebut?. Pasti ada, walaupun hanya mendekati.

Meskipun tidak ada calon pemimpin yang memiliki ciri-ciri tersebut, bukan berarti umat ini memilih apa adanya. Umat pun harus berupaya keras untuk mewujudkan adanya sosok calon pemimpin tersebut.

Walaupun terkesan sulit tapi fakta membuktikan banyak pemimpin-pmeimpin Islam masa lampau yang memiliki ciri-ciri tersebut. Sebenarnya kesan sulit itu muncul saat ini, ketika umat Islam memang hidup bukan di dalam sistem Islam yaitu sistem sekuler yang sudah barang tentu tidak menjamin dan menjadikan masyarakatnya untuk menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, berbicara kepemimpinan bukan hanya berbicara sosok yang hendak memimpin tapi juga berbicara tentang sistem apa yang akan dia terapkan ketika memimpin. Tentunya, sistem yang terbaik adalah sistem Islam yang akan menjamin lahirnya sosok-sosok calon pemimpin yang bertakwa pada Allah swt yang mengajak rakyatnyajuga untuk bertakwa dan bersegera menuju ampunan Allah swt dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi. Wallohu a’lam

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

KISAH PENSIL WARNA DAN NIETSZCHE

Di Sukabumi, bahkan di daerah-daerah lain pernah ada kalimat – ketika siapa ...