Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / Derita Siti si Manusia ‘Robot’
BUTUH BANTUAN: Siti Maisaroh (19), warga Kampung Ciherang RT 03/08 Desa Girijaya Kecamatan Warungkiara si gadis robot butuh bantuan pemerintah.

Derita Siti si Manusia ‘Robot’

SUKABUMI – Jika di Sragen Jawa Tengah ada Sulami si ‘manusia kayu’, ternyata di Kabupaten Sukabumi juga ada gadis yang dijuluki ‘wanita robot’. Ya, dia adalah Siti Maisaroh (19), warga Kampung Ciherang RT 03/08 Desa Girijaya Kecamatan Warungkiara.

Tubuh Siti tampak kaku bila hendak bergerak. Punggungnya agak merunduk, pertumbuhan tubuhnya pun lambat. Bila kepalanya melirik, seluruh badannya ikut melirik. Tak ada bedanya gerakan tubuh Siti ini ibarat robot. Setiap gerakan Siti, membuat persendiannya kesakitan. “Rasanya linu begitu kalau gerak,” lirih Siti Maisaroh kepada Radar Sukabumi, kemarin (30/1).

Dilihat dari mimik mukanya, Siti nampak berusia masih belia. Namun siapa sangka, dilihat dari kartu keluarga (KK), gadis yatim piatu ini kelahiran 1998. Artinya, usia pada Februari mendatang, ia menginjak usia 19 tahun. Tumbuh kembangnya terhambat akibat sakit yang dideritanya itu. “Dulu saya gemuk, tidak seperti ini. Namun, setelah sakit saja tubuh saya mengecil begini,” akunya.

Dalam obrolannya, Siti menceritakan awal kejadian penyakitnya itu. Saat masih aktif di Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), ia terjatuh ketika melakukan latihan. Ia langsung tak sadarkan diri. Pasca kejadian itu, tubuhnya terasa kaku dan sakit untuk digerakkan.

“Tubuh saya sakit bila bergerak. Jangankan untuk berjalan, duduk saja tak bisa,” tutur Siti menceritakan kronologis awal mula tubuhnya bisa berubah menjadi seperti ‘robot’.

Karena sakitnya itu, kini Siti terpaksa harus rela putus sekolah. Ia tak sanggup berjalan, menempuh perjalanan menuju sekolah. Namun, meskipun kondisinya demikian, dia tetap berharap untuk bisa hidup normal seperti biasanya. “Saya ingin sembuh pak. Saya ingin seperti teman saya yang hidup normal,” harapnya.

Saat ini, Siti Maisaroh tinggal bersama kakaknya, Sapri (50) dan Suherti (46). Ia ditinggal wafat orang tuanya saat masih bayi. Kepada Radar Sukabumi, Sapri mengaku kondisi Siti saat lahir normal seperti anak yang lainnya. Tumbuh kembangnya terganggu selepas ia terjatuh.

“Sudah saya bawa ke rumah sakit, kata dokter anak saya ini menderita radang sendi,” timpal pria yang bekerja sebagai buruh serabutan itu.
Sapri menyebutkan, Siti pernah dirawat inap di salah satu rumah sakit milik pemerintah. Karena tidak ada perkembangan, dokter yang menanganinya menyarankan supaya dilakukan pengobatan tradisional. Mengingat belum juga ada perkembangan, Sapri berharap pemerintah ikut membantu dalam penyembuhan anak angkatnya itu.

“Penghasilan saya tidak menentu, maklum namanya juga buruh serabutan. Selama ini saya tidak mendapat bantuan apa-apa dari pemerintah. Kalau boleh, saya berharap pemerintah ikut membantu,” harapnya.

Dihubungi secara terpisah, Kabid Penanggulangan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Harun Alrasyid mengaku prihatin mendengar penderitaan Siti. Ia berjanji akan turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi Siti. “Besok saya akan ke lokasi bersama dokter. Kami akan pastikan kondisinya,” singkat Harun. (ren)

loading...

About admin

x

Check Also

Mohon Maaf Kepada Umat Islam, Terkait ilustrasi

SUKABUMI – Ilustrasi yang dimuat di Harian Pagi Radar Sukabumi edisi Selasa, ...