Home / INTERNASIONAL / Veteran Perang Iraq Rencanakan Penembakan Massal Warga Sipil, 5 Orang Tewas
MENYELAMATKAN DIRI: Polisi mengamankan dan memeriksa orang-orang yang ada di halaman bandara. Insert: Esteban Santiago. (Reuters, AP)

Veteran Perang Iraq Rencanakan Penembakan Massal Warga Sipil, 5 Orang Tewas

Esteban Santiago sudah merencanakan aksi kejinya. Pelaku penembakan di Bandara Internasional Fort Lauderdale, Florida, Jumat siang (6/1) tersebut memang sudah berniat untuk melakukan penembakan masal kepada warga sipil. Hal tersebut terungkap dalam berkas laporan penyelidikan yang ditulis oleh agen FBI Michael Ferlazzo.

Dalam laporan yang diserahkan ke pengadilan tersebut, Santiago mengaku jika dia sudah merencanakan penembakan tersebut dan hanya membeli tiket sekali jalan ke Florida. Dia tidak membawa apapun kecuali tas berisi senjatanya dan dua magazine berisi peluru.

Santiago setidaknya menembakkan 10-15 peluru dari senjatanya. Dia langsung menyasar bagian kepala dari para korbannya. Dia berjalan tanpa berbicara dan langsung menembaki para korban layaknya tengah berada di medan perang. Dia telungkup dan menyerahkan diri begitu pelurunya habis.

Veteran perang Iraq tersebut menjalani proses dakwaan di pengadilan federal Sabtu (7/1). Dakwaannya adalah pelanggaran penggunaan senjata api dan melakukan tindakan kekerasan dengan melakukan penembakan di Bandara Internasional Fort Lauderdale yang menyebabkan 5 orang tewas dan 6 orang luka-luka. ”Jika terbukti bersalah, dia bisa dihukum mati atau penjara seumur hidup,” ujar Jaksa Wifredo Ferrer.

Pada Jumat siang (6/1) Santiago  tiba-tiba saja menembaki orang-orang yang tengah berderet mengantre untuk mengambil bagasi. Penembakan di terminal 2 tersebut merenggut 5 nyawa dan melukai 8 orang lain.

Pria 26 tahun itu menggunakan senjata semiotomatis 9 milimeter untuk menghabisi para korban. ’’Dia membawa senjata. Dia menembakkannya pada kerumunan orang. Semua orang saat itu tengah berdiri di sana menunggu bagasi,’’ ujar John Schlicher, salah seorang saksi mata. Schlicher begitu dekat dengan maut. Sebab, orang yang antre di belakangnya menjadi korban penembakan.

Santiago, tampaknya, sudah merencanakan aksinya dengan baik. Dia terbang dari rumahnya di Alaska menuju Florida dengan menggunakan pesawat milik maskapai Delta Air. Pesawat tersebut transit di Minnesota. Sejak awal penerbangan, Santiago menginformasikan kepada petugas bahwa dirinya membawa senjata.

Berdasar berita yang dirilis CBS, selama penerbangan Santiago sempat beradu argumen dengan salah seorang penumpang. Tidak diketahui apa yang dibicarakan. Begitu tiba di Florida, dia langsung mengambil bagasi miliknya. Setelah itu, dia menuju kamar mandi untuk merakit senjata serta memasukkan peluru di dalamnya. Dia kembali ke area pengambilan bagasi dan melakukan aksi kejinya sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Di AS, kasus penembakan masal kerap terjadi. Begitu pula halnya dengan kelalaian meletakkan senjata yang berujung kematian. Mudahnya memperoleh senjata di Negara Paman Sam tersebut menjadi penyebabnya. Berdasar data yang dikumpulkan website massshootingtracker.org, sepanjang 2016 terdapat 604 orang tewas oleh tembakan senjata api. Sedangkan korban luka mencapai 1.779 orang.

Salah satu kasus yang paling menyedot perhatian publik tahun lalu adalah penembakan di kelab malam gay di Orlando, Florida. Saat itu 50 orang tewas dan 53 lainnya luka-luka.

Presiden AS Barack Obama menyatakan prihatin akan kasus penembakan di Bandara Internasional Fort Lauderdale itu. Selama masa kepemimpinannya, Obama telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) pembatasan kepemilikan senjata api. Namun, RUU tersebut selalu kandas di parlemen. ’’Tragedi seperti ini telah terjadi begitu sering selama tahun-tahun saya menjabat sebagai presiden,’’ jelas presiden yang masa jabatannya berakhir 20 Januari mendatang tersebut. (Reuters/AFP/CNN/BBC/sha/c19/any/tia)

About admin

x

Check Also

Angkatan Laut Iran Latihan Skala Besar Di Samudera Hindia

Pasukan angkatan laut Iran telah meluncurkan tahap akhir dari latihan skala besar ...