Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / Pengakuan Sang Topless DJ, Berawal dari LC dan Stripper, Lalu…
DJ Juliet yang sedang asyik memainkan musik-musik irama EDM sambil bertelanjang dadaJ

Pengakuan Sang Topless DJ, Berawal dari LC dan Stripper, Lalu…

Laporan Khusus: Menelusuri Private Party Topless DJ di Jakarta

TIDAK bisa dimungkiri, easy money adalah motivasi utama dalam pekerjaan-pekerjaan panas seperti topless DJ. Duit pun bisa didapat dengan gampang karena berbekal musikalitas tak seberapa dan keberanian tampil seronok. Hal itu juga diakui Juliet. Dia bilang, sejak lama, dirinya mencari uang dari kehidupan malam di Jakarta.

Sebelum menjadi topless DJ, dia adalah seorang LC dan stripper di sejumlah kelab di ibu kota. Kemudian, dia bertemu dengan Michael, lalu ditawari untuk diajari menjadi DJ. ’’Jadi DJ memang butuh diajari. Kalau masalah topless-nya, nggak usah diajari. Sudah pinter,’’ seloroh perempuan yang mengaku sebagai single mother itu.

Dia menuturkan, statusnya sebagai ibu satu anak tanpa memiliki suami juga mendorongnya mencari uang dengan gampang dalam jumlah banyak dan cepat. Sebenarnya, itu alasan klise sih dari cewek-cewek yang berkecimpung di dunia malam.

Setahun terakhir, dia menekuni profesi sebagai topless DJ dan mengaku betah. Kemudian, dia pun meninggalkan pekerjaan sebagai LC dan stripper. Selain memanfaatkan uang untuk membiayai anaknya, dia harus mengalokasikan duitnya untuk perawatan kecantikan dan membeli properti. Misalnya, kostum-kostum unik yang dikenakan saat beraksi. ’’Ada macam-macam kostum. Ada superhero, suster seksi, hingga seragam sekolah,’’ jelas perempuan 27 tahun itu.

Pengeluarannya besar. Pemasukannya juga besar. Dia tidak menyebut secara perinci, tetapi bisa dikalkulasi. Juliet mengakui, dirinya punya sekali jadwal untuk manggung. Dalam sebulan, minimal ada sekali undangan untuk tampil di private party. Dengan fee Rp 6 juta sekali tampil, dalam sebulan, paling tidak dia tampil lima kali. Jadi, dalam sebulan, dia minimal mengantongi Rp 30 juta. Dengan dipotong fee 10 persen untuk agensi, dia masih bisa dapat Rp 27 juta.

Besarnya duit yang diterima berbanding terbalik dengan musikalitas dangkal. Tidak mengherankan, topless DJ pun dibanjiri cemoohan dari kolega sesama DJ.

Salah satunya, Tenashar, DJ seksi asal Singapura, yang pernah dinobatkan sebagai DJ terbaik nomor 87 di dunia oleh DJ Mag itu merasa topless DJ bisa memperburuk citra DJ perempuan. Menurut dia, sebagai DJ, yang paling penting tetap kemampuan bermusik. Kecantikan dan seksi itu hanya bonus. ’’Ya, memang banyak yang bilang saya suka tampil seksi. Tapi, saya nggak mau tampil topless,’’ tegasnya. ’’Dikasih uang sedunia pun saya tolak,’’ tambahnya.

Di sisi lain, pendapat berbeda keluar dari DJ T-Sha. Mantan personel girlband 7icons tersebut menuturkan, itu adalah pilihan masing-masing. Sebab, setiap DJ punya konsep dan pasar berbeda-beda. ’’Mereka begitu, saya begini. Semua adalah pilihan masing-masing,’’ ucap perempuan bernama asli Savitri Listya Widyanti Shaimoery tersebut. You right, Girl. Hidup adalah pilihan. Mau milih kedinginan karena nggak pakai atasan juga boleh kok. Wkwkwkw(Tim Jawa Pos/co4/nar)

About admin

x

Check Also

Bantu Berikan Pemahaman Kepariwisataan

PALABUHANRATU – Konsep – konsep pariwisata yang kerap dibahas di acara Ngobras ...