Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Ibu Pelopor Pertama Kebaikan
Oleh :Ina Nurliana, S.Pd.I Praktisi Pendidikan, Ketua BPKK DPD PKS Kota Sukabumi

Ibu Pelopor Pertama Kebaikan

Al-Ummu Madrasah al-ula. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu bukan hanya mempersiakan seorang anak, tapi mempersiapkan masa depan sebuah bangsa. Kita sering mendengar kalimat di atas, tapi apakah kita sudah memahami maknanya? Sayangnya kebanyakan kita memahaminya secara harfiyah.

Ibarat sekolah, maka yang kita ajarkan kepada anak kebanyakan berupa ilmu yang dipelajari di sekolah :  membaca, menulis, mengaji, ilmu alam, dan lain lain. Padahal, ada yang lebih penting dari itu : pendidikan mental.Betapa banyak orang tua yang khawatir jika anak-anak mereka terlambat bisa membaca, menulis dan skill lain yang dipikir sangat berguna di masa depannya. Alhasil, kita fokus pada hal-hal fisik dan melupakan pendidikan mental anak-anak kita.

Begitu banyak anak-anak hebat dan berprestasi di sekolah, tapi nihil dalam bidang akhlak. Anak-anak yang cerdas secara intelegen, tapi tak paham mengelola emosi. Kenakalan remaja, perkelahian anak-anak bahkan kriminalitas yang dilakukan anak di bawah umur, hanya karena masalah sepele, adalah salah satu masalah yang timbul karena anak tidak diajarkan mengelola emosi dengan baik.

Ibu sebagai madrasah pertama adalah mempersiapkan anak untuk masa depannya. Bukan hanya mempersiapkan skill dan pengetahuannya, tapi yang terpenting mempersiapkan jiwa dan emosinya agar siap menghadapi tantangan hidup.Dan itu adalah tugas ibu, menjadi pelopor kebaikan bagi anak-anaknya.

Bagaimana caranya?

Pertama, kenalkan anak dengan emosi diri. Biarkan anak mengetahui macam-macam emosi yang dipunyainya, menamai dan belajar mengendalikannya. Dengan begitu, anak bisa menerima semua emosi itu sebagai sesuatu yang normal, dan mampu mengelolanya dengan baik.

Kedua, ajarkan anak empati. Ini penting. Betapa banyak anak-anak hebat yang kering empati. Egois dan hanya memandang kesuksesannya saja. Tidak peka pada permasalahan orang lain dan hanya fokus pada masalahnya saja. Padahal berempati kepada orang lain tidak akan mengurangi kebahagiaan kita. Malah sebaliknya. Ajarkan anak untuk berbagi kebahagian, merasakan kesedihan dan kesusahan orang lain. Tahu bagaimana bersikap kepada orang lain tanpa menyakiti siapapun.

Ketiga, ajarkan kemandirian. Ajari anak menyiapkan kebutuhannya sendiri. Biarkan dia berusaha maksimal sebelum kita bantu. Dan jangan tergerak membantu hanya karena anak menangis. Selain untuk meningkatkan daya juangnya, juga agar dia terbiasa mandiri sejak kecil.Ingat, orang tua tidak akan selamanya membersamai anak. Ada masanya anak lepas sepenuhnya dari tanggung jawab orang tua.

Keempat dan yang terpenting adalah pendidikan agama. Agar anak mempunyai pegangan dalam menjalani hidupnya. Orang tua tidak bisa menjaga anak dua puluh empat jam tanpa berhenti. Maka memahamkan pada anak bahwa ada Allah yang bersamanya selalu, membuat anak bisa menahan perbuatan buruk.
Ajari bahwa anak bertanggung jawab penuh atas semua perilakunya.

Semua perbuatannya anak dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah. Keempat hal itu tidak akan bisa diterapkan kepada anak, jika ibu tidak memberi teladan. Anak adalah peniru ulung, maka cara terbaik untuk mendidik anak adalah dengan melakukan perbuatan tersebut dan membiarkan anak melihatnya.

Maka tugas ibu menjadi pelopor melakukan kebaikan di keluarga, sehingga anak belajar langsung dari perilaku ibu. Ibu menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Semoga dengan begitu, tingkat kenakalan remaja bisa ditekan, generasi cerdas dan berakhlak baik bukan hanya angan-angan.Semua dimulai dari gerakan kembali ke rumah, dimulai dari ibu yang menjadi pelopor kebaikan dan menularkannya kepada anak-anak serta lingkungan sekitarnya.(*)

About admin

x

Check Also

MUI dan DNK, Antara Takdir dan Kedewasaan

BEBERAPA hari ini, saya jarang memosting tulisan, bukan berarti tidak menulis, kecuali ...