Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Membangun Peradaban Santri
Didik Suyuthi

Membangun Peradaban Santri

Didik Suyuthi

Didik Suyuthi

MENGUSUNG tema Merajut Kebinekaan dan Kedaulatan Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merayakan Hari Santri perdana tahun ini. Perayaan itu merujuk Keppres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Dua agenda yang konon akan dicatatkan di Museum Rekor Dunia Indonesia adalah kirabnapak tilas resolusi jihad 2 ribu kilometer melintasi Banyuwangi–Cilegon–Jakarta dan pembacaan 1 miliar salawat nariyah serentak di seluruh Indonesia. Apa pesannya?

Dua kegiatan itu memiliki makna penting. Kirab resolusi jihad NU 22 Oktober 1945 tentu tidak bermaksud mengulang sejarah. Sebagai peristiwa masa lalu, sejarah hanyalah pengalaman maknawi yang berbatas ruang dan waktu. Tetapi, meminjam istilah R.G. Collingwood (1946),history is the history of thought. Sejarah adalah sejarah tentang pemikiran. Merekonstruksi sejarah berarti merekonstruksi buah pemikiran atau gagasan-gagasan yang memengaruhi masyarakat (social change) saat itu.

Itu juga yang hendak direkonstruksi pada peringatan Hari Santri. NU setidaknya merasa perlu mengonstruksi ulang apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami para syuhada shalihin pejuang kemerdekaan. Bil khusus sang kreator utama resolusi jihad NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Seberapa jauh peran pemikiran dan gagasan-gagasan hadratussyaikh yang menggema sehingga menggerakkan masyarakat pada zamannya menjadi penting untuk didalami.

Perlu diuraikan bahwa merekonstruksi masa lalu dilakukan bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah juga mempunyai kepentingan masa kini dan bahkan masa yang akan datang. Kalau dikisahkan bahwa peradaban Yunani 27 abad silam bermula di mana manusia meraba-raba dengan nalarnya, mencoba dan terus mencoba untuk menjelaskan realitas terciptanya kosmos melalui pengetahuan, merekonstruksi sejarah resolusi jihad NU juga merupakan bentuk kerja nalar yang sama untuk menjelaskan realitas bagi kepentingan idealisme kehidupan kebangsaan kita.

Mengutip Collingwood, menjelaskan sejarah sebagai sejarah pemikiran memiliki beberapa pendekatan. Pertama, melalui pendekatan teks. Dari teks sejarah, dapat dikonfirmasi bahwa pada 17 September 1945 hadratussyaikh memfatwakan bahwa mempertahankan tanah air adalah jihad fi sabilillah. Karena itu, wajib hukumnya bagi setiap umat Islam. Fatwa tersebut tentu tidak main-main. Juga, pasti melalui pengkajian dan perenungan mendalam. Karena ditujukan kepada Bung Karno.

Pada 22 Oktober 1945, bunyi fatwa itu bahkan diresmikan lagi sebagai sebuah resolusi jihad. Kemudian, pada 8 November 1945 dipertegas lagi dalam Kongres Umat Islam di Jogjakarta.Hadratussyaikh secara terbuka juga menjelaskan dengan panjang lebar hukum membela tanah air itu dalam khotbah iftitahnya saat Muktamar Ke-16 NU pada 26 Maret 1946 di Purwokerto. Konsistensi sikap tersebut sekaligus membuktikan kuatnya genesis pemikiranhadratussyaikh sehingga menjadikannya tokoh rujukan nasional.

Kedua, pendekatan konteks. Anatomi sejarah memang selalu berkelindan dengan konteks politik, social, dan budaya. Konteks politik, social, dan budaya di era revolusi kemerdekaan tentu tidak sepenuhnya sama dengan konteks saat ini. Tema merajut kebinekaan menurut pandangan NU akan selalu memiliki relevansi kontekstual di tengah pluralisme yang terus diuji di negeri ini.

Memang tampak klise. Tetapi, sesungguhnya itulah hakikat jihad kemanusiaan agar kita terus menguatkan dimensi ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), dimensi ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia), dan tentu dimensi ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam).

Ketiga, menyangkut hubungan teks dengan masyarakatnya. Pondok-pondok pesantren yang disowani sepanjang perjalanan kirab bagi NU adalah teks hidup yang harus diselami. Juga, makam para aulia, masyayikh, dan syuhada shalihin bak manuskrip yang selalu mencerahkan (enlightened). Pola relasinya memang cenderung abstrak. Beberapa pihak bahkan berpendapat bahwa itu sinkretis. Tetapi, dari pola relasi sinkretis itulah keserasian laku dan pemikiran warga NU terus sinambung dan terdiseminasi hingga kini.

Itu bagian hilir. Bagian hulunya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyiapkan pembacaan salawat nariyah 1 miliar kali. Bagi warga NU, salawat nariyah istimewa. Karena menjadi salah satu salawat yang sempurna dalam mengagungkan kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Setelah enlightened melalui pesan-pesan historis dalam kirab resolusi jihad, langkah berikutnya adalah menyapa alam rohaniah kita. Menjaga kedaulatan Indonesia di mana kitanumpang makan dan tidur di dalamnya membutuhkan hati yang bening, yang tecermin kebaikan darinya. Seperti kata penyair Zawawi Imron: Tanah air yang indah harus diurus dengan hati yang indah. Itulah hulu dari semua penyelesaian masalah.

Salawat nariyah 1 miliar kali dihadiahkan untuk haul para syuhada. Sekaligus diniatkan untuk meruwat negeri ini dari segala bala, bencana, dan musibah. Itulah spirit tulus pengabdian NU kepada bangsa dan negara. Sebagaimana diajarkan hadratussyaikh, NU selalu percaya bahwa mengabdi kepada negara termasuk kewajiban manusia (hidmatul authan min wajibil insan).

Hulu dan hilir, sebagaimana pesan dalam tema peringatan Hari Santri itu, sekali lagi buka pesan biasa. Pesan luhur tersebut, khususnya, berlaku untuk santri dan siapa saja yang mengidentifikasi diri sebagai santri.

Santri adalah mereka yang tidak ahistoris dengan sejarah bangsa. Santri adalah para pencinta ilmu yang cinta kepada negaranya. Dengan demikian, santri adalah entitas yang keberadaannya senantiasa menjunjung kebenaran, berjuang untuk keadilan, membawa maslahat, dan menjadi shahih likulli zaman wa makan. (*)

*)Sekretaris Nasional Panitia Hari Santri Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

loading...

About admin

x

Check Also

Jadilah ‘Tim Sukses’ Pilwalkot 2018

Tidak hanya di media cetak dan maya, sudut warung kopi, tempat parkir, ...