Home / UTAMA / FEATURES / Jejak 14 Tahun Masjid Muhammad Cheng Hoo, Simbol Persatuan dan Toleransi Bangsa
JEJAK: Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Abd. Nurawi (empat dari kiri) menyerahkan potongan tumpeng kepada H.M.YBambang Suyanto.

Jejak 14 Tahun Masjid Muhammad Cheng Hoo, Simbol Persatuan dan Toleransi Bangsa

JEJAK: Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Abd. Nurawi (empat dari kiri) menyerahkan potongan tumpeng kepada H.M.YBambang Suyanto.

JEJAK: Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Abd. Nurawi (empat dari kiri) menyerahkan potongan tumpeng kepada H.M.YBambang Suyanto. Ghofuur Eka/Jawa Pos

Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jatim memperingati 14 tahun berdirinya Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya pada Kamis (13/10). Meski ukuran masjid itu kecil, keberadaannya menjadi magnet bagi umat muslim hingga wisatawan mancanegara. Simbol-simbol kerukunan melekat abadi di dalamnya.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

PELETAKAN batu pertama Masjid Muhammad Cheng Hoo tepat terjadi di tanggal ini (15/10) pada 2001. Penggagasnya H M.Y. Bambang Sujanto bersama pengurus PITI. Dana awal pembangunan masjid yang terletak di Jalan Gading itu Rp 500 juta. Dana tersebut didapatkan dari jerih payah menerbitkan buku Saudara Baru/Juz Amma dalam tiga bahasa. Lalu, ada hasil gotong royong para donatur yang namanya hingga kini diabadikan di salah satu dinding kompleks Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo yang melingkupi masjid tersebut. Dana Rp 3,3 miliar akhirnya terkumpul untuk menutupi biaya pembangunan masjid dengan arsitektur khas Tiongkok pertama di Indonesia tersebut.

Peletakan batu pertama itu cukup monumental. Sebab, tokoh-tokoh Tionghoa Surabaya dan sekitarnya ikut turun gunung. Juga, tidak semuanya muslim. Sangat plural. Baik dari segi agama maupun latar belakang. Di antara mereka, ada Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia Liem Ou Yen. Ada juga Presiden Komisaris PT Gudang Garam Tbk Bintoro Tanjung dan Direktur PT Surya Inti Permata Tbk Henry J. Gunawan dari kalangan pebisnis. Termasuk Bingky Irawan, ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).

Pembangunan masjid tersebut dilakukan selama setahun. Persis pada 13 Oktober 2002, rampunglah Masjid Cheng Hoo. Tanggal soft opening itulah yang hingga kini diperingati sebagai milad (hari lahir) masjid tersebut.

Sampai sekarang, informasi tentang sejarah masjid bisa dibaca pada dinding selatan. Tertulis pada batu marmer hitam dengan ukiran bercat emas. Ada bahasa Inggris, Indonesia, Mandarin, dan satu lagi yang masih dikerjakan. Bahasa Arab.

Kemegahan masjid berukuran 9 x 11 meter itu pun masih terasa. Warna emas dan merah cukup. Mirip kelenteng. Tapi, ada unsur hijau yang mendominasi. Tentu tak ada hiasan burunghong (phoenix) dan lung (naga) di bubungannya sebagaimana tempat ibadah Tridharma atau kelenteng. Sebagai gantinya, ada lafaz Allah di puncak menara masjid.

Kemarin siang masjid baru saja digunakan untuk salat Jumat. Beberapa petugas masjid dengan peci hitam menggulung sajadah berwarna merah. Gulungan diletakkan di troli, lalu dibawa ke gudang. Setelah sajadah dipindahkan, baru kelihatan bahwa lokasi itu adalah lapangan basket. Lantainya berwarna hijau dengan garis pembatas putih. Ada empat ring basket portabel yang terlihat sebelum memasuki masjid.

Ya, Masjid Cheng Hoo menyewakan lapangan itu. Memang, selama berdiri, yayasan tak lagi mengandalkan dana dari donatur. Perlu badan usaha untuk memutar keuangan.

Takmir masjid Ahmad Hariono Ong mengajak Jawa Pos berkeliling kawasan seluas 3.070 meter persegi itu. Dia langsung menaiki tangga untuk menuju lantai 2. Di atas gedung sekretariat PITI dan Yayasan Cheng Hoo, terdapat dua lapangan bulu tangkis dan enam meja tenis. ”Kalau sore ramai,” ujar dosen ekonomi Pascasarjana Universitas Airlangga itu.

Tak lama kemudian seseorang berbaju putih keluar dari gedung kesekretariatan. Dia adalah anggota Dewan Pembina Yayasan Cheng Hoo Willy Pangestu. Willy baru selesai menghadiri rapat kerja wilayah (rakerwil) DPW PITI Jatim. Dia menghampiri rombongan wisatawan yang memotret masjid. Mengajak bicara mereka dengan bahasa Mandarin. ”Mereka heran, ada masjid berwujud kelenteng,” ujarnya setelah menemani rombongan wisatawan yang berjumlah enam orang itu.

Pria dari Sidoarjo tersebut lalu menceritakan kisah-kisah di balik berdirinya masjid selama 14 tahun, di ruangannya. Sebelum masjid berdiri, gedung sekretariat lebih dulu ada. Karena tak ada tempat untuk salat, muncul gagasan untuk membangun tempat ibadah.

Karena banyak anggota dari etnis Tionghoa, arsitektur masjid juga dibuat sesuai arsitektur bangunan Negeri Panda. Willy harus berkeliling Jatim untuk melihat kelenteng-kelenteng guna menyusun rancangan. ”Tapi, kami ambil contoh Masjid Niu Jie di Beijing,” ujar pemilik toko di Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, tersebut.

Setiap detail masjid punya makna. Bangunan utamanya berukuran 9 x 11 meter. Angka 9 memiliki makna Wali Sanga yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sedangkan 11 meter sama dengan lebar Kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim.

Wali Sanga membangun masjid dengan sentuhan arsitektur Jawa. Misalnya berwujud joglo. Tak melulu berbentuk kubah. Hal itulah yang mendasari Yayasan Muhammad Cheng Hoo untuk membangun masjid dengan arsitektur Tiongkok. ”Setelah dibangun masjid, lebih banyak masyarakat Tionghoa yang berikrar masuk Islam. Mereka merasa seperti di rumah sendiri,” ujar penghobi berenang itu.

Willy menerangkan, pembangunan sarana olahraga tak hanya bertujuan menghidupi organisasi dan yayasan. Tetapi juga sarana syiar. Mengenalkan Islam.

Dengan sarana olahraga, masjid tak hanya ramai saat salat. Saat pagi, sore, hingga malam, masjid menjadi tempat berkumpul.

Saat pagi Masjid Cheng Hoo ramai dengan aktivitas pendidikan. Saat pagi ada Taman Kanak-Kanak (TK) Istana Balita. Saat siang hingga sore para pengunjung berdatangan. Baik wisatawan asing maupun domestik. Gratis.

Seusai salat Asar, gelanggang olahraga digunakan oleh sejumlah sekolah dan mahasiswa dari universitas yang sudah menjadi langganan. Misalnya mahasiswa Universitas Airlangga dan Universitas Kristen Petra. Juga SMAN 5, SMAN 9, dan SMAN 1. Selain itu, SMPN 37, SMPN 9, dan SMPN 8. ”Kami juga adakan Cheng Hoo Cup. Banyak cara untuk syiar,” ucap pria yang dulu juga punya hobi basket itu.

Ketua DPW PITI yang baru, Harianto Satrio, menerangkan, PITI dan Yayasan Cheng Hoo tak bisa dipisahkan. Kini organisasi itu memang berisi pengurus senior. Namun, dia punya gagasan untuk regenerasi. Tiap-tiap pengurus daerah yang ada di 21 kabupaten/kota diminta untuk mengirimkan 5 pemuda. ”Kami kader untuk jadi pengurus. Mulai usia 17 tahun, maksimal 30 tahun,” jelas pria dari Pasuruan tersebut.

Namun, mewujudkannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Dia mengatakan, jumlah muslim Tionghoa sangat banyak. Namun, untuk diajak berorganisasi, diperlukan bujuk rayu. Apalagi yang berprofesi sebagai pedagang. ”Tau sendiri lah. Mereka tidak mau diajak mengikuti acara organisasi sebelum tokonya tutup,” ujar Hari, lalu tertawa. Meski begitu, Hari tetap optimistis bisa menjaring anggota yang lebih banyak.

Terobosan selanjutnya ialah mewujudkan sekolah dasar (SD) pertama yang dibangun yayasan. Rencana itu ada sejak lama. Tapi bakal diwujudkan tahun mendatang. Pihak yayasan telah menyewa lahan yang tak jauh dari Masjid Cheng Hoo.

Tak terasa, waktu bercerita dihabiskan hingga azan Asar berkumandang. Seusai salat, sudah tampak remaja berbaju olahraga berdatangan. Mereka menunggu seluruh jamaah menunaikan salat. Setelah aktivitas di masjid selesai, barulah mereka berlatih basket. Dua lelaki Tionghoa juga naik ke lantai 2 dengan membawa tas penuh raket. Aktivitas itu berjalan setiap hari. (*/c11/dos)

loading...

About admin

x

Check Also

Kisah Peneliti Pusjatan Ciptakan Beton Ringan Mortar Busa

Ahli teknik sipil kita mencatat temuan kelas dunia. Namanya mortar busa. Wujudnya ...