Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / Karst Hilang, Bencana Datang

Karst Hilang, Bencana Datang

batu-karsSUKABUMI – Bencana alam saat ini tengah menjadi ancaman serius di Jawa Barat. Sejumlah daerah bahkan sudah merasakan dampak bencana alam akibat dari perubahan cuaca yang cukup ekstrem saat ini.

Tak terkecuali di Sukabumi. Potensi bencana alam di kabupaten terluas se-Jawa Bali ini cukup tinggi. Salah satu yang berpotensi menyebabkan bencana alam di Sukabumi adalah aktivitas penambangan batu karst.

Ya, belakangan aktivitas penambangan batu karst tengah hangat dibicarakan masyarakat Kabupaten Sukabumi. Istilah karst atau batu gamping ini muncul ketika pabrik semen datang ke Kabupaten Sukabumi. Betapa tidak, bahan baku pembuatan semen, 70 hingga 80 persen menggunakan batu karst.

Kabupaten Sukabumi sendiri kaya akan batu karst, hampir sebagian wilayahnya didominasi kawasan batu yang terbentuk akibat pelaturan batuan. Tercatat, dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, 24 kecamatan memiliki kawasan batu karst dengan hamparan bebatuan mencapai 79 ribu hektare lebih. Namun sayangnya, sebagian kawasan kondisinya sudah dalam keadaan rusak oleh aktivitas penambangan.

Berdasarkan data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat, dari 24 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, sekitar 12 kecamatan kawasan penambangan batu karstnya dalam keadaan rusak. Tragisnya lagi, kerusakan diperkirakan akan bertambah sejalan dengan pemberian izin usaha pertambangan (IUP) oleh pemerintah.

Ketua WALHI Jawa Barat, Dadan Ramdhan mengatakan, kawasan karst adalah kawasan yang unik karena memiliki ekosistem unik dengan habitat unik juga. Kawasan karst merupakan salah satu penyuplai air bagi masyarakat karena di dalam bebatuan dapat menyimpan air.

“Selain penyuplai air, kawasan karst juga sebagai tempat beberapa ekosistem tinggal seperti kelelawar dan lainnya. Jika itu ditambang, maka akan ada dampak serius karena rusaknya rantai makanan,” terang Dadan saat dihubungi wartawan koran ini, kemarin (12/10).

Bahkan dirinya menjelaskan, secara detail ketika ekosistem kelelawar hilang, maka akan ada pemutusan rantai makanan. Kemungkinan hama serangga dan bahkan nyamuk DBD akan menjadi wabah bagi masyarakat jika satu rantai makanan diputus. Selain itu, jika batu karst hilang, dipastikan sumber mata air juga hilang. Karena di dalam kawasan karst banyak
menyimpan air.
“Kita lihat saja ketika Gunung Guha yang berada di Kecamatan Nyalindung dibongkar, sekarang Situ Cipiit debit airnya pada saat kemarau tidak seperti biasanya ketika belum ditambang,” katanya mencontohkan.

Saat ditanya lebih jauh soal dampak lingkungan jika batu karst terus ditambang, dirinya menjelaskan, pertama akan ada bencana besar yang datang, longsor, situ-situ mengering, banjir bandang dan sulitnya air bersih pada musim kemarau.

Kedua, daya dukung daerah aliran sungai (DAS) akan berkurang akibat resapan yang hilang. Seperti diketahui, Kabupaten Sukabumi memiliki beberapa DAS, di antaranya DAS Cimandiri, Cikarang hingga Ciletuh dan DAS lainnya. Jika ini tidak ditekan maka istilah ‘sungai kehilangan mata airnya’ akan terbukti.

“Saya kira saat ini pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten sangat lemah dalam hal kontrol, dan mudah memberikan izin kepada investor asing tanpa mempertimbangkan sebab akibat dari penambangan itu,” terangnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, ke depan pemerintah harus melakukan pengetatan perizinan terhadap para investor untuk melakukan penambangan. Jika tidak, maka bencana akan cepat datang akibat penambangan tersebut. Selain itu juga pemerintah harus melakukan pengawasan agar penambangan berjalan sesuai aturan dan tidak merusak lingkungan.

Jika penambangan terhadap batu karst terus belanjut, maka seharusnya pemerintah memperhatikan sebab akibat kepada masyarakat sekitar yang ada di lokasi penambangan. Jangan sampai masyarakat menjadi korban akibat keserakahan segelintir orang.
“Bayangkan saja jika bencana datang, bukan harta benda saja yang melayang, nyawa juga. Rumah-rumah tergusur, lihat contohnya di daerah lain akibat kerusakan lingkungan maka bencana datang,” tukasnya. (hnd)

loading...

About admin

x

Check Also

Gempa Aceh 5,9 skala Richter Goyang Sukabumi

Pada pukul 09,51 WIB sabtu (14/3), seluruh warga Kota dan Kabupaten Sukabumi merasakan ...