Home / RUBRIK / ARTIKEL / Catatan Redaksi / Saatnya Berlari !!!
Vega Sukmayudha Event and Relationship Manajer

Saatnya Berlari !!!

Vega Sukmayudha Event and Relationship Manajer

Vega Sukmayudha
Event and Relationship Manajer

KABUPATEN Sukabumi sudah saatnya harus menjadi tua-tua keladi. Menjadi sepuh yang memiliki semangat tinggi untuk memenuhi keinginannya. Tak boleh jalan tertatih-tatih apalagi sempoyongan.

SEJAK Ditetapkan berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Dirk Fock tertanggal 25 April 1921 no. 71, status Soekaboemi sebagai kabupaten (afdeling) tersendiri dinyatakan terpisah dari Kabupaten Tjianjoer. Pemberlakuan itu terjadi pada 1 Juni 1921. Bupati pertamanya adalah R. A. A. Soerianatabrata, Patih terakhir dari Kepatihan Soekaboemi.

Namun, pada tahun 1923, Karesidenan Priangan dimekarkan menjadi tiga bagian yaitu West Preanger (Priangan barat) berpusat di Soekaboemi, Midden Preanger (Priangan tengah) berpusat di Bandoeng dan Oost Preanger (Priangan timur) berpusat di Tasikmalaya. R. A. A. Soerianatabrata sendiri memerintah sampai tahun 1930.

Sejarah panjang pembentukan daerah yang terkenal dengan Gunung, Rimba, Laut, Pantai dan Sungai (Gurilaps) ini belum selesai. Setelah berada di bawah kendali Pemerintahan Republik Indonesia, pada akhir 1945, Mr. Haroen diangkat sebagai Bupati Sukabumi pertama paska-kemerdekaan, sedangkan Mr. R. Syamsoedin diangkat menjadi Walikota Kota Sukabumi.

Konon, riwayat hari lahir kabupaten dengan logo penyu ini perlahan berubah drastis saat pemerintahan Jepang ini berakhir. Pada masa-masa itu, banyak administratif pola pemerintahan negeri Sakura itu diganti dengan Istilah Indonesia. Seperti Ken yang diubah menjadi kabupaten. Tanggal 1 Oktober 1945 hingga hari ini pun ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sukabumi.

Tentu sudah banyak perubahan yang terjadi. Dari masa ke masa, daerah yang dicap sebagai terluas se Jawa-Bali ini terus mempersolek diri. Tentu, meski masih jauh dari kata harapan, pergantian pucuk pimpinan bupati memberi simbol bahwa perubahan ini berjalan, kendati belum bisa dikatakan cepat melaju pesat.

Kabupaten Sukabumi dari utara hingga selatan memang memiliki segudang permasalahan yang begitu kronis.

Almarhum birokrat tulen Kabupaten Sukabumi Teddy Nurhadie Saadie pernah bercerita kepada saya mengenai seluk beluk pembangunan di sini. Semasa hidup, ia bercerita secara global, permasalahan utara dan selatan itu bisa dilihat dari pola kultur masyarakatnya plus geografisnya.

Sungai Cimandiri lah yang secara tidak kasat mata menjadi pembeda. Sungai dari Gunung Gede Pangrango yang mengalir jauh hingga laut selatan Jawa ini mengisahkan cerita menarik. Darinya saya belajar mengenai apa yang disebut pemerataan pembangunan yang perlu disesuaikan dengan pola pikir serta sosio-kultur masyarakat.

Utara dengan kompleksitas pembangunannya, perlu tangan-tangan dingin yang memberi solusi dengan keadaan saat ini. Kemacetan, ketimpangan jumlah serapan kerja antara pria dan wanita serta  penyakit sosial akibat dari perubahan pola pikir masyarakat yang semakin heterogen menjadi tantangan tersendiri.

Tentu pemecahan ini jangan hanya bagus dikonsep. Realisasinya harus berani. Perlu kerjasama bagus antar dinas dan lembaga. Masyarakat pun jangan diam. Di utara ini begitu banyak LSM, akademisi sampai kritikus yang terdengar sering berkoar-koar. Pengkritik dan subjek yang dikritik jumlahnya sama-sama besar. Ayo kita sama-sama cari solusi untuk cepat-cepat berlari.

Sebab, adalah suatu hal masygul jika Kabupaten Sukabumi terkenal dengan keterisolirannya karena macet.

Pelancong dari luar daerah, tak jarang mengeluh karena penyakit ini. Tidak bisa dianggap sepele dan main-main. Kesemrawutan ini harus dicari akarnya. Jam kerja dan bubar pabrik, pengerjaan proyek jalan tanpa ada rambu menuju jalan-jalan alternatif, serta keberadaan pedagang tumpah di sekitar pasar yang menjadi sentra ekonomi di utara menjadi contoh bagaimana macet menjadi sangat menakutkan.

Jika dibandingkan, ini memang tidak separah ibukota. Namun masalahnya, macet di sini terjadi di pintu masuk. Di etalase yang harusnya memberi kesan manis, macet menjadi biang dari segala biang permasalahan. Iklim investasi jelas bukan main ruginya. Ekspedisi produk jadi atau jasa dari daerah ini sudah jangan ditanya puyengnya.

Terlepas Tol Bocimi menjadi salah satu solusi, adalah arif jika pemerintah yang kini di bawah kendali Marwan-Adjo bisa terus berbenah untuk meningkatkan insfrastruktur. Ada banyak jalan tikus yang bisa dinaikkan statusnya menjadi jalur alternatif.

Angin segar itu harus digenjot manakala niat pemerintah menyambung jalur alternatif Nagrak Cibadak hingga Tenjoayu sampai Lido Bogor akan digarap serius. Ini harus jadi contoh. Warga pun, yang tanahnya terkena pelebaran jangan takut kehilangan.

Semakin banyak membangun jalan, justru di situ peluang ekonomi bertambah. Saya sempat ‘menantang’ seorang kepala desa di Nagrak. Jika jalan itu jadi, Nagrak harus menjadi pusat kekuatan ekonomi pertanian nomor satu. Sentra tanaman sayuran, temulawak, jahe, kunyit dsb harus menjadi nilai tambah untuk membangun daerah. Tak ada lagi alasan tanaman menjadi loyo karena lama di jalan.

Ahh sudah lah… Butuh tenaga ekstra untuk itu. Yang jelas, pemerintah tak boleh terlalu sering mengandalkan jalur utama yang ada saat ini. Sudah tak muat. Sudah over. Truk besar berjubel, kendaraan pribadi tak bisa dibendung. Apalagi jika berbagi jalur dengan kendaraan umum saat bubaran atau masuk jam kerja. Ruweettt.

Tapi, kondisi ini saya nyatakan terbalik 180 derajat ke selatan. Jiwa balap saya terkadang timbul jika melesat dengan kendaraan ber-CC besar. Lewat Sungai Cimandiri, entah jalur pertama via Nyalindung-Purabaya-Sagaranten, jalur kedua Padabeunghar Jampangtengah-Waluran-Surade atau jalur terakhir Simpenan-Loji-Kiara Dua, menginjak gas mengundang keasyikan tersendiri. Saking cepatnya melaju, di situ lah saya seolah tak sadar.

Kenapa pemandangan alam yang begitu elok menawan hati kerap terlewati dan tak bisa dinikmati dalam-dalam. Tuhan menciptakan Jawa Barat dengan tersenyum. Itu sering saya dengar jika pejabat tinggi begitu memuji alam daerah ini dalam pidatonya.

Hanya saja, (mungkin) saya sedikit sok tahu. Saat menciptakan Jawa Barat bagian selatan, senyum termanis sang pencipta amat begitu tercurah. Buktinya, kontur alam ini begitu elok. Begitu lengkap. Begitu nikmat dipandang apabila kita berdiri di suatu titik spot yang benar.

Tentu ini harus dijadikan modal untuk memajukan Kabupaten Sukabumi. Sektor pariwisata tak cukup terus mengandalkan Pantai Palabuhanratu atau Ujunggenteng. Lebih dari itu, spot-spot panoramic view harus lebih digenjot.

Saya akan tunggu kabar terbagus dari kepala daerah kita soal Geopark Ciletuh. Kebetulan, beliau sampai tulisan ini dibuat masih di Inggris. Taman bumi Ciletuh. Begitu seharusnya kita menyebut, adalah contoh bagaimana pengelolaan tempat wisata dengan panorama menawan harus bisa menghasilkan keuntungan bagi masyarakat sekitar.  Kita harus berlari untuk mengejarnya.

Jumlah wisatawan ketika berhadapan dengan fasilitas dan sarana yang baik, optimis bakal terus bertambah. Saya bermimpi, Ciletuh dengan Panenjoan atau Puncak Dharma, dua atau tiga tahun mendatang harus memiliki wisata adrenalin jembatan kaca semacam di Zhangjiajie China.

Ini saya katakan menarik. Sebab, kontur tanah di dinding tebing antara kedua tempat itu hampir sama, yakni bebatuan. Kenapa tidak dilirik ?. Jembatan kaca terbesar di China saja sempat ditutup karena overload wisatawan.

Panoramic view harus menjadi salah satu gagasan yang tidak bisa dianggap remeh. Dengan budaya selfie atau welfie yang menggejala, pemerintah sepatutnya cerdas meliriknya sebagai salah satu penarik wisatawan lokal atau mancanegara.

Bukit Senyum di Palabuhanratu, Bukit Loji Simpenan, Area perkebunan Pasir Bandera Cikakak bahkan jajaran pebukitan  Lengkong yang begitu terlihat jelas dari daerah Bantargadung bisa menjadi contoh pembangunan panoramic view dapat menjadi magnet tersendiri nantinya.

Beri ruang parkir yang begitu luas. Contoh kecilnya Rumah Makan Rindu Alam Puncak. Tak elok rasanya jika belum berswafoto di areal parkir yang dikonsep sebagai salah satu titik panoramic view di sana. Lengkapi sarana itu dengan aneka jajanan khas atau camilan ringan.

Bila perlu bikin tempat makan yang dikelola langsung oleh BUMD kepariwisataan. Agar hidup, seminggu sekali beri ruang seniman lokal untuk memamerkan karyanya di atas ketinggian. Sudah terbayang begitu romantisnya memandang indahnya alam ini dalam balutan cahaya gemerlap malam.

Ini jangan dijadikan mimpi dalam tidur yang begitu lama. Hal-hal sepele terkadang bisa menjadi besar jika kita mau berlari. Membenahi Kabupaten Sukabumi secara global, perlu kematangan konsep, pola pikir maju dan jiwa yang berani.

Di atas kertas, daerah ini mungkin menang segalanya. Alamnya dari mulai laut, sungai, gunung atau pantai. Potensinya dari mulai pertanian, kebun, tambang hingga sumber daya alam lainnya, layak menjadi modal mutlak untuk terus berlari. Tak masalah jika ikon Penyu terus bertahan hingga kini. Yang terpenting, ia mampu menyamai Kelinci si pelari cepat. Ini untuk apa ? Untuk Sukabumi lebih baik. Selamat berulangtahun. (**)

loading...

About admin

x

Check Also

Tak Cukup dengan Surat

BICARA Keterlaluan jelas ini sungguh. Betapapun besar dan banyaknya perusahaan di daerah ...