Home / RUBRIK / KESEHATAN / RS BETHA MEDIKA / Rontgen kala Sakit Ringan
Oleh: Arbainna Umairah, Amd.RAD Radiografer RS Betha Medika

Rontgen kala Sakit Ringan

Oleh: Arbainna Umairah, Amd.RAD  Radiografer RS Betha Medika

Oleh: Arbainna Umairah, Amd.RAD
Radiografer RS Betha Medika

Banyak orang tua yang menanyakan kala anaknya sakit ringan, seperti batuk-pilek, bolehkah dirontgen untuk pemeriksaan yang lain. Pada prinsipnya tidak masalah sepanjang manfaat yang didapat dengan tindakan tersebut lebih besar. Dokterlah yang akan memutuskan dengan berbagai pertimbangan, apakah foto rontgen harus dilakukan atau tidak. Jika anak mengalami batuk kronik di samping flu, dokter dapat meminta pemeriksaan dengan foto rontgen.

 Namun ada kondisi tertentu yang menyebabkan anak tidak bisa dirontgen. Di antaranya, anak yang sedang sakit berat. Namun dengan kemajuan teknologi, di banyak rumah sakit sudah ada alat rontgen yang mobile. Sehingga alat rontgenlah yang akan mendekat atau menjauh tanpa pasien harus berpindah tempat. Selain itu, tak masalah juga bila anak memang memerlukan pemeriksaan rontgen berulang.

Contohnya pada anak yang dicurigai TBC paru sehingga perlu rontgen ulang sebagai bahan evaluasi setelah menjalani pengobatan selama enam bulan. Selain jangka waktunya cukup lama, dosis yang digunakan pun sudah dipertimbangkan seminimal mungkin sejauh masih bisa diperoleh gambar yang jelas.

Mengenai dosis minimal yang diperbolehkan tentu sudah ada aturan bakunya, tergantung pada organ tubuh anak, termasuk berat badannya. Selama dosis yang digunakan tepat, kalaupun ada sel-sel yang terkena radiasi sinar X ini biasanya akan segera pulih kembali.

 Jadi, batasannya bukan pada berapa kali dalam setahun atau berapa banyak dalam kurun waktu tertentu anak boleh dirontgen, melainkan seberapa penting dan mendesak tindakan tersebut harus dilakukan. Itulah mengapa pada kondisi tertentu dimana diagnosis hanya bisa ditegakkan berdasarkan hasil rontgen, meskipun harus diulang dalam jangka waktu relatif berdekatan, dokter akan tetap merekomendasikannya untuk kepentingan anak.

Ada Batasnya

Pada prinsipnya, sinar X menyebarkan radiasi yang bisa menyebabkan ionisasi sel. Dalam jangka panjang, paparan radiasi ini bisa memicu munculnya kanker. Namun tentu saja ambang dosis yang dibutuhkan untuk memicu kanker tidaklah sedikit. Sejauh ini radiologi yang digunakan untuk pasien masih dalam batas aman.

 Sedangkan pekerja di lingkungan radiologi dibekali indikator khusus untuk mendeteksi seberapa besar paparan radiasi yang sudah diterimanya. Seiring dengan kemajuan teknologi, posisi ‘penembakan’ pun sudah dibuat sedemikian rupa sehingga baik pasien maupun dokter/pekerja radiologi yang melakukan tugasnya seminimal mungkin terpapar radiasi. Demikian juga dengan waktu yang diperlukan selama proses ‘penembakan’ dibuat semakin singkat.

 Demikian artikel ini saya buat, mudah-mudahan bermanfaat untuk para pembaca sekalian jangan lupa untuk memeriksakan diri kepada dokter anda untuk mendapatkan saran pemeriksaan rontgen yang terbaik untuk kondisi Anda. Salam semakin sehat untuk kita semua dari kami, keluarga besar Rumah Sakit Betha Medika.(*)

loading...

About admin

x

Check Also

Perawatan Luka Pasca Operasi Caesar

Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit. Luka adalah kerusakan ...