Home / RUBRIK / ARTIKEL / OPINI PEMBACA / Sagaraten Hingga Cidadap Surga Sukabumi Selatan
Oleh Kang Warsa Guru Basa Sunda MTs Riyadlul Jannah dan Anggota PGRI Kota Sukabumi

Sagaraten Hingga Cidadap Surga Sukabumi Selatan

Oleh Kang Warsa Guru Basa Sunda MTs Riyadlul Jannah dan Anggota PGRI Kota Sukabumi

Oleh Kang Warsa
Guru Basa Sunda MTs Riyadlul Jannah dan Anggota PGRI Kota Sukabumi

Sampai hari ini, ungkapan Sagaranten sebagai ‘Sagara Inten’ (Samudera Intan) memang belum diteliti secara serius. Apakah hal ini hanya merupakan ungkapan atau memang benar penyebutan demikian merupakan hal lugas, jika di daerah tersebut tersebar intan.

Kalau hanya sebatas metafora, Sagaranten disebut ‘Sagara Inten’, siapapun tidak perlu berpikir dua kali bagaimana indah dan asri daerah ini. Kecuali itu, berbagai sumber daya alam baik perkebunan maupun mineral jika dikelola dengan baik akan mampu mencukupi kebutuhan seluruh warga Sukabumi selama tujuh generasi ke depan. Dan ini tidak berlebihan.

  Penulis sering mengernyitkan kening ketika di dalam kitab-kitab suci yang pada awalnya – diturunkan  bagi bangsa Semit (Torah, Injil, dan Quran) di dalamnya sering membahas keberadaan Sorga atau Jannaatunna’im. Ilustrasi sederhana dari tempat sebagai hadiah bagi kaum beriman ini adalah sebuah tempat tak berbatas, dipenuhi oleh aliran air, dan rimbun pepohonan.

Kenapa bangsa-bangsa Semit merindukan kondisi yang berbeda dengan alam mereka saat ini Tanah tandus dan gersang Kenapa kondisi mereka begitu mengikat erat pada kondisi alam yang saat ini begitu dekat dengan diri kita

  Kita hanya akan bermain-main melalui pendekatan metafora saja, karena sampai saat ini tidak ada seorangpun yang benar-benar mengetahui dan telah merasakan bagaimana kenikmatan Surga tersebut.

  Pandangan Plato dalam Critias and Timaeus ini salah satu jawaban jika keberadaan daerah di sebelah Timur Jauh dari Athena merupakan tempat yang selalu dirindukan oleh siapapun.

Cara berpikir kita memang sering terjebak ke dalam sikap linear, lurus begitu saja,padahal jika sebentar saja kita berpikir secara planar dan berdimensi, atau dalam ungkapan yang sering disematkan kepada Mangunwijaya sebagai pikiran bersayap, maka apa yang diungkapkan oleh Plato bisa saja merupakan hal yang benar.

Sebab, perubahan yang terjadi di lapisan bumi paling luar ini membutuhkan waktu berjuta tahun, jika tidak disebabkan oleh bencana alam kemungkinan dirusak oleh manusia (nature and human disaster). Sebuah gunung yang rimbun dengan pepohonan bisa menjadi tandus dan berubah mewujud sebagai gunung berbatu memerlukan waktu berpuluh hingga beratus tahun.

   Metafora kedua dikeluarkan oleh Ptolemeus, dalam Agryre disebutkan, Agryre merupakan sebuah tempat yang berbukit, bergunung, berlembah, udara hangat, sejuk, beribu jenis satwa dan tumbuhan hidup dengan baik di tempat itu. Ada pandangan menarik, Agryre merupakan satu tempat yang merujuk kepada kerajaan Salakanagara.  Ptolemeus menyebutkan, Agryre dihuni oleh manusia-manusia bersahaja, berbusana tipis-tipis yang terbuat dari kapas, sistem kehidupan mereka tidak dipengaruhi oleh pranata social yang ada namun lebih mendahulukan tata-tertib dalam kehidupan dengan saling menghargai satu sama lain. Daerahnya memanjang dari gunung besar menuju ke pantai di sebelah selatannya. Entah berapa ratus gunung dan bukit, hutan, perkebunan, hingga ladang-ladang ada di dalamnya. Siapapun ingin memiliki tempat ini, tentunya. Begitu pujian Ptolemeus terhadap keadaan dan kondisi Agryre.

  Merujuk pada dua metafora di atas, penulis memandang, penyebutan The East of Eden dan Agryre ini bukan tanpa alasan, dan ini menunjuk ke arah dimana saat ini kita sedang berpijak. Seperti metafora Sagara Inten terhadap Sagaranten bukan merupakan anggapan main-main. Orang-orang Semit dan mayoritas manusia memercayai kisah Raja Sulaiman (Solomon) sebagai penguasa bumi, dia takjub ketika melihat kerajaan Saba, disana terdapat sebuah fenomena, pelataran dipenuhi oleh intan berlian.

  Indra J Piliang, dalam Novel Pinangan Dari Selatan pernah membahasakan kepada penulis: “ Bumi selatan adalah Istana Ratu Bilqis yang dirusak oleh keserakahan manusia.” Bahkan, sampai saat ini, sage dan mythe Ratu Selatan masih sering diceritakan oleh masyarakat. Cerita rakyat ini berkembang dari mulut ke mulut, bukan hal mustahil, jika pada masa ribuan hingga masa jutaan tahun lalu, wilayah selatan memang pernah dipimpin oleh seorang ratu. Siapapun akan menyebut aneh terhadap pandangan penulis , tidak jauh berbeda dengan kaum atheis yang menyebutkan absurd terhadap cerita-cerita di dalam kitab suci.

  Fakta yang terlihat sekarang adalah bumi selatan seperti Sagaranten dan Cidadap masih tetap lestari, ribuan spesies binatang, ribuan kerajaan tumbuhan terdapat di sana. Beberapa waktu lalu ditemukan sumber gas alam, tidak jauh dari kantor Kecamatan Cidadap. Terus terang, Swarga Maniloka yang berada di Selatan Sukabumi ini akan menjadi rebutan bagi manusia-manusia serakah, tidak jauh berbeda dengan manusia yang rakus akan keyakinan, mereka memperebutkan Sorga di akhirat di dunia ini dengan cara apapun, kebaikan pun dijadikan kamuflase. Mereka menyebutnya sebagai ibadah sementara para perusak alam menyebutnya sebagai eksplorasi dan eksploitasi. (*)

About admin

x

Check Also

HUKUM HAKIM DAN KEADILAN

Goresan noda hitam kembali mewarnai perjalanan hukum di Indonesia. Oknum-oknum jahat aparat ...