Home / RUBRIK / LIPUTAN KHUSUS / Penyalahgunaan Tramadol di Kalangan Pelajar, Ngetram’ Bikin Tentram

Penyalahgunaan Tramadol di Kalangan Pelajar, Ngetram’ Bikin Tentram

TRAMADOLSUKABUMI–Penyalahgunaan obat-obatan di kalangan masyarakat terutama pemuda dan pelajar di Sukabumi, masih terjadi. Obat-obatan golongan G yang merupakan golongan obat berbahaya, kini sering sekali dijumpai di kalangan pemuda dan pelajar. Salah satunya adalah Tramadol.

“Aku suka ngetram (Bahasa lain mengkonsumsi Tramadol, red) sejak SMP kelas III, waktu itu saya dikasih dari temen,”tutur AN (17), salah seorang pelajar SMK swasta Kota Sukabumi, saat ditanya soal penggunaan Tramadol oleh Radar Sukabumi, Sabtu (3/9).

Menurut AN, obat Tramadol bisa membuat dirinya tentram dan tenang, namun sedikit beringas jika ada yang mengusik. “Kalau udah kecanduan, gak konsumsi Tramadol badan sakit dan meriang. Tramadol bisa bikin aku nyaman. Lumayan untuk mengatasi ejakulasi dini,”katanya sambil tertawa lepas.

Meski dirinya sadar sejak mengkonsumsi obat itu kemampuan membaca huruf dan hilangnya konsentrasi menjadi ancaman nyata, ia mengaku belum bisa meninggalkan kebiasan ngetrem itu karena sudah kecanduan.”Kalau kecanduan Tramadol sama dengan kecanduan opium,” katanya.

Saat ditanya bagaimana bisa mengenal obat-obat ini di masa sekolah, AN mengaku berawal dari hasrat ingin mencari ketenangan setelah disibukkan dengan aktivitas belajar mengajar di sekolah. Karena keenakan, ia pun jadi kecanduan hingga kini.

“Kalau udah ngetram, kuping kita sensitif. Berisik dikit pengennya sikat dan berantem, tau kenapa itulah efek obat murah ini,”terangnya.

Harga obat ini memang murah dan mudah didapat. Hanya dengan Rp25.000 dirinya bisa mendapatkan sepuluh butir Tramadol, atau cukup dengan Rp10.000 bisa dapat empat butir Tramadol. Makanya ia tak kesulitan jika ingin ngetram.”Kalau kita papalidan (Berlibur dengan menumpang truk, red) itu wajib pake, biar di jalan tenang. Jika ada yang usil kita jadi bringas kayak macan,”candanya.

Kisah lain diceritakan ND (18), salah satu mantan siswa SMK swasta yang drop out (DO). Ia mengatakan, setiap ngetram biasanya mengkonsumsi 20 butir Tramadol sehari. “Kalau kurang gak naik-naik. Tapi gak tiap hari juga, selang seling,” tuturnya.

Sekarang ia terpaksa berhenti gara-gara desakan keluarga dan sahabatnya. Mereka sering kesal, lantaran saat ngetram ND menjadi individualis dan cuek dengan orang lain.”Jadi sering ngerepotin teman dan keluarga. Temen-temen udah pada gak mau ngebawain aku Tramadol, beli sendiri ke apotik udah gak dikasih karena keseringan beli banyak. Alhasil terpaksa aku berhenti,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Jhon (Bukan nama sebenarnya), salah satu alumni SMK swasta di Sukabumi. Selama berada di bangku SMK, pria 24 tahun itu merupakan pemakai berat Tramadol hingga menjadi penyuplai ke adik kelasnya.

“Sekarang udah gak zaman ngetram, sudah lama saya berhenti setelah saya sakit parah waktu itu hingga kejang-kejang. Asal kamu tau aja, kalau sudah kecanduan ngetram mau berhentinya sulit, aku aja perlu waktu. Kalau gak ngetram sampai dosis yang diinginkan, maka badan kita akan berasa diinjak-injak orang, wah parah lah,” jelasnya.

Ia mengaku kesulitan, setiap kali ingin melepaskan diri dari kecanduan ngetram. Bahkan, lulus sekolah pun masih ketagihan.“Setiap butuh ngetram badan terasa sakit tidak karuan, hingga ke tulang. Untuk menghilangkan sakit itu ya harus pake Tramadol mau gak mau, tapi kalau dilawan ya harus perlahan dan niat tinggi untuk berhenti,” paparnya.

Lebih lanjut pria yang diketahui masih kuliah di perguruan tinggi swasta itu bepesan kepada rekan-rekannya yang masih ngetram, supaya segera berhenti karena bahaya untuk kesehatan. “Jika ingin berhenti, jangan langsung stop.

Tiap ngetram kamu kurangi terus hingga akkhirnya lupa jumlahnya. Yang biasa sepuluh, dipotong jadi setengah-setengah, tiap minggunya. Gak ada yang gak mungkin kalau kalian berniat berhenti, saya juga kuat meski awalnya parah,” bebernya.
I

a berharap semoga rekan-rekan dan adik kelasnya yang masih duduk di bangku sekolah sadar soal bahaya ngetram. “Ketenangan memang perlu, tapi kalau cari ketenangan dengan obat salah besar, masih ada cara lain untuk mendapatkan ketenangan dari semua masalah yang ada. Kita tinggal seyum saja, sisanya biar Tuhan yang menyelesaikan,” tandasnya. (hnd)

loading...

About admin

x

Check Also

Mohon Maaf Kepada Umat Islam, Terkait ilustrasi

SUKABUMI – Ilustrasi yang dimuat di Harian Pagi Radar Sukabumi edisi Selasa, ...