KABUPATEN SUKABUMI

Sukabumi Berduka, Ajengan Zezen Berpulang

SUKABUMI – Innalillahiwainnailaihirojiun. Warga Jawa Barat berduka. Ulama besar yakni Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab Bin KH Zayadi meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Kartika, Kota Sukabumi, sekitar pukul 07.00 WIB, kamis (19/11).

Almarhum Uwa Ajengan Zezen sapaan akrab Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadhul Al-Fiyyah Walhikam Azzainiyyah, Nagrog, Kabupaten Sukabumi ini meninggal akibat penyakit jantung dan diabetes yang dideritanya. Ajengan meninggal di usia ke-60 tahun.

Putra pertama almarhum, H Aang Abdullah Zein menjelaskan, almarhum juga memiliki luka di bagian betis akibat terjatuh saat mengecek lokasi pembuatan jembatan di Kampung Nagrog beberapa bulan silam hingga infeksi. Ajengan juga meninggal saat menjalankan tugas sebagai Ketua MUI yang berencana akan membangun pesantren di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Warungkiara.

Ajengan Zezen berangkat dengan beberapa pengurus MUI, personel Lapas Warungkiara, Kementerian Agama dan pemerintah daerah untuk menyusun konsep pembinaan keagamaan membentuk kepribadian dan kemandirian warga binaan Lapas Warungkiara dalam lembaga pendidikan Pondok Pesantren Saadatudaroen yang rencananya akan diresmikan pada minggu ketiga bulan Desember 2015.

“Hari Senin Uwa (KH Zezen Zainal Abidin) ke Lapas Warungkiara untuk mengecek tempat. Karena berencana membuat pesantren rehabilitasi. Tidak sempat pulang ke rumah, Uwa langsung ke Lapas Cianjur dan ke Pondok Remaja Inabah Ponpes Suyalaya, Tasikmalaya untuk studi banding. Sepulang dari Tasikmalaya, Uwa jatuh sakit langsung dirawat di RS Kartika,” kata Aang Abdullah Zein.

Mendengar kabar tersebut, Aang langsung ke RS Kartika untuk menemani Ajengan. Aang juga konsultasi dengan dokter yang menanganinya. Setelah konsultasi akibat luka di betisnya yang membengkak, akhirnya disepakati untuk dioperasi. Konsultasi tersebut sebagai tanggung jawab keluarga jika di kemudian hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lantaran, Ajengan memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes.

Di sana Aang berbincang dengan Ajengan. Bahkan terlihat pada raut mukanya berseri-seri sambil mengucap syukur. Ajengan pun merasa pusing, karena kadar gulanya masih labil (naik turun). Setelah dicek oleh dokter, ternyata Ajengan mengalami hippo artinya kadar gulanya turun sampai 70 mg/dl hingga merasa pusing. Lantaran kadar gulanya sangat rendah, Ajengan pun meminta air teh manis hangat. Lalu diminumlah air teh itu.

“Saur Uwa, Alhamdulillah masih dipaparinan kanikmatan ku Allah Subhanahuwataala. Genah ayeuna mah, pasantren tos majeng, santri seueur, murangkalih soleh,” ucap Aang dengan bahasa Sundanya seraya mencontohkan Ajengan menunjukkan kegembiraannya.

Lantaran di Ponpes Azzainiyyah memiliki kegiatan rutinan riyadoh, Aang pun pulang ke ponpes untuk memimpin kegiatan tersebut. Sementara di RS Kartika, Ajengan ditemani putra putrinya yang lain. Saat berbincang Ajengan pun meminum teh manisnya.

“Setelah meminum teh manis hangat. Uwa langsung meninggal,” terangnya seraya disambut takbir para jamaah.
Almarhum meninggalkan dua putra dan enam putri serta 13 cucu. Almarhum sempat mengenyam pendidikan hingga Madrasah Aliyah (MA) di Almasturiyyah, Cibolang, Cisaat. almarhum juga malang melintang mencari ilmu dari pesantren ke pesantren. Seperti di Sikoyaturahmah dan An-Nidzom Jalan Selabintana, Sukabumi.

Kyai yang akrab disapa Ajengan Zezen ini dikenal sebagai pengamal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) dan duduk sebagai Wakil Rais Syuriyah Jawa Barat serta Rais Idaroh JATMAN di tingkat pusat.
Istri almarhum, Hj Umi Nuryani Zein bersama putri-putrinya pun terus mengurai air mata. Air mata yang mengalir bukan berarti tidak ikhlas melepaskan almarhum.

“Kami hanya rindu canda gurau beliau. Saya sengaja keluarga melaksanakan salat jenazah bersama dan melihat wajah almarhum. Alhamdulillah, berkat doa guru-guru, saya pribadi sampai saat ini masih diberikan kekuatan untuk tidak menangis,” papar Aang.

Pantauan Radar Sukabumi, ribuan alim ulama, pejabat, santri dan masyarakat Jawa Barat memadati lingkungan ponpes untuk mengantarkan prosesi pemakaman almarhum.

Sementara itu, Kabag Sarana Keagamaan Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar mengaku kehilangan atas wafatnya Ajengan Zezen. Terlebih, dirinya kerap melaksanakan kegiatan bersama. Begitupun dalam kegiatan studi banding ke Ponpes Suryalaya.

Ali menyebutkan, tiga belas tahun yang lalu almarhum dengan kearifan dan kesabaran meyakinkan semua umat Islam untuk menegakkan syariat Islam yang rahmatanlilalamin. Penegakan syariat Islam yang berikhtiar menyegarkan pengamalan ajaran, menguatkan pemahaman, dan menjalankan setidaknya rukun Islam secara benar dan sungguh-sungguh.

“Kita ingat mimpi beliau untuk Sukabumi yaitu tegaknya syariat Islam di Kabupaten Sukabumi dalam mewujudkan masyarakat yang berahlakul kharimah, perilaku yang uswatun hasanah dan berdampak rahmatan lil alamin menuju Sukabumi mubarokah,” papar Ali.

Walikota Sukabumi, Muhmmad Muraz mengungkapkan, almarhum KH Zenen Zaenal Abidin merupakan guru besar dan tokoh Jawa Barat sekaligus guru dan teman baginya.

“Kita merasakan kehilangan yang amat sangat mendalam atas meninggalnya KH Zezen Zaenal Abidin. Masyarakat Sukabumi merasa kehilangan, semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi, Tatan Rustandy mengungkapkan, KH Zenen Zaenal Abidin seorang pejuang agama yang patut untuk diikuti jejaknya oleh masyarakat Sukabumi. Jasanya dalam penyebaran agama Islam dan peningkatan akhlak masyarakat sangat besar dan jasanya patut untuk diikuti oleh semua orang.

“Jasa beliau begitu besar dalam pembangunan Sukabumi, kami sangat kehilangan, semoga beliau mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT,” ungkapnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Muhammad Jaenudin juga menuturkan hal yang sama, almarhum KH Zezen telah memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga di Kabupaten Sukabumi, semua jasanya amat nyata dan berdampak positif bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi.

“Beliau telah mengabdikan dirinya untuk pembangunan Kabupaten Sukabumi,” paparnya.

Ia berharap, jasa Ajengan Zezen dalam pembangunan di Kabupaten Sukabumi dapat ditiru oleh masyarakat Kabupaten Sukabumi. Membangun fondasi pemerintahan dengan akhlak menjadi pesan yang almarhum KH Zezen sering sampaikan.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) juga mengunjungi Ponpes Azzainiyyah. Bahkan, Aher menjadi imam Salat Jenazah dan Salat Ashar sebelum almarhum dikebumikan di lingkungan ponpes ini.

“Kami atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Jabar turut berbela sungkawa yang mendalam atas kepergian beliau. Semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan,” urainya. (ryl/cr5/t)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close