Home / RUBRIK / KESEHATAN / Dokter, Mengapa Saya Sulit menurunkan Berat Badan?
Dr. Raditya Asri Wisuda, MARS Dokter Umum RS Betha Medika www.rsbethamedika.com Fanpage Facebook: RS Betha Medika Facebook: Raditya Asri Wisuda

Dokter, Mengapa Saya Sulit menurunkan Berat Badan?

Dr. Raditya Asri Wisuda, MARS Dokter Umum RS Betha Medika www.rsbethamedika.com Fanpage Facebook: RS Betha Medika  Facebook: Raditya Asri Wisuda

Dr. Raditya Asri Wisuda, MARS
Dokter Umum RS Betha Medika
www.rsbethamedika.com
Fanpage Facebook: RS Betha Medika
Facebook: Raditya Asri Wisuda

Salam sehat para pembaca sekalian. Pada artikel sebelumnya, saya menceritakan sekilas perjalanan saya dalam “bertaubat” sehingga bisa menurunkan berat badan saya dari 117 kg menjadi 85 kg.
Hal pertama yang harus kita pastikan adalah motivasi. Banyak dari kita ingin berusaha menurunkan berat badan, namun kemudian tujuan nya tidak tercapai. Atau bisa saja tujuannya tercapai, namun dalam beberapa waktu, berat badan kita malah kembali naik lebih tinggi dibanding berat badan sebelumnya.
Dari perjalanan yang saya alami, penentu utama adalah apa yang memotivasi kita. Saya sangat tidak menyarankan para pembaca menjadikan “ingin turun berat badan” menjadi motivasi utama dalam mencapai tujuan ini.
Mengapa demikian? Sudah cukup banyak kasus yang menunjukan bahwa bermotivasi hanya “ingin turun berat badan” ternyata tidak bisa cukup menjaga kita terus menerus konsisten dalam sikap kita. Saya sangat menyenangkan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mencapai hidup yang lebih sehat.
Tampak seperti hal yang klisye, mengada-ada. Tapi dari apa yang saya alami, ternyata ini sangatlah penting. Temukanlah apa saja hal-hal besar yang dapat membuat anda ingin hidup lebih sehat.
Hal besar yang sangat bermakna untu saya adalah orang-orang yang saya sayangi. Istri, anak-anak, keluarga saya. Saya sangat ingin bisa terus hidup sehat untuk kebahagiaan mereka. Untuk terus menemani dan bersama mereka sampai saya tua. Rasanya tidak terbayang oleh saya, jjika saya harus menyulitkan mereka dengan sakit yang harus saya derita karena “kecerobohan” saya terhadap apa yang saya makan. Terhadap penyakit yang sebetulnya saya buat sendiri, yang saya hadirkan sendiri dari gaya hidup saya, dari pola makan saya.
Perlu para pembaca ketahui, kelebihan asupan kalori dari apa yang kita makan, akan tertumpuk dalam timbunan lemak yang tersimpan di daerah perut, paha, tangan, pipi, dan area lain yang dapat terlihat. Orang lain akan merespon dengan menyampaikan bahwa kita menjadi lebih gemuk.
Tapi apakah para pembaca menyadari, bahwa ada penimbunan-penimbunan senyawa lemak tubuh yang terjadi di daerah yang tidak terlihat dari luar, misal pada pembuluh darah jantung dan pada pembuluh darah otak. Kita tidak akan mengalami fase “diingatkan” oleh orang lain karena jantung atau otak kita membesar, karena itu memang tidak akan terlihat dari luar. Namun penimbunan itu bisa saja tiba-tiba “menyapa” kita dengan serangan jantung, dengan serangan penyakit stroke.
Bisakah terbayang oleh para pembaca, bagaimana menderitanya kita jika menderita penyekit tersebut? Apakah terbayang bagaimana menderitanyanya orang-orang yang kita sayangi, istri, anak-anak, keluarga tercinta dengan kita terkena penyakit tersebut?
Kita yang menjaga pola makan saja tetap beresiko untuk terkena penyakit-penyakit tersebut, apalagi kalau ternyata kita tidak menjaga apa yang kita makan.
Jadi saya sangat menyarankan, milikilah motivasi yang lebih besar dari sekedar “ingin turun berat badan”. Berusahalah memotivasi diri anda dengan “ingin hidup lebih sehat’, untuk kebaikan orang-orang yang kita sayangi.
Adapun dalam perjalanannya ternyata berat badan kita menjadi turun, kita menjadi lebih langsing, sehat, keren dan percaya diri, anggaplah itu sebagai efek samping menyenangkan yang “terpaksa” harus kita terima.
Menyenangkan bukan? Semoga kita semua terus bisa berupaya hidup lebih sehat untuk kebaikan kita dan orang-orang yang kita sayangi.(*)

About

x

Check Also

Golden Age, Masa Usia Emas Penentu Masa Depan Anak

Buah hati merupakan kado terindah yang Tuhan berikan kepada orang tua sebagai ...