Home / RUBRIK / ARTIKEL / Catatan Redaksi / Sebelum Meninggal, Tularkan HIV/AIDS

Sebelum Meninggal, Tularkan HIV/AIDS

Jalin Hubungan dengan Preman Kampung

Atas nama cinta semua rasa takut dan cemas hilang, meski tahu pada waktu dulu pacarku (sebelum menjadi suami, red) adalah seorang preman, namun karena percaya dan cinta semuanya berubah. Meski ujungnya berakhir musibah bagi Ria (bukan nama sebenarnya, red), hingga pikul status penderita HIV dari (alm) suaminya Rian (bukan nama sebenarnya, red) sampai sekarang.

Handi Salam, Sukabumi

Kondisiku berubah drastis ketika mengenal sosok Rian, awalnya menurut orang di sekelilingku, aku adalah orang yang baik dan penurut. Tetapi itu berubah saat aku mengenal seorang pria yang saat ini sudah tiada dengan status mantan suami, sejak saat itu kehidupan dirinya pun berubah. Memang dulu pacarku (alm suami, red) itu seorang preman, namun ketika mendengar teman-temanku mengatakan kalau Rian itu akan berubah kalau dirinya mau menjadi pacarnya. “Tetapi setelah aku menerima dia untuk menjadi pacar, perilakunya tidak berubah. Bahkan segala cara dihalalkan, termasuk dia sering berhubungan dengan beberapa perempuan (PSK), “ujar Ria kepada Lensa.

Pada waktu itu, sempat dirinya ingin mengakhiri hubungan dengannya tetapi dia berjanji apabila dia menjadi suami, dia akan benar-benar berubah karena dia akan menjadi kepala rumah tangga yang baik. Dan akhirnya kami menikah tahun 2008. Tetapi ternyata janji yang pernah terucap oleh dia itu bohong, malah lebih parah lagi, ia sering kena pukulan oleh suaminya itu.

“Sebenarnya aku mengetahui kalau suamiku masih suka gonta ganti perempuan, tetapi meskipun tahu aku berusaha tutup telinga karena tidak ingin bercerai dan berganti status menjadi janda.

Walaupun sudah memiliki anak kelakuan suamiku tetap masih belum berubah. Meskipun perih namun dirinya berusaha memperjuangkan keutuhan rumah tangga, perjuangan hidup dirinya dari mulai jadi gembel, pengamen, tukang baso, ia jalani untuk memenuhi kehidupan dengan anaknya,

“Meski suamiku kurang lebih tiga tahun tidak menafkahi kami, karena tekadku untuk mempertahankan rumah tanggaku aku sempat mencoba untuk bunuh diri, aku mencoba minum larutan pemutih pakaian, menyayat-nyayat tangan, karena aku tidak mau dibilang janda, bahkan suatu ketika suami saya sedang sakit parah, saya berusaha menjadi istri yang baik, merawat dia sampai-sampai membersihkan kotorannya, menyuapi makanan, perjuanganku terus berlanjut menjadi kepala rumah tangga sekaligus mengurus suamiku yang sakit. Sampai akhirnya sekitar tahun 2013 suamiku meninggal, ” jelasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, setelah itu dirinya memutuskan untuk bekerja di sebuah pabrik demi menghidupi anaknya. Ketika waktu libur dirinya mendengarkan siaran di Radio di mana disitu membahas tentang HIV/AIDS dan juga informasi tentang test HIV (VCT) gratis di Puskesmas yang di tunjuk oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi, salah satunya Puskesmas Cisaat.

“Aku memutuskan untuk melakukan tes di sana. Setelah melakukan tes konselor di Puskesmas Cisaat salah seorang petugas memberitahukan hasilnya kepadaku. Beliau memberikan konseling terlebih dahulu dan motivasi kepadaku agar aku bisa tabah menerima hasilnya karena ternyata hasil tes ku positif HIV,” akunya.

Saat ini oleh kawan- kawan LSM aku disarankan untuk masuk ke RPSO (Rumah Perlindungan Sosial Odha), setelah mendapat info, dirinya merasa tertarik untuk tinggal di sana. Rencananya bulan Januari ini dirinya akan tinggal di sana. Mudah-mudahan ini menjdi jalan baru untuk masa depan yang lebih baik, ke depannya tidak ada lagi kesedihan dan air mata.

“Anakku, Ibu, Ayah juga adik-adikku semoga aku bisa membuat kalian bahagia, amin,” tukasnya. (*)

About

x

Check Also

Saatnya Berlari !!!

KABUPATEN Sukabumi sudah saatnya harus menjadi tua-tua keladi. Menjadi sepuh yang memiliki ...