Home / RUBRIK / ARTIKEL / Catatan Redaksi / Diyakini Mencegah Bala, Generasi Muda Mesti Jaga
Diyakini Mencegah Bala, Generasi Muda Mesti Jaga

Diyakini Mencegah Bala, Generasi Muda Mesti Jaga

Ketika Tradisi Rebo Wekasan Diperingati, (1)

Diyakini Mencegah Bala, Generasi Muda Mesti Jaga

Diyakini Mencegah Bala, Generasi Muda Mesti Jaga

Tradisi Rebo Wekasan (hari Rabu terakhir di bulan Safar, red) setiap tahunnya diperingati masyarakat dengan memanjatkan doa kepada maha pencipta alam. Namun, sejalan dengan kemajuan zaman tradisi ini sudah jarang dikenal di kalangan masyarakat khusus generasi muda, baik secara makna maupun secara budaya akan sejarah Rebo Wekasan.

Handi Salam, Sukabumi

Suara kicauan burung dan binatang yang ada di Situ Gunung Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi tiba-tiba terhenti sejenak, entah karena suara alat kesenian mulai didengarkan oleh para budayawan atau ikut terbawa suasa alunan musik tradisional yang sedang memperingati hari Rebo Wekasan yang dipusatkan di tempat itu.

Ratusan masyarakat dan undangan yang hadir ikut terbawa suasana ketika acara ritual dimulai, aroma menyan dan dupa sudah mulai tercium, para tokoh masyarakat diantaranya Aki Oji Suderja, K.H Buya Royani, Fajar Laksana dan tokoh undangan lainnya mulai melakukan serangkaian kegiatan dengan seksama.

Tradisi ini mungkin bagi sebagian kalangan masyarakat ada yang menyetujui dilaksanakan ada juga yang tidak, namun para tokoh memastikan, bahwa dengan adanya kegiatan peringatan Rebo Wekasan selain untuk melestarikan budaya sekaligus untuk mengusir dan menghindari bala (Musibah, red).
“Kami hanya melestarikan budaya nenek moyang, kalau ada yang menganggap ini salah atau benar kami tidak melarangnya, “jelas salah seorang tokoh dalam mengisi sambutannya, kemarin (17/12).

K.H Bunya Royani salah satu tokoh yang hadir dalam kegiatan itu mengatakan, selain untuk melestarikan budaya kegiatan ini sebagai kegiatan menghindari musibah. Pada zaman dulu masyarakat meyakini pada bulan Safar (Salah satu nama bulan Hijriah, red) diyakini sang pencipta menurunkan musibah kepada umatnya, maka diadakanlah kegiatan tolak bala yang dilaksanakan pada hari Rabu pada akhir bulan safar.
“Setiap tahun sejak dulu kami memperingati Rebo Wekasan ini di masjid dengan berdoa, namun sejak dua tahun terakhir diadakan upacara peringatan Rebo Wekasan. Hal itu dilakukan karena kami dari kalangan budaya, maka kami peringati sesuai dengan budaya nenek moyang, yakni dengan dilakukan upacara adat,” jelas Buya.

Dalam kegiatan ini juga masih kata Buya, hadir para komunitas dari berbagai daerah untuk datang menghadiri diantaranya dari Bogor, Sumedang, Bandung, Manado, dan Mentawai ikut datang dalam acara adat ini. Saat ditanya kenapa untuk tahun ini diadakan di Situ Gunung Gede Pangrango, dirinya menjelaskan bahwa Gunung Gede merupakan pusat energi yang sangat kuat.
“Di Gunung gede ada sembilan ribu 11 energi, meski secara nalar itu tidak mungkin, namun kami bekerja menggunakan otak kanan dan kiri, “jelasnya.

Semesta ini terbangun harmoni dengan berdampingan, ada ritme bawah dan tinggi dalam suatu kehidupan, yang mana keduanya saling mengisi kekurangan dan kelebihan. “Sangat perlu budaya ini terus dilestarikan oleh masyarakat sunda khususnya, agar kita tidak lupa budaya leluhur yang semakin hari tak dapat perhatian dari masyarakat sunda. (*)

loading...

About

x

Check Also

Saatnya Berlari !!!

KABUPATEN Sukabumi sudah saatnya harus menjadi tua-tua keladi. Menjadi sepuh yang memiliki ...