Home / RUBRIK / ARTIKEL / Catatan Redaksi / Tertular Sang Suami Pemakai Napza

Tertular Sang Suami Pemakai Napza

Ketika IRT Tak Menduga Bisa Terkena HIV/AIDS

Kegelisahan mulai dirasakan ketika Nina (bukan nama sebenarnya, red) seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) positif menderita HIV/AIDS, pertama dirinya tidak menduga penyakit mematikan itu akan singgah di tubuhnya. Soalnya, keluarga dirinya tidak pernah melakukan hubungan di luar nikah. Sejalan dengan waktu, dirinya sadar bahwa suaminya yang berprofesi sebagai karyawan swasta adalah penguna Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (Napza).

Handi Salam, Sukabumi

Nasi sudah jadi bubur adalah kata yang tepat bagi Nina yang menderita HIV/AIDS karena tertular dari almarhum suami tercinta. Waktu dirinya tahu positif HIV/AIDS, perasaan dia sudah tidak menentu dan rasanya ingin melompat dari atas gedung tinggi, akibat tidak menyangka harus menanggung risiko yang tak pernah dia lakukan.
“Aku sendiri tidak menyangka bisa menderita HIV. Ini berawal pada tahun 2007 saat suamiku sakit dan dirawat di rumah sakit,”ujar Nina saat ditemui LSM Lensa belum lama ini.

Ketika suamiku dirawat di rumah sakit, hari ke hari suamiku kondisinya semakin memburuk dan dokter pun melihat tanda-tanda pada suamiku menderita HIV terlebih lagi setelah tahu latar belakang suamiku adalah pemakai Napza. Setelah enam bulan dirawat akhirnya suamiku meninggal dunia.
“Aku memang mengetahui suamiku menggunakan narkoba tetapi aku tidak terpikir suamiku bisa menderita HIV/AIDS, “jelasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, saat pertama kali sakit dirinya pernah memerintahkan suaminya untuk tes tetapi dia menolak, katanya gak mungkin lah bisa kena HIV. Namun, kini setelah mengetahui suamiku meninggal akibat terinfeksi HIV/AIDS dirinya langsung melakukan tes darah, dan benar dugaan selama ini bahwa dirinya juga terkena virus tersebut.
“Aku terkejut saat mengetahui hasil tes darah dengan hasil positif HIV/AIDS, namun saat itu aku berpikir apakah kedua anakku juga terkena. Pada waktu itu Aku tidak langsung melakukan tes darah terhadap kedua anakku, karena Aku merasa tidak terima saat mengetahui kenyataan jika anakku pun sama seperti diriku terinfeksi HIV/AIDS, “terangnya.

Dirinya mulai sadar bahwa harus segera melakukan tes terhadap kedua anaknya supaya bisa dilakukan pengobatan jika positif terinfeksi. Hasil tes pun didapat kedua anaknya positif terinfeksi HIV/AIDS yang saat itu baru berusia 1,5 tahun. Menerima kenyataan itu dirinya sempat tidak terima kenapa anak yang masih balita juga harus terinfeksi.
“Setelah suamiku meninggal, aku tinggal dengan keluarga suamiku. Saat itu keluarga mulai ada perubahan terhadap diriku. Biasa ngerumpi bareng tiba-tiba mereka mulai menghindar, mesin cuci juga dipisah dan bahkan makanan pun dibedakan, “cetusnya.

Melihat sikap keluarga almarhum suami mulai berubah, dirinya memutuskan untuk tinggal sendiri bersama kedua anaknya. Sejak saat itu dirinya mulai aktif memberikan motivasi kepada mereka yang terinfeksi HIV terlebih lagi mereka yang mendapatkan diskriminasi dan tidak mendapatkan hak-hak nya.
“Walaupun aku kini terinfeksi HIV stadium II, aku merasa sama seperti yang lainnya yang bisa melakukan aktivitas pada umumnya dan bahkan aku bisa bekerja seperti layaknya orang pada umumnya, “jelasnya

Tidak semua penderita HIV memiliki latar belakang yang jelek seperti pecandu narkoba atau seks bebas, karena bisa saja mereka menderita HIV karena salah satu orang tuanya terinfeksi HIV/AIDS. Meski sempat terpikir oleh dirinya jika suamiku dulu jujur, mungkin bisa dilakukan pencegahan lebih awal terhadap penyebaran virus HIV, dan anaknya yang tidak tahu apa-apa tidak terinfeksi HIV. “Yang bisa saya lakukan sekarang optimis dan menikmati hidup, jangan berbicara kematian karena itu urusan Tuhan,”tukasnya (*/Lensa)

loading...

About

x

Check Also

Saatnya Berlari !!!

KABUPATEN Sukabumi sudah saatnya harus menjadi tua-tua keladi. Menjadi sepuh yang memiliki ...