Home / RUBRIK / ARTIKEL / Catatan Redaksi / Menelusuri Lorong Gelap Arisan Brondong (2)

Menelusuri Lorong Gelap Arisan Brondong (2)

Awalnya Endang hanya berdiam menunggu hujan reda. Tiba – tiba Mbak Mirna menghampirinya dengan berpakaian serba seksi.
Anehnya Mbak Mirna seperti disengaja, terlihat berlaga erotis dengan pura-pura menggaruk pahanya yang gatal. Tangannya mulai nakal meremas apa saja di tubuh Endang, hingga naluri kelakiannya tergerak.

Entah setan mana yang merasukinya, awalnya mencoba melawan dengan menyadarkan Mbak Mirna. Namun tak bisa ditebak, terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Peristiwa itu ternyata tidak membuat Mab Mirna kapok, sebaliknya malah makin liar.
Lambat laun dirinya mulai terbiasa dengan cekakak – cekikik para tante. Sejak itu, Endang pun mulai jadi ‘Piala bergilir’ di antara lingkaran tante-tante. Sudah tak ada lagi pikiran positif. Ia pun terjebak pada nafsu, nafsu, dan nafsu setiap hari.

Saking ingin keluar dari dunia kelam yang menderanya, Endang tak menghiraukan jika ada orang mengutuknya, menganggapnya bodoh, lemah dan tidak berguna. Tapi memang itulah yang diakui Endang.

“Ya, bolehlah semua orang merutukku, menganggapku bodoh,lemah, tidak berguna. Tapi memang itulah aku, aku sendiri tak tahu. Sepertinya aku tak punya kekuatan untuk lepas dari semuanya, namun untuk sekarang saya coba melepaskan kehidupan  itu,”jelasnya.

Meski sungguh, dirinya sama sekali tak bangga atas dirinya, apalagi menikmati kehidupan yang dijalaninya selama ini.
Apalah bangga Endang sebagai lelaki, jika harus menadahkan tangan untuk mengais lembaran rupiah setiap kali harus bersimbah peluh melayani birahi mereka.

“Aku ingin kehidupan normal, aku ingin punya istri, memiliki orang yang mencintai dan kucintai, melayaninya dengan sepenuh hati. Ingin memberikan cinta, ingin membahagiakannya ..ingin … ingin … dan sejuta keinginan lain yang sepertinya semakin jauh dari kenyataan, “harapnya.

Tak terasa, sudah tahun keempat Endang bergaul dengan kumpulan tante-tente nakal. Rasa jenuh mulai bangkit di benaknya, betapa tidak kurun waktu yang lumayan lama itu dirinya harus melayani permintaan Mbak Mirna dan teman-temannya.
Walaupun begitu, ia membenarkan kehidupan itu membuatnya bahagia sekaligus menderita. Sebab, di satu sisi kehidupan materi  tercukupi, tapi disisi lain kebebasannya sebagai lelaki normal terganggu.

“Terkadang saya suka iri pada kalian (teman main,red) yang bebas bergerak kemana saja tanpa banyangan orang lain, “keluhnya.
Sempat pada akhir 2012, Endang mencoba menghindar dari kejaran komunitas tante – tante itu meski pada akhirnya tak bisa dihalau. Lantaran berbagai ancaman dilakukan Mbak Mirna, dengan embel-embel politik balas budi hingga mengancam akan melakukan hal yang lebih ekstrim.

“Jujur saja saya pernah menghindar, namun karena ucapan Mbak mirna yang membuat saya takut terjadi apa-apa pada diri saya mending mengalah. Karena saya sadar betul bahwa Mbak Mirna punya segalanya dan bisa berbuat apa saja,dengan cukup menyewa orang,”ucapnya.
Malahan masih kata Endang, dirinya sempat meminta izin untuk memiliki kekasih selain Mbak Mirna dan temen-temennya. Ironisnya permintaan itu secara perlahan ditolak, padahal awalnya memang diberikan kebebasan untuk berpacaran dengan wanita idaman. Secara perlahan Mbak Mirna dan temannya mencoba menghancurkan hubungannya dengan cara mempersempit jadwal pertemuan dengan pacarnya itu.
“Dibolehkan awalnya, tapi setiap kali malam minggu saya mau ketemuan malah dilarang. Dan itu membuat hubungan dengan pacar saya tidak bisa bertahan lama,”cetusnya.

Kalau ukurannya materi, kehidupan Endang memang enak, mau apa saja pasti terlaksana. Tinggal ngomong ke Mbak Mirna dan temannya. Hanya saja ia keinginan hati cukup kuat untuk keluar dari lingkaran kehidupan maksiat itu.
“Jujur waktu itu saya susah untuk mengelak apalagi berbohong, kalau ketahuan berbohong maka sudah pasti saya akan diperlakukan lebih kasar,”jelasnya.
Bukan tidak memikirkan masa depan dan kesehatan kedepan, lingkaran ini membuatnya dilema. Apalagi ketika teman-temannya satu persatu naik ke pelaminan dengan pujaan hati.

“Saya sedih kalau teman-teman saya dulu sekolah mengundang ke pernikahan. Apakah aku bisa terlepas dari belenggu ini, kalau dilepaskan tentunya saya harus rela materi saya hilang,”akunya.
Pernah suatu ketika, Endang pura-pura bekerja di luar kota. Upaya itu kembali gagal, karena mereka kembali menyuruh orang banyaran untuk mencari tau keberadaannya. Tak sempat dua bulan, kebohongan pun terbongkar dan tante-tante ini mengancamnya dengan dalih kasus penipuan.

“Waktu itu saya ingat pas mau lebaran Idul Fitri 2013, saya dibelikan barang-barang yang dibutuhkan. Mau tak mau saya harus kembali kepelukan mereka, karena saya sadar betul masih butuh materi untuk hidup laiknya orang lain,”terangnya.
Endang ketakutan dengan sosok suami para tante yang diketahui pengusaha besar.
“Namanya juga hubungan gelap tanpa status, pasti saya takut lah,”ungkapnya.

Yang lebih menganehkan lagi, Endang menerima perkataan dari salah satu temannya Mbak Mirna sebut saja Mbak Dita (bukan nama sebenarnya, red). Ia bebas melakukan apa saja kepada Dita itu, walau tidak sampai melakukan hal-hal intim.
“Saya pernah ditampar sama Mbak ini, waktu itu saya nafsu melihat Mbak Dita yang masih terlihat segar. Dia masih setengah setia, saya dilarang berlebihan. Kalau hanya luaran mah sering juga sih, ini hanya sebatas iseng saja meghilangkan kesepian,”cetusnya.

Tiba saatnya Endang kembali merasakan indahnya jatuh cinta, kepada wanita yang dijumpainya di salah satu swalayan, sebut saja Nina (21) (bukan nama sebenarnya,red).
Mahasiswi salah satu perguruan swasta di Sukabumi itu membuat Endang terbuka dengan apa yang dilakukan selama ini. Awalnya  canggung dan malu berpacaran selaiknya orang normal.
“Saat pertama kali ketemu kayaknya Nina sudah suka, sampai sekarang juga saya belum bisa mengatakan keadaan yang sebernarnya, “ungkapnya.

Kondisi ini ditutup Endang rapat – rapat pada komunitas tante-tante girang itu, demi keamanan.
“Kalau malam Minggu pergi ke pacar saya dulu sampai jam 08.00 WIB, setelah itu baru saya pamitan agar tidak dicurigai,”terangnya. (hnd/t)

About admin

x

Check Also

Saatnya Berlari !!!

KABUPATEN Sukabumi sudah saatnya harus menjadi tua-tua keladi. Menjadi sepuh yang memiliki ...