Home / RUBRIK / ARTIKEL / Catatan Redaksi / Menelusuri Lorong Gelap Arisan Brondong (1)

Menelusuri Lorong Gelap Arisan Brondong (1)

Berawal dari pertemuan diantara kami yang tak sengaja. Sebuah hobi kendaraan jadul yang sama-sama digemarilah, kami dekat. Meski awalnya pertemuan itu sebatas obrolan santai seputar kendaraan, membuat kami lebih akrab dan terus dekat hingga berani bertukar pikiran satu sama lain. Yang mengejutkan dan terharu ketika dirinya menceritakan tentang kehidupan yang dialami sejak beberapa tahun lalu yang menjadi pemuas para tante kesepian.

Sebut saja Endang (25), salah satu warga perbatasan Kota Sukabumi. Namun nasib membawanya terjun ke dunia gelap nan kelam melayani beberapa Tante Girang (TG) sejak enam tahun silam yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Meski hal itu bukan disengaja dengan menjadi pelayan para TG di tengah gelamornya malam Kota mochi, tetapi dirinya berharap pengalaman tersebut tidak dialami orang lain.
Bermodal ketampanan berbalut penampilan menarik, dirinya terjerumus ke dalam dunia kelam yang tak terpikirkan sebelumnya.  Dengan lantang, ia menceritakan kisah yang dialaminya itu kepada Radar Sukabumi.

Meski awalnya kaku, tapi dirinya punya keyakinan dengan telah diceritakannya kisah tersebut bisa mencegah hal yang sama menimpa generasi penerus.

Pada 2007 silam, saat ia duduk di kelas XII salah satu SMA negeri Kota Sukabumi berkenalan dengan salah seorang pekerja salon kecantikan Michel (Bukan nama sebenarnya,red). Seiring berjalannya waktu, ia pun sering mendatangi salon tersebut hingga menginap dengan rekannya yang ingin ditemani.

Singkat cerita pada tahun itu juga berkenalanlah dengan salah satu pelanggan salon Mbak Mirna (45) (Bukan nama sebenarnya,red).
Mulanya perkenalan itu hanya sebatas komunikasi biasa saja. Sebab, ia belum terbiasa ngobrol dengan wanita lebih tua. Sambil menunggu giliran keramas di salon itu, Mbak Mirna sering mengajaknya untuk mengobrol hingga akhirnya keakrabanpun terjadi.

Sekitar 2008, Mbak Mirna makin dekat dengannya. Saking dekatnya, ia pun sering diajak wanita tersebut makan di luar.  Maklum saja waktu itu kondisi perekonomian serba terbatas. Perjalanan keduanya terus berlanjut, hingga satu tahun lamanya, Saking seringnya bertemu, kepribadian wanita itupun ketahuan yang ternyata kesepian karena ditinggal suami yang bekerja di luar kota.
Keduanya sempat tidak berkomunikasi, hingga pada pertengahan 2009 lalu wanita itu kembali menghubunginya. Namun pada pertemuan sekarang, Mbak Mirna mengajaknya ke luar salon lantaran jarangnya berkunjung ke salon.

Cerita petaka mulai berjalan, malam Minggu itu Mbak Mirna mengajaknya bertemu di salah satu tempat makan yang ada di jantung Kota Sukabumi. Awalnya pertemuan yang dilakukan mereka laiknya anak dan ibu. Tapi, keadaan pecah setelah datang teman Mbak Mirna menghampiri meja makan yang dipesannya.
Saat itu juga, dirinya sudah merasa aneh dengan gelagat teman-teman Mbak Mirna yang tak biasa menatap Endang. Maklum saja waktu itu dirinya berpenampilan menarik seperti kebanyakan pemuda sepantarannya. Takut mengecewakan Mbak Mirna, Endang mencoba bertahan dan mencair dengan suasana waktu itu.

Pertemuan tersebut hanya sebatas makan saja, dan pertemuan malam Minggu selanjutnya kembali dilakukan. Meski sempat ditolak, namun pada akhirnya ia tak mampu juga. Seiring banyaknya pengorbanan yang diberikan kepadanya, baik berupa finansial maupun jasa.

Tak pernah ku duga, ternyata Mbak Mirna dan teman-temanya merupakan kumpulan wanita kesepian (Tante-tante, red) yang kebanyakan ditinggalkan suaminya berbisnis di luar kota. Meski Endang ini sempat menghindar, lagi-lagi Mbak Mirna selalu memanjakan dirinya dengan barang-barang yang pada waktu itu memang tak mampu ia beli.

Entah apa yang terjadi, Endang pun gelap mata dan hilap akan dosa. Di dalam pikirannya yang terbesit hanyalah dunia semata, tak memikirkan masa depannya yang kelam.
Kegelisahan mulai terasa, saat dirinya mulai disukai teman-teman Mbak Mirna. Hampir setiap pertemuan, ia selalu dilibatkan oleh Mbak Mirna dan bahkan bersifat wajib.  Entah apa yang ada di benak mereka yang membuatnya selalu hadir dalam sebuah perkumpulan arisan itu. Tibalah pada saat Mbak Mirna memintanya untuk berdandan laiknya seorang pemuda yang akan bertemu dengan pasangannya.

Walaupun sebatas menuruti apa yang diminta wanita dan komunitasnya itu. Pasca tiba di lokasi yang ditentukan, ia pun disuruh duduk diantara para wanita. Setelah beberapa waktu lamanya, salah satu teman Mbak Mirna mendekatinya sambil berbisik minta nomor handphone (hp).

Pertemuan akhirnya berujung di salah satu tempat karaoke, lagi-lagi dirinya tak mampu menolak ajakan dengan alasan balas budi.
“Saya sih orangnya gak berani nolak pada saat itu, orang sudah banyak jasanya!,”ujarnya dengan pandangan kosong.
Setelah sering mengikuti arisan, membuat teman-teman Mbak Mirna tak canggung lagi dengan Endang. Malahan salah seorang temannya berani berkata kotor dan jorok.

Tibalah pada sebuah tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Saat itu Endang mengaku diundang Mbak Mirna untuk datang ke rumahnya dengan alasan bantu beres – beres rumah. Usai beres – beres, sore harinya turun hujan dan membuatnya kebingungan pulang.
Awalnya Endang hanya berdiam menunggu hujan reda. Tiba – tiba Mbak Mirna menghampirinya dengan berpakaian serba seksi.
Anehnya Mbak Mirna seperti disengaja, terlihat berlaga erotis dengan pura-pura menggaruk pahanya yang gatal. Tangannya mulai nakal meremas apa saja di tubuh Endang, hingga naluri kelakiannya tergerak.
Entah setan mana yang merasukinya, awalnya mencoba melawan dengan menyadarkan Mbak Mirna. Namun tak bisa ditebak, terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Peristiwa itu ternyata tidak membuat Mab Mirna kapok, sebaliknya malah makin liar.

Lambat laun dirinya mulai terbiasa dengan cekakak – cekikik para tante. Sejak itu, Endang pun mulai jadi ‘Piala bergilir’ di antara lingkaran tante-tante. Sudah tak ada lagi pikiran positif. Ia pun terjebak pada nafsu, nafsu, dan nafsu setiap hari.
Saking ingin keluar dari dunia kelam yang menderanya, Endang tak menghiraukan jika ada orang mengutuknya, menganggapnya bodoh, lemah dan tidak berguna. Tapi memang itulah yang diakui Endang.

“Ya, bolehlah semua orang merutukku, menganggapku bodoh,lemah, tidak berguna. Tapi memang itulah aku, aku sendiri tak tahu. Sepertinya aku tak punya kekuatan untuk lepas dari semuanya, namun untuk sekarang saya coba melepaskan kehidupan  itu,”jelasnya.
Meski sungguh, dirinya sama sekali tak bangga atas dirinya, apalagi menikmati kehidupan yang dijalaninya selama ini.
Apalah bangga Endang sebagai lelaki, jika harus menadahkan tangan untuk mengais lembaran rupiah setiap kali harus bersimbah peluh melayani birahi mereka.

“Aku ingin kehidupan normal, aku ingin punya istri, memiliki orang yang mencintai dan kucintai, melayaninya dengan sepenuh hati. Ingin memberikan cinta, ingin membahagiakannya ..ingin … ingin … dan sejuta keinginan lain yang sepertinya semakin jauh dari kenyataan, “harapnya.(hnd/t)

loading...

About admin

x

Check Also

Saatnya Berlari !!!

KABUPATEN Sukabumi sudah saatnya harus menjadi tua-tua keladi. Menjadi sepuh yang memiliki ...